peta retak

Peta yang Retak #9

“Lim, mata dah bergerak-gerak. Dia siuman. Fatimah siu­man,” Datuk Yusuf berseru girang. Salim tergopoh-gopoh mendekat dan memandang takjub pada sosok yang tergolek di atas tempat tidur. Baru saja dokter yang merawatnya pergi, dia sudah terbangun. Dokter mengata­kan, kalau selama satu minggu belum juga sadar, dia harus dibawa ke hospital untuk perawatan lebih intensif. Selama ini […]

peta retak

Peta Yang Retak #7

Pupus. Putus tanpa persemaian. Mimpi telah usai. O, betapa giris kenyataan ini. Di dalam truk terbuka yang membawanya, Maisaroh tengadah. Bebintang beterbangan di sela pekat dedaunan. Meloncat-loncat menjauh, semakin menjauh. …. Sudah selesai, Mak. Selesai. Tanpa sisa. Angin memainkan anak rambutnya, menempel dingin pada pori-pori kulit. Mereka saling merapat mengurangi gigil. Perempuan itu menoleh, dalam keredupan […]

peta retak

Peta Yang Retak #6

Turun dari bus, cuping hidung Maisaroh mengembang lebar. Ia menarik udara sedalam-dalamnya, mencoba menghisap bau tanah harapan. Dari sini katanya sudah sedemikian dekat.  Kenapa tidak tercium bau laut? Debur jantungnya mengencang menghebat. Pada saatnya setiap orang akan menggenggam mimpinya, seperti aku. Meski kenyataan jauh berbeda dengan mimpi. Tapi aku  sedang membalurnya dengan warna-warna kesukaan. Ia melangkah […]