peta retak

Peta Yang Retak #1

Dia sipir ketiga puluh yang meniduriku.

Seperti sebuah industri pengecoran logam. Baja-baja cair dipanaskan ribuan derajat celcius, dalam perut, kemu­dian dipompakan lewat selinder menuju tabung-tabung cetakan, menuju rahim. Cepat. Sangat cepat. Bahkan cenderung tergesa. Dan selesai dalam hitungan detik.
Dia menepuk kepalaku, melangkah keluar.

Aku adalah sepotong kayu yang dibabat dari rawa-rawa hidup. Diangkut ke kota. Dibakar. Tanpa sisa! Dalam abadi gelap, pupil menajam dan kornea membesar dengan lulur air terus-menerus penahan perih mengatasi keremangan. Larit benda-benda atau bayangan—apa bedanya?—Lamat terbaca. Tapi apa yang sempurna dalam gelap? Imajilah yang menggenapkan utuh meski hanya dalam pikiran. Kenyataan jauh berbeda dengan pikiran.
Hari berjalan biasa. Tetap dalam hitungan matematis. Dalam pembagian desimal yang mengerat mulai dari helai rambut sampai ujung kuku. Bayangkan, sehari saja paru-paru waktu di tembok kamar terhenti lelah. Esok pagi pasti terbangun linglung. Kehilangan pegangan, tercerabut dari rutin keseharian. Tapi di sini. Di ranah tergelap hidup, tak ada Senin, Selasa, atau Rabu. Di sini juga tak ada jam, menit, dan detik. Penjara adalah waktu yang dipa­datkan. Penjara adalah wajah semesta yang paling purba. Di sini yang ada cuma lintasan gelap dan terang.
Saat matahari berangkat pulang, di situlah kehidupan berawal. Satu persatu sipir datang memulai kerja pengecoran. Yang tidak tahan, siang-siang sudah menyeretku ke kamar mandi dan melakukan kerja tak sempurna.—Aku tak pernah memakai kutang dan celana dalam karena itu sebuah pemborosan.—Jatah harian di lokap hanya dua potong roti untuk pagi dan dua kali makan, siang dan malam, kecuali kalau mereka sedang berbaik hati dan itu pasti ada maunya. Rokok biasanya aku mencuri dari mereka. Sedikit, tidak jadi soal, lagi pula mana ada dosa di tempat seperti ini.

Tak ada yang benar-benar kuasa atas hidup. Aku pun demikian. Antena terpasang dalam hati. Dan Tuhan, kalau Dia ada, dari jarak ribuan tahun cahaya memonitor kita dan memainkan remote control sesuka hati. Kita adalah kumpulan komponen mekanik yang dibentuk serupa orang-orangan di sawah. Kita adalah yang tidak berhak atas masa depan sendiri. Kita cuma bisa menerima yang kemudian kita namai takdir. Takdir juga yang melemparku ke sini. Meski sebenarnya tak ada bedanya antara di luar dan di sini, kecuali ruang dengan tembok-tembok berbatas. Karena kemana pun gerak tercipta, lingkungan yang melingkari tak jauh-jauh amat.

Di tanah kelahiran orang menyebutku pelacur. Sundal.

Di tanah rantau orang menamaiku hamba sex.

Bagiku itu cuma penamaan. Penanda, agar tidak salah dengan yang lain. Ini kerja. Tidak beda dengan tukang sapu, pejabat kerajaan, sopir, dan lain-lain. Kalau kemudian dipandang salah, itu karena aturan yang sedang berlaku dalam masyarakat saja. Aturan toh bisa berubah. Barangkali saja suatu saat nanti, orang tidak lagi menerima itu sebagai yang salah. Semoga saja. Ya, semoga.

Ada sepotong kenangan yang terus menerus mendedah ingatan. Tentang sebatang pohon dilukai pada hari sewarna pagi. Garit sayat vertikal di langkang, tak jauh dari jemari akar. Aku suka mencium harum baunya saat meninggalkan rumah. Darah putih membasah meleleh. Mengalir serupa cairan birahi. Setiap ujung pahat pacekung ditanam adalah kenikmatan bagi yang lain. Dia ada untuk dilukai. Mereka menamainya kemen­yan. Pohon yang awalnya hanya tumbuh di daratan Sumatera. Setelah selesai, darah beku serupa kristal itu dikirim menyeberang lautan, tentu yang terbaik saja. Yang berwarna coklat kehitaman cuma menghuni ruang persembahan. Mereka ada hanya untuk ekstase manusia.

