peta retak

Peta Yang Retak #5

Dan waktu menjadi tak berasa. Kekosongan memba­wa diri terasing di pulau jiwa. Tidak kenal diri. Kadang sering ia sombong dengan jejak yang pernah dibuat. Padahal semakin banyak bepergian, semakin banyak perjalanan, semakin banyak tempat dikenali, semakin sadar, betapa sedikit semesta yang telah dicapai. Lebih menyedihkan lagi, tempat paling asing, tempat paling tidak ia kenali begitu […]

peta retak

Peta Yang Retak #4

Yogyakarta, Desember, 1986.   Namanya Tio. Ninditio Raharjo. Tidak ada yang tahu apa arti nama itu kecuali bapaknya, lelaki yang membaptiskan keinginan lewat nama itu sendiri. Dan ia tidak pernah menan­yakan. Yang ia tahu, nama itu ditempelkan di punggung begitu ia lahir, seperti stempel dihantamkan di atas kertas putih, yang kemudian tinta-tintanya menjadi beban kemanusian […]

ingatan

Ingatan itu Menyakitkan, Sayang.

Ingatan itu menyakitkan. Pada sore yang tiris aku mendengar ungkapan itu meleleh dari bibirmu yang tipis. Suaramu rapuh serupa daun yang kehilangan pegangan pada ranting pohon. Ruangan seketika lindap. Matahari sore menunduk dalam hening. Air matamu luruh dalam isak tertahan, membentuk sungai kecil keperakan di pipimu yang kuning langsat. Aku terdiam, kata-kata lesap dari bibirku. […]

menulis kkesehatan

Menulis dan Kesehatan

Mari menjaga kesehatan dengan menulis. Jangan tertawa. Anda mungkin menganggap aku sinting. Tak apa. Bukan hanya anda yang berpikiran seperti itu. Banyak orang sinting di dunia ini, jadi aku tidak sendiri. Apalagi setelah pemilu seperti sekarang, pasti akan semakin banyak orang sinting. Sebab itu aku selalu berdoa, semoga setiap lima tahun, setiap usai pesta demokrasi, […]

peta retak

Peta Yang Retak #3

Sukri datang lagi. Tidak jenuh juga dia membujuk Maisaroh pergi ke Malaysia. Tentu saja tidak di rumah. Dia mengambil kesempatam ketika Maisaroh sedang keluar rumah. Itu membuat Maisaroh bimbang. Mimpi yang hampir terpegang. Jalan telah terbuka. Gapura masa depan terbentang terang. Apalagi Sukri meyakinkan dengan gamblang.   “Tanpa sepeser duit, aku bisa mengantarmu ke Malaysia, […]

peta retak

Peta Yang Retak #2

Maisaroh mencari-cari di kilap pepucuk daun yang barusan disepuh hujan. Tidak juga ada. Sejuk udara basah menggenang. Dan ia menemukan setangkup wajahnya pada mangkuk air. Jemarinya menyusur raut muka. Belum lagi tercetak garis. Tapi sebentar lagi pasti ada. Gurat-gurat ketuaan tidak menunggu berlalunya usia. Dia bisa begitu cepat ada karena dera beban batin yang tidak […]

peta retak

Peta Yang Retak #1

Dia sipir ketiga puluh yang meniduriku. Seperti sebuah industri pengecoran logam. Baja-baja cair dipanaskan ribuan derajat celcius, dalam perut, kemu­dian dipompakan lewat selinder menuju tabung-tabung cetakan, menuju rahim. Cepat. Sangat cepat. Bahkan cenderung tergesa. Dan selesai dalam hitungan detik. Dia menepuk kepalaku, melangkah keluar. Aku adalah sepotong kayu yang dibabat dari rawa-rawa hidup. Diangkut ke […]