ingatan

Ingatan itu Menyakitkan, Sayang.

Ingatan itu menyakitkan.

Pada sore yang tiris aku mendengar ungkapan itu meleleh dari bibirmu yang tipis. Suaramu rapuh serupa daun yang kehilangan pegangan pada ranting pohon. Ruangan seketika lindap. Matahari sore menunduk dalam hening. Air matamu luruh dalam isak tertahan, membentuk sungai kecil keperakan di pipimu yang kuning langsat. Aku terdiam, kata-kata lesap dari bibirku. Kalimat pendek itu seperti telah menghisap seluruh semesta kata-kata di dunia.

 

Ingatan itu menyakitkan, ingatan itu melukaiku.

Perempuan bermata telaga itu mengulanginya dengan bahu mulai terguncang. Aku menyentuh lengannya. Semoga kalau aku masih punya kekuatan bisa menggalirkan energy padanya. Tidak banyak membantu mungkin. Tapi setidaknya dia tahu bahwa dia tidak sendiri. Ada orang yang menemaninya. Seperti dam yang tidak kuat menahan tekanan air, dam itu jebol. Luka dengan kekuatan menghancurkan melabrak semuanya. Lantai rumah penuh genangan luka. Penuh genangan kesakitan.

 

Aku tercengang dan terhempas pada sakit yang luar biasa betapa hidup telah menderanya sedekian keras. Lelaki itu seperti datang ke pengecoran logam. Lelaki itu menitipkan timah panas dalam rahim kemudian pergi begitu saja. Setiap kali dia menginginkan, dia terus menerus melakukan pengecoran logam. Bangsat benar lelaki itu. Aku ingin membunuhnya dalam satu tarikan napas, memotong seluruh tubuhnya menjadi kecil-kecil dan kujadikan makanan ikan.

 

Kau menangis? Bukankah laki-laki tidak boleh menangis?

 

Aku kaget mendengar ucapannya. Kuraba pipiku. Basah. Apakah ada undang-undang yang melarang seorang lelaki menangis? Aku juga belum pernah membaca ada hadist lelaki tidak boleh menangis karena memperlihatkan kelemahan hati, tanyaku mencoba tersenyum. Aku tidak bisa menyembunyikan duka yang kurasakan. Hati adalah kejujuran. Tidak sepantasnya orang menyembunyikan kejujuran. Mungkin karena simpati dengan kisah tragis hidupnya, lebih dari itu kekerasan dalam bentuk apa pun menurutku tidak bisa dibenarkan.

 

Kau begitu kuat? Aku menggagumi ketegarannya yang luar biasa. Perempuan bermata telaga di depanku tampak begitu ringkih dan rapuh, tapi menyimpan kekuatan maha dahyat. Dia mempunyai kekuatan bertahan yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun. Hatinya lebih keras dari baja yang terkeras sekali pun.

 

Aku akan buktikan pada lelaki yang telah menistakan aku, aku jauh lebih baik dari mereka. Aku jauh lebih kuat dari anggapan mereka selama ini. Kelak, mereka harus tahu aku bisa jauh lebih besar dari mereka, ucapnya seraya meniriskan air mata.

 

Aku melihat bara di telaga matanya. Bara itu berlahan-lahan menjadi titik api yang merambat ke mana-mana. Ruangan yang penuh luka itu pelan-pelan menghangat.

 

Maukah kau menuliskannya? tanyaku

 

Menuliskan luka? Mata telaganya menatapku

 

Aku mengangguk, menuliskan luka.

 

Untuk apa?

 

Agar apa yang terjadi padamu tidak terjadi pada perempuan lain.

 

Dia diam. Aku juga diam. Sepi mengambang. Ada jutaan perempuan diluar saja yang pernah mengalami peristiwa menyedihkan seperti itu. Beberapa tahun lalu perempuan bermata telaga di depanku, mungkin besok anda, adik perempuan anda, tetangga anda, dan entah siapa lagi. Dan selama ini mereka terkurung dalam sepi. Bisu tidak bersuara. Ada banyak ketakutan yang mencengkeram mereka, ada terlalu banyak kesedihan dan luka yang membuat mereka memilih tidak bersuara, dan ada banyak kekuatan yang membuat mereka berdiam dalam sepi. Menurutku, saatnya mereka harus bersuara sekarang. Saatnya melawan ketakutan dan merebut kembali martabat mereka sebagai perempuan yang utuh. Bukankah cara menyembuhkan luka yang paling gampang adalah menghadapi luka itu sendiri? Sesakit apa pun, seberdarah apa pun luka tetap luka dan dia harus dihadapi. Jangan biarkan luka membusuk dan merenggut bagian lain dari diri kita.

 

Perempuan bermata telaga itu menatapku lama seperti mencari keyakinan dalam diriku. Dia kemudian meraih android yang tergeletak di depannya dan menelpon. Aku diam saja. Aku masih merasakan sisa kesedihan dan sesak di dalam dadaku. Sepi menggenangi hati kami masing-masing. Perempuan bermata telaga mengambil tisu dan mengusap kembali air mata.

 

Bertahun-tahun aku menyimpan cerita ini. Bahkan hanya untuk mengingatnya saja, aku tidak berani melakukan. Peristiwa itu sangat menyakitkan.

 

Aku tahu itu.

 

Perempuan bermata telaga kembali terisak.

 

Lima belas menit kemudian seorang perempuan dengan kacamata bergagang perak masuk ke ruangan. Perempuan bermata telaga memperkenalkan aku padanya. Aku melihat luka dan kesedihan di dalam matanya. Kesedihan yang telah menahun. Aku mengulurkan tangan menyambutnya, welcome to the club.