Aku tidak berbeda dengan pepohonan itu.

Dan hari berjalan seperti biasa lagi. Bedanya cuma tempat, dulu di Belakang Mati, sekarang di lokap. Dulu mereka harus membayar, sekarang tidak ada yang bayar. Gra­tis.

Kemudian, hari berjalan tidak sebagaimana biasa.

Seharian tak ada yang menyentuh. Seperti libur Nasional saja. Seharian santai. Aku menghisap rokok dengan nyaman. Stok yang kukumpulkan sedikit-sedikit kukeluarkan. Kunikmati tiap remah-remah racun yang akan melubangi paru-paru dan mengurangi umur detik demi detik. Timah, besi, senyawa karbon, bahan pembuat bom, dan yang lainnya. Semakin cepat mati semakin baik. Kamatian bukan sesuatu yang mena­kutkan. Toh tak ada bedanya hidup dan mati. Setiap orang terpenjara oleh tembok-tembok tebal, aturan, dan oleh dirin­ya. Dan kematian adalah jalan keluar terbaik. Jalan pembeba­san.

Pintu didorong dari luar, sipir masuk.

“Ada yang perlu awak tolong.” Diraihnya persedian rokok dan membakar ujungnya. Siapa? Aku bangkit dan melangkah terge­sa. Pemandangan yang terhampar membuat dada sesak. Tubuh perempuan tergeletak telanjang.

Pingsan. Gusti…, biadab kalian! “Apa tidak cukup aku dan tubuhku. Dasar binatang!” Telapak tangan menghantam pipi. Sipir terpekik. Kakinya melayang menghantamku. “Jangan banyak cakap, tolong dia!” Berlalu begitu saja.
Kusentuh pipinya, kutepuk berlahan. Sebaskom berisi air dan sobekan kain kugunakan mengelap tubuhnya. Dia belum sadar juga.

Aku seperti pernah mengenal raut wajahnya. Seraut wajah masa lalu. Entah di mana? Begitu banyak wajah. Begitu banyak pertemuan. Dan tidak semua meninggalkan jejak di lantai hati. Hanya orang-orang dekat yang terpahat. Tapi sungguh aku seperti pernah mengakrabi wajahnya di masa lampau. ….ya, ya aku mengingatnya sekarang.
Teluk Nibung, Tanjung Balai, Asahan, di sebuah sore yang hampir selesai.

Maisaroh namanya. Maisaroh.

 

Dua lintasan matahari. Maisaroh belum juga siuman.

Menunggunya bangun seperti menunggu mati. Hari ketiga Maisaroh membuka mata. Dia langsung menangis. Mengerang.

Bukan salahmu. Tidak pernah ada orang yang berharap hidupnya ditimpa kemalangan terus. Awak juga tidak. Semua yang terjadi di luar kuasamu. Mereka memang binatang.

Maisaroh terus terisak.

Makanlah. Sudah dua hari perutmu tidak kemasukan makanan.

Isaknya mengeras. Mendadak dia melemparkan kepala ke dinding. Kusambar tubuhnya. Jangan lakukan itu! Jangan! Maisaroh meronta. Kuketatkan pelukan. Bagaimanapun hidup masih jauh lebih berharga.

Dia terus meraung. Aku menahannya dalam dada, mengusap kepalanya. Tangisnya berlahan mengendur. Semakin lama tersisa cuma isak saja. Satu-satu.

Yang sudah berlalu, biarkan berlalu.

Aku mengambil piring dan menyodorkannya. Makanlah. Awak pasti lapar.

Dilemparnya piring. Dia terisak lagi. Kembali aku meraih kepalanya, memeluk. Takut dia melakukan hal yang bodoh. Tak kuasa kutahan air mata. Menangislah. Aku tahu apa arti dihinakan. Aku juga tahu apa artinya tidak dimanusiakan.

