menulis kkesehatan

Menulis dan Kesehatan

Mari menjaga kesehatan dengan menulis.

Jangan tertawa. Anda mungkin menganggap aku sinting. Tak apa. Bukan hanya anda yang berpikiran seperti itu. Banyak orang sinting di dunia ini, jadi aku tidak sendiri. Apalagi setelah pemilu seperti sekarang, pasti akan semakin banyak orang sinting. Sebab itu aku selalu berdoa, semoga setiap lima tahun, setiap usai pesta demokrasi, rumah sakit jiwa tidak penuh. Pasien tidak meluber sampai halaman dan berteduh di bawah pohon mangga yang sudah lelah berbuah. Sebab mereka merampas jatahku untuk menikmati bangsal yang teduh dengan lalu lalang perawat yang acuh dan kadang suka menghardik tanpa alasan jelas.

 

Tipis sekali beda antara sinting dan waras, seperti juga beda sehat dan sakit. Sangat tipis. Tidak perlu kaget kalau orang-orang terdekat anda yang kelihatan sehat dan baik-baik saja, tiba-tiba besok masuk unit gawat darurat. Maaf, aku tidak sedang berdoa untuk itu. Tapi anda, kalian, mereka, dan aku sebenarnya tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok pagi. Hanya Tuhan yang tahu, itu pun kalau anda mempercayai Tuhan. Tidak percaya juga tidak apa-apa. Sebab Tuhan baik hati. Tuhan tidak lantas marah-marah karena ada manusia yang tidak mempercayainya. Jadi tenang saja.

 

Tidak perlu kaget juga kalau kekasih anda, sahabat anda, saudara dan orang terdekat anda yang semula anda anggap normal. Tiba-tiba tertawa dan berbicara sendiri. Di kampungku dulu, jika ada orang yang berbicara sendiri saat sedang duduk atau berjalan pasti dianggap sinting. Gila. Coba sekarang buka kaca jendela rumah anda, perhatikan orang-orang yang sedang meniti trotoar atau sedang mengendari motor atau mobil. Perhatikan baik-baik. Anda akan menemukan banyak orang tertawa dan bicara sendiri di jalan. Kalau anda belum yakin, pergilah ke ruang tunggu bandara atau ke stasiun, anda akan menemukan lebih banyak orang berbicara sendiri daripada bicara dengan orang disampingnya. Apakah aku, anda, kalian, dan mereka sedang sakit hari ini?

 

Masih basah dalam ingatanku saat pergi ke Aceh tahun 2008. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang konsen melakukan pendampingan ekonomi bagi ibu-ibu kepala keluarga membawaku menginjakkan kaki di Serambi Mekah untuk memfasilitasi pelatihan menulis. Di sepotong siang yang terik ditemani oleh kopi Aceh yang sedap, aku melihat tawa ibu-ibu itu tidak bersuara. Tawa yang bisu. Apakah mereka sakit? Secara fisik mereka sehat. Mereka bisa bernyanyi dan beraktivitas seperti biasa. Tidak ada yang kurang dari mereka. Tapi aku melihat luka di palung terdalam mata mereka. Aku melihat luka. Semacam kesedihan yang sudah menahun dan berkarat digerogoti musim.

 

Mungkin anda pernah mendengar tentang Aceh, aku juga mendengarnya dari media-media yang pernah kubaca atau dari bisik-bisik teman yang pernah datang ke wilayah yang selama bertahun-tahun tak pernah sepi dari persoalan. Kekerasan bersenjata hampir kudengar setiap hari. Hanya itu yang kudengar, tak lebih. Sedikit sekali informasi tentang Aceh. Aceh seperti disembunyikan dari ketiak peradapan dan sengaja ditutup  rapat agar selalu diselimuti misteri. Aceh seperti rawa-rawa basah yang dilingkari baja tahan peluru dimana orang terkuat membantai yang lemah dan renta.

 

Ketika aku berhadapan dengan ibu-ibu dan melonggok ke palung terdalam mata mereka, baru kusadari, Aceh tidak sekedar ruang tertutup dengan desing peluru di dalamnya. Aceh tidak seperti berita-berita yang kudengar dari kotak televisi. Aceh adalah luka.

 

Pada awalnya mereka menolak sesi bercerita. Sesi bercerita adalah sesi pertama dari rangkaian pelatihan menulis. Mungkin karena terlalu banyak luka dan beban yang sudah ditanggung selama bertahun-tahun dan mereka takut sesuatu yang buruk terjadi meski perjanjian damai telah disepakati. Trauma menjadi hantu menakutkan buat mereka. Ibu-ibu peserta pelatihan datang dari tiga kelompok yang berbeda: pertama, kelompok yang dirugikan oleh tentara; kedua, kelompok yang dirugikan oleh GAM; dan ketiga, kelompok yang dirugikan keduanya. Tidak mudah memang mengajari ibu-ibu yang kebanyakan hanya berpendidikan sekolah dasar untuk menulis. Banyak ketakutan bersembunyi di mata mereka. Takut salah menulis, takut tulisannya jelek, tapi ketakutan terbesar mereka adalah kondisi politik yang selama ini menindas.

 

Meski tidak yakin aku katakan, aku menjamin keselamatan mereka dan cara paling mudah untuk menyembuhkan luka adalah menghadapi luka itu sendiri. Jangan tinggalkan luka karena akan membusuk dan menggerogoti bagian lain dari tubuh kita. Ketika akhirnya mereka bersedia berbagi cerita. Lantai digenangi air mata, digenangi luka, digenangi duka. Persoalan yang selama bertahun-tahun dipendam dalam hati jebol seperti bendungan tua yang tidak sanggup menahan tekanan air.

 

Saat sesi penulisan, ada banyak hal mengejutkan terjadi yang sama sekali tidak mereka duga. Peristiwa yang mengguratkan luka yang sudah mereka lupakan dengan sangat dan tidak mereka katakan dalam sesi bercerita, meluncur deras seperti banjir lewat ujung tinta. Seluruh kertas dalam ruangan itu basah oleh kenangan menyakitkan. Kenangan berkelindan muncul tanpa bisa dicegah. Keajaiban kata-kata telah bekerja mengatasi semua kenangan menyakitkan. Di akhir pelatihan menulis, aku melihat mereka tersenyum dan tawa mereka tidak lagi bisu. Tawa mereka berisi harapan untuk menatap dunia yang lebih baik.

 

Aku jadi teringat kata-kata James W. Pennebaker, seorang psikolog dari University of Texas di Austin, AmerikaSerikat, “Orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dari mereka yang tidak punya kebiasaan tersebut. Pikiran yang sehat tentunya akan memberi kekuatan positif pada tubuh kita. Dengan memahami ini, maka menulis bisa menjadi kekuatan dan sebuah tulisan bisa menjadi kekuatan bagi penulis bahkan pembacanya.”

 

Saat aku pulang ke Jogja, dari jendela pesawat aku melihat bentangan perbukitan hijau yang indah, aku bertanya pada diri sendiri, masih waraskah aku atau sudah sinting? Aku tersenyum. Ya, aku tersenyum sendiri.