peta retak

Peta yang Retak #9

“Lim, mata dah bergerak-gerak. Dia siuman. Fatimah siu­man,” Datuk Yusuf berseru girang. Salim tergopoh-gopoh mendekat dan memandang takjub pada sosok yang tergolek di atas tempat tidur. Baru saja dokter yang merawatnya pergi, dia sudah terbangun. Dokter mengata­kan, kalau selama satu minggu belum juga sadar, dia harus dibawa ke hospital untuk perawatan lebih intensif. Selama ini […]

perempuan

Perempuan Di Sebuah Sudut

“Pas bedah buku kemarin aku bilang, ada temen yang memotivasi aku buat berhenti hidup dengan kemarahan. Berkesan banget. Aku lagi terus berusaha juga untuk berjalan dengan iklas,” kalimatnya mengalir lancar di papan monitor. Aku bisa menangkap nada riang dari intonasi yang diwakili huruf-huruf yang berdesakan muncul itu. “Aku dapat pertanyaan tentang keluargaku. Kuceritakan semua. Aku […]

peta retak

Peta Yang Retak #8

Dalam perjalanan Maisaroh menyatakan keinginannya untuk mencari pekerjaan pada sopir truk. Sopir menyanggupi mencarikan kerja. Ia tidak begitu saja mempercayai perkataan itu. Sopir cuma tersenyum. Ada banyak perempuan seusia dirinya kerja di sana, katanya menerangkan. “Apa nama pekerjaan itu?” Setelah berpikir sejenak, sopir menjawab, “Tidak ada namanya.” Tidak ada namanya? Apakah ada kerja tak bernama? […]

peta retak

Peta Yang Retak #7

Pupus. Putus tanpa persemaian. Mimpi telah usai. O, betapa giris kenyataan ini. Di dalam truk terbuka yang membawanya, Maisaroh tengadah. Bebintang beterbangan di sela pekat dedaunan. Meloncat-loncat menjauh, semakin menjauh. …. Sudah selesai, Mak. Selesai. Tanpa sisa. Angin memainkan anak rambutnya, menempel dingin pada pori-pori kulit. Mereka saling merapat mengurangi gigil. Perempuan itu menoleh, dalam keredupan […]

peta retak

Peta Yang Retak #6

Turun dari bus, cuping hidung Maisaroh mengembang lebar. Ia menarik udara sedalam-dalamnya, mencoba menghisap bau tanah harapan. Dari sini katanya sudah sedemikian dekat.  Kenapa tidak tercium bau laut? Debur jantungnya mengencang menghebat. Pada saatnya setiap orang akan menggenggam mimpinya, seperti aku. Meski kenyataan jauh berbeda dengan mimpi. Tapi aku  sedang membalurnya dengan warna-warna kesukaan. Ia melangkah […]

peta retak

Peta Yang Retak #5

Dan waktu menjadi tak berasa. Kekosongan memba­wa diri terasing di pulau jiwa. Tidak kenal diri. Kadang sering ia sombong dengan jejak yang pernah dibuat. Padahal semakin banyak bepergian, semakin banyak perjalanan, semakin banyak tempat dikenali, semakin sadar, betapa sedikit semesta yang telah dicapai. Lebih menyedihkan lagi, tempat paling asing, tempat paling tidak ia kenali begitu […]

peta retak

Peta Yang Retak #4

Yogyakarta, Desember, 1986.   Namanya Tio. Ninditio Raharjo. Tidak ada yang tahu apa arti nama itu kecuali bapaknya, lelaki yang membaptiskan keinginan lewat nama itu sendiri. Dan ia tidak pernah menan­yakan. Yang ia tahu, nama itu ditempelkan di punggung begitu ia lahir, seperti stempel dihantamkan di atas kertas putih, yang kemudian tinta-tintanya menjadi beban kemanusian […]

ingatan

Ingatan itu Menyakitkan, Sayang.

Ingatan itu menyakitkan. Pada sore yang tiris aku mendengar ungkapan itu meleleh dari bibirmu yang tipis. Suaramu rapuh serupa daun yang kehilangan pegangan pada ranting pohon. Ruangan seketika lindap. Matahari sore menunduk dalam hening. Air matamu luruh dalam isak tertahan, membentuk sungai kecil keperakan di pipimu yang kuning langsat. Aku terdiam, kata-kata lesap dari bibirku. […]

menulis kkesehatan

Menulis dan Kesehatan

Mari menjaga kesehatan dengan menulis. Jangan tertawa. Anda mungkin menganggap aku sinting. Tak apa. Bukan hanya anda yang berpikiran seperti itu. Banyak orang sinting di dunia ini, jadi aku tidak sendiri. Apalagi setelah pemilu seperti sekarang, pasti akan semakin banyak orang sinting. Sebab itu aku selalu berdoa, semoga setiap lima tahun, setiap usai pesta demokrasi, […]

peta retak

Peta Yang Retak #3

Sukri datang lagi. Tidak jenuh juga dia membujuk Maisaroh pergi ke Malaysia. Tentu saja tidak di rumah. Dia mengambil kesempatam ketika Maisaroh sedang keluar rumah. Itu membuat Maisaroh bimbang. Mimpi yang hampir terpegang. Jalan telah terbuka. Gapura masa depan terbentang terang. Apalagi Sukri meyakinkan dengan gamblang.   “Tanpa sepeser duit, aku bisa mengantarmu ke Malaysia, […]