Dia tersedu. Dan tersedu lagi. Suaranya habis. Tetap menangis. Sepanjang hari aku menungguinya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang menyedihkan.

 

Esoknya dia mulai mendiami kesunyian. Memandang tiada. Dinding-dinding lembab tembus tapi tak bisa dijumpai apa-apa. Kosong. Membeku bagai arca batu. Jatah makan yang diberikan sipir penjara tidak disentuh. Sia-sia aku membujuknya untuk makan. Beberapa hari kemudian, dia sudah lemas. Sesekali dia masih mencoba membenturkan kepala pada dinding tapi tak membawa banyak hasil karena lemah tubuh. Seminggu berlalu, dia tak menyisakan apa-apa bagi tubuh, selain gerak kelopak mata.

Kusentuh pipinya. Kuraba matanya yang mulai cekung. Bibirku kuletakkan pada telinga: Awak tak boleh mati, Saroh. Awak harus tetap hidup.

Matanya menembus langit-langit. Seperti matahari yang tengah meredup. Bibir terkatup rapat.

Makanlah. Awak harus makan.

Tak ada reaksi. Menghela napas panjang, kuletakkan piring. Sebatang tubuh ringkih itu masih diam. Lembab dinding sel merambat ke punggung. Sedih melihatnya. Menggaruk kepa­la, kukeluarkan rokok. Kunyalakan. Udara mulai kotor.

Dia tidak boleh mati.

Menurunkan kaki, menghampiri wajah yang membeku batu. Asap rokok kusemburkan ke wajah. Kuhisap lagi, kusemburkan lagi. Dia terbatuk! Aku menyambar cangkir kaleng minum, kutumpahkan ke mulutnya. Tepat. Air meluncur masuk, menyusur tenggorokan, tidak keluar lagi. Mata Maisaroh membulat. Barangkali terse­dak. Aku tak perduli.

Awak tidak boleh mati, Saroh. Awak harus menjadi laut, menjadi ombak.—Aku suka ombak.—Ombak tidak pernah berhenti. Dia kembali ke belakang, tapi bukan untuk menyerah. Dia akan maju lagi. Ombak tidak pernah kalah karena dia tidak pernah menyerah.

Aku menghamburkan asap ke wajahnya lagi. Dia terbatuk. Detik itu juga sesendok nasi meluncur dalam rongga mulut. Tersedak. Batuk-batuk. Muntah. Tenggorokannya pasti panas. Wajahnya memucat. Aku menyodorkan air ke mulut. Satu dua tiga tegukan. Setidaknya ada sesuatu yang mulai masuk dalam tubuh.

Awak harus tetap hidup, Saroh. Bila awak mati, siapa yang akan menemani Emakmu di hari tuanya? Emakmu menunggu di rumah. Dia rindu melihat wajahmu.

Isak pecah tiba-tiba. Pelan dan berlahan. Aku terkesi­ma. Menyusur raut muka yang tidak halus lagi. Dia benar-benar menangis? Maisaroh menangis!

Awak harus makan, Saroh. Awak harus tetap hidup. Emakmu menunggu di rumah.

Tersedu-sedu. Cekungan matanya digenangi air, meluap, membentuk anak sungai. Aku menyeka air matanya. Mengusap wajah. Bola matanya bergerak-gerak. Entah kekuatan dari mana, jemarinya ditaruh di atas telapak tanganku. Seperti sebuah isyarat. Kudekatkan tubuh, menyediakan bahu bagi tangis. Dadaku disesaki haru. Bola mata mengabur. Sebutir bening luruh ke lantai.

…..Emak, maafkan, Saroh.

Usai tangis. Aku menyorongkan sendok. Makanlah. Awak harus pulang menemui Emak. Menatap lurus wajahku, bibirnya berlahan membuka. Dia mau muntah. Awak harus memasukkan makanan kalau ingin pulang. Susah payah ditelannya nasi keras. Bola matanya mulai berpijar.

Tubuhnya membaik. Mulai duduk. Tapi tak ada suara. Matanya menerawang, menembus tembok, menjumpai raut wajah tua yang entah bagaimana keadaannya. Lalu terisak. Menangis.

Aku mengambil duduk di sisinya. Tanpa suara menatap lurus dan menghisap rokok. Suara lamat terdengar menyusup lewat jeruji pintu. Serupa makian.

