perempuan

Perempuan Di Sebuah Sudut

Pas bedah buku kemarin aku bilang, ada temen yang memotivasi aku buat berhenti hidup dengan kemarahan. Berkesan banget. Aku lagi terus berusaha juga untuk berjalan dengan iklas,” kalimatnya mengalir lancar di papan monitor. Aku bisa menangkap nada riang dari intonasi yang diwakili huruf-huruf yang berdesakan muncul itu. “Aku dapat pertanyaan tentang keluargaku. Kuceritakan semua. Aku sudah dengan merdeka bercerita. Kata Kak Maria, aku sudah kelihatan merdeka dengan persoalan itu. Aku mulai bisa menerima laki-laki yang akan bisa menjadi pasangan hidupku nanti,” laniutnya. Dalam imajiku suaranya yang sedikit serak berbaur dengan semangat yang meletup-lerup dengan cepat.

Membaca kalimat-kalimatnya, aku seperti dihempaskan pada padang bunga. Harum rumput kering, kestruri, kenanga, berbaur dengan sinar matahari khatulistiwa dan mendekapku dalam hangat. Maaf, aku sedang bahagia hari ini. Apakah anda juga sedang berbahagia? Kadang mungkin anda, teman, saudara, pacar anda atau siapa pun tiba-tiba tertawa tanpa tahu sebabnya atau di saat lain mereka tiba-tiba menangis tanpa tahu sebabnya, tapi apakah mereka bahagia? Menurutku bahagia bukan seperti itu, bahagia adalah sejenis makhluk dimana setiap kemunculannya anda pahami sebabnya dan membuat kejernihan hati bergetar dan gemetar. Karena itu dia bisa lebih dari sekedar rasa senang, dari sekedar senyum, atau moment dimana anda tiba-tiba memejamkan mata dengan air mata menitik dan mengucap syukur pada Tuhan. Bahagia tidak hanya seperti itu menurutku, tapi entah menurut anda. Setiap orang boleh punya ukuran berbeda untuk kebahagiaan dan itu sah-sah saja.

Bagiku setiap pembebasan dari rasa takut, dari kebencian, dan kemarahan walau pun terjadi pada satu orang saja, adalah pembebasan kemanusiaan yang layak dirayakan. Tidak setiap hari aku, mungkin juga anda, bisa melihat teman, sahabat, orang terdekat, pacar menggalami pembebasan dari rasa takut, benci, dan marah. Untuk semua itu dibutuhkan keberanian menghadapi hidup dan rasa iklas. Sebenar-benarnya iklas. Baru kemudian bisa menjalani hidup dengan cinta kasih. Menjalani hidup dengan mencintai dan mengasihi sesama manusia. Mencintai dan mengasihi yang hidup dan yang mati. Jadi apakah anda bahagia hari ini? Apakah anda sudah mencintai dan mengasihi sesama manusia?

Aku merayakan pembebasan dari rasa takut, dari kebencian, dan kemarahan. Aku merayakan kemanusiaan yang kembali pada hakekat terdalam. Aku memang tidak terlalu menggenal perempuan dalam balutan saga itu. Tapi apakah itu penting? Yang aku tahu apa yang dialami dalam keluarganya mewakili jutaan perempuan yang mengalami ketidakadilan. Jutaan perempuan yang begitu tabah menerima dera hidup lewat mahluk bernama laki-laki dan memilih tetap diam tak bersuara.

Aku menemukan perempuan dalam balutan saga di sebuah sudut. Dia menyepi menghindari hiruk pikuk ruang pertemuan yang sesak. Aku paham sepi adalah sebuah pilihan. Dari 14 feminis perempuan yang hadir berbagai wilayah Indonesia dalam rangka pelatihan penulisan dan media, dia memilih meninggalkan ruang pada sesi menulis, dan memilih sebuah sudut musholah.

Dengan menahan isak yang seperti mau menjebol dada, dia menatatapku nanar. Sisa air mata belum lagi kering dari pipinya. Siang memberat di wisma cukup mewah di selatan Jakarta itu.  Aku pikir musholah di sebuah wisma atau tulisan arah kiblat di sebuah kamar hotel berbintang lima merupakan artifisial yang tidak penting. Tuhan tidak penting di tempat-tempat seperti itu. Tuhan tidak diingat pada setiap persinggahan dimana tubuh menyimpan dera letih amat sangat. Tuhan juga muskil diingat dalam gelombang kesenangan tak tertahankan. Tapi tidak apa. Setidaknya pembangunan musholah tersebut memberikan lapangan kerja menguntungkan banyak orang. Selain itu, di Negara dengan populasi penduduk muslim terbesar yang gila hormat ini, hal-hal yang berbau artifisial penting. Setidaknya penting untuk menghalau rasa takut dari mayoritas yang pemarah dan beringas itu.