Maukah awak berbagi cerita?

Angin tak menggetar pita suara. Menyusut mata. Aku memang tidak bisa membantu. Tapi barangkali bisa meringan­kan.

Sepi. Rokok kuhisap dalam. Bunga udara mengembang.

“Ada rokok?”

Puntung dalam jemariku nyaris melorot. Aku menoleh. Kusergap bola matanya. Datar dan kosong. Telapak tangan mengembang. Ragu kuulurkan sebatang rokok. Diselipkan di sela bibir. Kunyalakan api. Terbatuk-batuk. Membungkuk. Kupijat tengkuknya.

“Awak sebaiknya tak merokok.”

Dia terus menghisap. Tak menerima reaksi.

Kembali aku bersandar pada dinding. Kami merokok bersama-sama. Gemeretuk tembakau sahut menyahut. Sesekali batuk meningkah. Ruang memutih oleh hamburan dua cerobong asap.

“Awak tak ingin bercerita?”

Wajahnya memutih berselubung asap. Lampu lokap dinyala­kan. Bunga udara menguning. Di luar mungkin langit berjelaga. Tak tertangkap suara berdering.

Aku mengangkat tubuh. Beranjak. Dia melemparkan puntung.

“Ada rokok lagi?”

Aku melempar rokok yang tersisa. Korek api menyusul kemudian. Menarik daun pintu, pada saat bersamaan derap tapak sepatu berat mengisi ruangan. Sebelum pintu tertutup, ada kudengar pertanyaan.

“Berapa lama aku di sini?”

“Satu bulan lebih.”

Pintu tertutup. Anak kunci terputar.

 

Aku mendorong daun pintu pada kesuraman yang sama. Dia mengangkat wajah. Bangkit. Dengan kayu bekas korek api ditambahkan garis di dinding. Itu garis perhitungan hari. Garis yang dipintal lima-lima menyerupai lidi hitung waktu sekolah dulu. Dari situ bisa diketahui berapa lama ia tinggal di kamar lembab ini.

“Awak melambatkan waktu.”

“Ada rokok?”

Aku mengeluarkan rokok. Menyalakan korek api. Polusi berjejal dalam ruangan. Separuh terpejam bola matanya. Nikmat. Diputarnya rokok di sela jemari, barangkali meniru aku, gagal. Terpekik pelan karena bara menyundut kulit.

Aku tersenyum.

“Begini caranya.”

Kutunjukkan cara membuat putaran yang baik. Maisaroh mengikut berlahan. “Agak susah. Tapi kalau sering mencoba pasti bisa.” Kemudian dia mencobanya sendiri. Aku mengamati yang dilakukan.

“Darimana awak dapat rokok?”

Aku agak kaget dengan pertanyaannya. Menatap agak lama. Sebelum bibirku menjawab: Sipir penjara. Matanya menjelajah wajahku. Ketidakmengertian merayap. “Aku mencuri dari mereka setelah persetubuhan.” Mulutnya terbuka. Mengangga. Rokok tergelincir.

“Kau?”

“Aku seorang hamba sex. Sundal. Pelacur.”

“Di mana aku mengenalmu?”

Aku menarik napas panjang.

Tak banyak yang bisa meneri­ma bahwa temannya, orang di sampingnya ini, adalah seorang sundal. Ini jauh lebih buruk dari maling, gali, rampok, bahkan pembunuh sekali pun, apalagi aku perempuan,—seorang makhluk Tuhan, kalau memang Dia ada—yang keberadaan cuma disempal dari tulang rusuk laki-laki. Seorang yang lahir dengan tabu-tabu membebani kemanusiaan. Dan itu sebuah kewajaran.

Yang lebih menyedihkan, ternyata selama ini ia tak mengenalku. Tak apa. Mungkin memang harus memulai dari awal.

“Aku Halidah.”

“Halidah?”

“Pada sebuah terik kita berjumpa di Loket Pekan Baru. Awak sudah ada di situ saat aku datang. Awak suka laut dan langit. Pada sebuah sore, dari teluk Nibung kita melintas Selat Malaka dalam badai hujan.”

Matanya lurus menyusur wajah dan tubuhku.

Barangkali sebuah perjumpaan tak akan berarti apa-apa tanpa perjumpaan lain, seperti garis sejajar yang tak pernah bersinggungan. Tapi perjumpaan adalah persinggungan dua garis, entah kapan akan terjadi persinggungan lagi. Kami berada dalam medan yang sama. Kenangan yang sama pula yang menyeret. Sekarang, dia tak mengenalku. Dia sudah jauh berbeda, karenanya aku menjadi ragu. Tapi aku mengingat wajahnya bagai garis tipis yang samar. Sebuah kaset adalah memontum kedua. Pusat keramaian Chow Kit, itu bila tak salah, di tempat jualan kaset Indonesia.

“Bagaimana awak bisa jadi……pelacur?”

Aku meringis;

 

Seorang lelaki teman baik menjanjikan kerja di Medan. Aku bosan kerja di perkebunan. Wangnya tak seberapa. Aku serahkan hidupku padanya. Dia meniduriku. Lama-lama bukan hanya dia yang meniduri, teman-temannya juga ikut menjadikan aku arisan. Satu dua orang memberi tips. Lama-lama kupikir, kenapa tidak dikaryakan saja. Semua yang meniduri kupungut ongkos. Jadilah aku pelacur. Tapi aku bosan juga. Aku ingin petualangan yang lebih menarik. Aku pergi ke Malaysia untuk jadi hamba sex. Orang-orang di penyeberangan lintas selat Malaka pernah meniduri aku. Aku bergabung dengan teman-teman senasib di Belakang Mati.

Pada malam sepekat jelaga, ada seorang lelaki memakai jasaku. Dia masuk. Senyum terhampar. Disuruhnya aku membuka pakaian, satu hal yang sangat biasa. Aku telungkup, menunggu. Tangan dan kakiku diikat pada besi tempat tidur.—Barangkali sebuah lelucon akan dibuat.—Aku terpekik. Sesuatu menghantam punggung. Tak bisa berba­lik. Aku mengerang menahan sakit. Ikat pinggangnya menghantam lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Luka mengalir. Dia kesetanan melihat aku mengaduh. Tak tahan dengan deraan sakit, langit menjadi gelap.

Terbangun digigit sakit. Bangkit. Berdebum di lantai. Aku menangis. Gusti, mimpi apa ini. Tubuh dan batin terce­derai. Saat malam muncul menyeret kegelapan, aku takut sekali. Karena kegelapan membawanya datang. Aku tidak pernah setakut malam itu.

Kemudian seorang lelaki membawaku masuk kamar. Mengetahui tubuh penuh barut luka. Dia tidak jadi menyentuhku. Aku bernapas lega. Ditinggalkan wang di atas meja, melangkah pergi. Aku menahannya. Aku benar-benar takut biadab itu datang lagi.

Menyentuh dagu, menyelami kedalaman mata, dimintanya aku berbaring.

“Ada obat luka?”

Aku menunjuk tas. Dibalurnya luka. Lalu diam-diam dia berbaring. Aku memeluknya. Merasakan kedamaian me­mayung. Inilah malaikatku. Malaikat tanpa sayap di punggung. Malam berikutnya, dia datang lagi. Berbaring diam-diam. Sekali lagi aku tidak dijamah. Aku memeluknya. Tubuhku dan tubuhnya bersentuhan, kami dialasi pakaian.

Tapi kebahagiaan tidak menjadi hilang karena pakaian.

Pada malam ketiga aku berharap dia datang lagi, tapi yang muncul justru iblis biadab itu. Aku menggigil. Begitu masuk, langsung dibantingnya aku. Ikat pinggangnya dipelintir dihantamkan.
“Dua malam aku menunggu, Manis. Dan aku selalu datang terlambat. Tapi malam ini kau milikku. Aku ingin menikmati kesakitanmu.”

Aku mengerang. Luka berdarah-darah. Luka lama yang belum sembuh dipahat lagi. Terjatuh ke tempat tidur, pakaian dirobek-robek. Dia memukul lagi dan lagi sampai malam yang gelap semakin gelap.