Aku mengambil duduk di sampingnya. Bola matanya penuh api kemarahan. Lelaki yang mengkianati mama itu papa….papaku sendiri, katanya dengan bibir gemetar. Kemudian mengalirlah cerita tentang luka dari bibirnya. Cerita tentang kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab yang kemudian menyebabkan perempuan, mamanya, harus menanggung beban ganda. Petaka tersebut semakin bertambah berat saat lelaki yang dia panggil papa tersebut diam-diam menikah lagi tanpa sepengetahuan mamanya. Dunia seperti runtuh saat itu juga. Perempuan dalam balutan saga itu mengakhiri cerita sembari meniriskan air mata di pipinya. Kebencian berlahan-lahan menjadi kerak yang mengotori hati dan kemarahan adalah rahim dari segala dendam yang berbahaya bagi kesehatan hati.

Setelah menyelesaikan tangisnya dan menarik napas panjang sepenuh dada, dia menatapku. Ada sedikit kelegaan di matanya, beban dalam dadanya pasti sedikit berkurang setelah upaya sekuat hati menceritakan luka yang menahun. Serupa besi berkarat yang melingkar pergelangan kaki, luka menahun itu membebani dan membuat langkahnya demikian berat untuk berjalan.

“Kamu kuat sekali menahan beban kebencian dan kemarahan itu selama bertahun-tahun,” aku mengagumi daya tahannya yang luar biasa. Aku meyakini bahwa perempuan yang terlihat lemah, letih, ringkih, dan tidak punya daya hidup itu punya daya tahan di luar batas-batas yang pernah aku pahami. Perempuan di balik kerentaannya sesungguhnya punya kekuatan yang dahsyat. Anda boleh tidak sepakat dengan ini. Itu hak anda. Tapi itu sama sekali tidak mengubah keyakinanku terhadap terhadap perempuan dalam balutan saga di sampingku, juga terhadap semua perempuan yang ada di seluruh semesta.

“Tidak ada yang bisa kulakukan selain membenci. Bahkan untuk menuliskannya aku tidak sanggup lagi sekarang.” Dia menatap laptop di depannya yang tidak juga bertambah jumlah halamannya.

“Jangan menjalani hidup dengan kemarahan,” kataku.

Dia menatapku dalam diam.

“Jangan menjalani hidup dengan kemarahan,” ulangku.

“Bagaimana aku tidak marah setiap saat aku melihat perlakuan buruk yang diterima, mama. Bagaimana aku bisa menulisnya kalau hanya untuk mengingatnya saja aku tak sanggup melakukan,” kekerasan hatinya.

“Kau bisa bercerita padaku dengan lancar. Aku yakin kau bisa menulis sebaik kau bercerita padaku,” kataku meyakinkan.

Dia menggeleng, “Aku tidak bisa.”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kecuali kau sendiri yang tidak mau melakukannya” Aku manatapnya dalam. “Dan bagaimana kau akan menyembuhkan luka dalam dirimu, kalau kau mengabaikan luka itu sendiri. Kau mengingkari bahwa kau punya luka menahun.”

Dia terdiam sejenak, lalu tengadah, mengangkat wajah. “Aku akan coba meski itu sangat sakit.” Dia mencoba meyakinkan diri.

“Aku yakin kau bisa melewati semuanya. Aku percaya padamu dan kemampuanmu.”
Ya, meski itu sangat sakit, dia pasti bisa. Aku meninggalkan perempuan dalam balutan saga itu tetap di sebuah sudut. Jika dia berhasil menuliskan dan menumpahkan semua luka itu dalam catatan, aku meyakini, kelak perempuan dalam balutan saga itu akan sangat lantang menyuarakan nyanyi bisu perempuan-perempuan yang selama ini dipasung diam.

 

Satu tahun kemudian, saat dia mengirimkan kabar eletronik yang disertai foto dirinya sedang memegang buku dengan sampul bergambar silhouette perempuan dalam dominasi warna yang biru yang manis. Perempuan dalam balutan saga itu sedang merayakan kebebasan dari rasa takut, benci, dan marah. Sudah selayaknya aku juga merayakan kebebasan kemanusiaan sebab itu aku bahagia hari ini. Aku berharap begitu juga dengan anda. Sebab pembebasan dari rasa takut, benci, dan marah akan mengembalikan kemanusiaan kita dalam bentuk yang murni.