Aku terbangun dengan tubuh remuk. Tulang belulang rasanya mau lepas. Menahan perih, susah payah aku menggapai sisi tempat tidur. Gemetar seperti demam. Dia masih lelap. Wajahnya….wajahnya begitu polos. Sesuatu yang tak kuketahui mengarus dalam tubuh. Kebencian membadai. Entah kekuatan dari mana, aku mengangkat kursi, mengayunkan ke wajahnya. Dia tercekik. Aku terus mengayun. Darah menghambur. Suka cita aku melihat wajahnya remuk. Dia terdiam selamanya.

Ya, atas nama rasa sakit, aku membunuh seorang lelaki. Dan dia memang pantas mati.

Aku membenci lelaki, meski pada saat bersamaan menyukainya. Dan tak pernah lepas ingatanku pada lelaki biadab itu.

“Seperti kisah dalam novel picisan, ya?”

Dibuka pakaiannya, diperlihatkan galir-galir luka. Maisaroh menutup mulutnya, terngangga. Ia meraba. Tuhan, apa yang dilakukan lelaki itu? Aku juga benci lelaki. Tapi hidupnya masih jauh lebih baik.
Sesaat tak ada suara mengalir.

Dihisapnya sisa rokok lalu dilempar ke sudut. Rokok terakhir. Derap sepatu di luar memecah sunyi. Suara ribut di bawah pintu menyusul. Makan siang disorongkan. Langkah yang mulai menjauh terhenti, terdengar ragu, berbalik dan mendor­ong pintu sel.

“Awak masih di sini?” Matanya tertuju padaku.

Aku bangkit, mendorong tubuh sipir keluar. “Ada rokok?” Kuhimpit tubuhnya pada tembok. Tangannya menempel di ping­gang, merambat ke atas. Meremas. Aku menarik sebungkus rokok, mendorongnya menjauh.

“Aku ingin malam ini,” dia minta imbalan.

Kubanting pintu. Kuberikan pada Maisaroh. Dan duduk seperti biasa di sampingnya. Ia melahap sepiring nasi dengan lauk sepotong ikan masin. Selesai. Dibukanya bungkus rokok.

“Awak tidak ingin pergi dari sini?”

“Aku lelah berharap keajaiban. Keajaiban hanya milik para nabi, milik orang baik. Keajaiban hanya ada dalam don­gengan kitab suci. Orang seperti aku tidak punya Tuhan dan tidak membutuhkan Tuhan dalam hidup. Karena itu tak ada keajaiban dalam hidupku.”

“Jadi aku tidak punya harapan lagi? Sekalipun hanya untuk bertemu Emak?”

Aku menggeleng. “Apalagi kudengar awak dituduh melarikan kekayaan ke Indonesia dalam jumlah besar. Itu juga sebabnya awak tidak ditempatkan berombongan dengan orang-orang Indonesia yang masuk dengan gelap. Kita berbeda dengan mereka.”

“Jadi apa gunanya hidup? Bukankah mati lebih baik dari pada hidup tanpa harapan?”

“Kita jalani saja. Inilah dunia kita. Inilah rumah kita. Rumah sempit yang tak memberi apa-apa selain sisa tarikan napas.”

Maisaroh terdiam. Murung. Mata kosong. Lintasannya entah kemana. “Apa seluruh yang kualami keajaiban?” desisnya bergetar.

Aku memutar kepala. Mendapati wajahnya menerawang jauh.

“Aku mendapati hidupku dalam keajaiban.”

Aku tidak percaya keajaiban!
Masuk dalam sel, kudapati wajahnya basah. Kusentuh bahunya, kupijat berlahan, “Kenapa?” Tangisnya menderu keras. Aku memeluknya.

“Tidakkah awak ingin berbagi cerita padaku?”

“…Emakku…emakku, aku takut sekali,” tersedu.

“Emakmu tak apa-apa. Emakmu baik saja.”

“Sudah lama sekali aku tak melihat wajah Emak…,” bahunya terguncang hebat.

Mataku merebak haru. Gusti, kalau masih ada orang menyayangiku sepenuh jiwa. Kalau saja aku masih memilikinya seperti bunga yang masih menyimpan segenggam keindahan, keteduhan. Tak bisa kutahan sebutir bening meluruh di pipi. Aku ikut terisak.

Maukah awak berbagi cerita?