peta retak

Peta Yang Retak #2

Maisaroh mencari-cari di kilap pepucuk daun yang barusan disepuh hujan. Tidak juga ada. Sejuk udara basah menggenang. Dan ia menemukan setangkup wajahnya pada mangkuk air. Jemarinya menyusur raut muka. Belum lagi tercetak garis. Tapi sebentar lagi pasti ada. Gurat-gurat ketuaan tidak menunggu berlalunya usia. Dia bisa begitu cepat ada karena dera beban batin yang tidak tertahankan. Dia sebentar lagi pasti ada.

 

Kenapa hidup menyapa tidak ramah? Beban demi beban bertumpuk, menggunung, terasa mau mematahkan pikiran. Padahal tidak semua orang mampu berteguh hati bertahan dalam ketakberdayaan. Sangat sedikit yang mau melakukan itu. Kebanyakan yang lain patah dan putus asa.

 

“Saroh!”

“Ya, Mak!”

Ia bangkit. Berlari-lari kecil masuk rumah.

 

“Kamu ini bagaimana, disuruh njemur pakaian saja lamanya minta ampun. Kayak bekicot saja. Kita harus menyelesaikan setrikaan segera dan mengantarnya. Bu Karjo pasti akan marah kalau kita tidak mengantar pakaian sore ini. Kamu pergi ke toko Lek (Bibi) Nah, sekarang, nyari areng. Nanti keburu mati bara di dalam setrikanya.”

 

Maisaroh belum beranjak. Ia menatap Emak berharap sesuatu.

“Ada apa?”

“Duitnya, Mak?”

“Ngutang dulu sama Lek Nah.”

“Kemarin sudah ngutang.”

Mata Emak mendelik. “Ya ngutang lagi.”

Tidak enak sama Lek Nah. Kalimat itu disimpan saja dalam hati. Ia takut melukai Emak. Maisaroh beranjak.

 

Langit masih kelabu, sekelabu hidupnya. Ia tengadah dengan mata berkaca-kaca. Nelangsa. Sesaat kemudian sebutir bening menyusur pipinya. Ia menyeka berlahan. Hujan barusan reda. Mestinya ini hari yang menyenangkan. Udara lembab bercampur bau tanah basah membawa aroma musim hujan. Butir-butir air adalah kehidupan. Setiap jengkal tanah yang menerima air adalah anugrah karena benih akan segera berkecambah. Para petani musiman selalu berharap penghujan sepanjang tahun agar irigasi yang tidak memadai bisa tergantikan. Tapi aku bukan petani, aku cuma anak seorang buruh nyuci yang pada musim hujan berpikir sebaliknya. Karena pakaian yang tidak kering sama artinya dengan berkurangnya penghasilan. Hujan yang terus menerus akan membuat hidup semakin sulit.

 

Hampir di pertigaan jalan kampung, Maisaroh berhenti. Dia baru ingat bahwa seharusnya tidak lewat di situ. Tapi terlambat, tak mungkin berputar untuk mengambil jalan lain, suara cekikikan dan tawa sudah mampir ke telinganya.

 

“Temani kita dong, Saroh.”

“Ih, manisnya kalau cemberut.”

 

Maisaroh mempercepat langkah dan menulikan telinga. Lega rasanya ketika suara-suara itu tertinggal di belakang. Dari semua tempat di desa, yang paling ia benci adalah tempat itu. Mereka, lelaki itu bangsat semua! Klunthang-klanthung. Setiap hari kerjanya cuma nongkrong, mengganggu orang lewat. Mereka kaum pemalas! Hidup cuma jadi benalu bagi orang tua. Yang sudah punya istri jadi benalu bagi istri mereka. Mereka tidak pernah punya malu, kaum perempuan mereka dibiarkan kerja memeras keringat, melintasi ribuan mil daratan dan menyeberangi laut, mencapai tanah harapan, untuk sesuatu yang mereka yakini sebagai keluarga. Keluarga! Sementara apa yang mereka lakukan di desa: menghamburkan duit saja. Duit hasil kerja sang isteri. Bahkan duit yang dengan susah payah dikumpulkan isteri, ada yang dipakai kawin. Lelaki macam apa itu?

 

Warung ramai. Maisaroh diam-diam saja. Ia menunggu keadaan benar-benar sepi.

“Yu, sekarang rumah Prapti diperbaiki lagi. Tidak kalah dengan rumahnya Bu Karjo. Tidak rugi dia enam tahun pergi ke Malaysia,” kata seorang tetangga yang sedang belanja.

 

“Apa dia pulang?”

“Semalam. Barangnya banyak sekali. Satu taksi penuh.”

“Yu Jinem tambah kaya kalau begitu.”

Prapti pulang? O, sudah lama aku tidak main ke sana. Terakhir saat rumah itu baru akan dibangun. Jadi rumah itu sudah selesai? Pasti di depannya dipasang sebuah pagar besi tinggi biar tidak setiap orang bisa keluar masuk dengan seenaknya. Rumah Bu Karjo juga begitu. Kayak apa ya, rupanya Prapti sekarang? Pasti tambah cantik. Dia sudah pasti mengerti apa kebutuhan tubuhnya.

 

Maisaroh tersenyum ketika tetangganya menyapa untuk pulang. Sudah sepi. Ia beringsut mendekat pada  Lek Nah.

 

“Anu…, Lek, disuruh Emak ngutang areng lagi,” katanya dengan perasaan malu.

“Yang kemarin belum dibayar, Roh.”

“Kata Emak, besok akan dibayar semua,” bohongnya.

Bagaimana ia tahu, besok Emak akan membayar semua? Perduli setan. Ia ingin cepat membebaskan dirinya dari beban.

 

Sejenak Lek Nah terlihat ragu. Kemudian matanya singgah di wajah Maisaroh dan menyuruhnya mengambil sekantong areng. Maisaroh menarik napas lega. Setelah mengucapkan terima kasih. Ia melesat pulang.

Langit melembayung. Gelap sebentar lagi pasti merapat. Gerimis diam-diam turun. Maisaroh menggeser letak baskom tepat di bawah rekahan genting. Tetes air segera saja mematuk-matuk dasarbaskom. Suaranya menindas dengung tetabuhan gerimis. Cuma gerimis. Tapi bisa saja semakin menderas. Dan bukan lagi serpihan air yang turun tetapi kerikil air. Satu dua jam mungkin tidak jadi persoalan. Tapi kalau sampai tiga empat hari tidak berhenti, hujan bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan. Hujan menjadi sesuatu yang menakutkan. Karena soko guru rumah rapuh, genting sudah banyak yang pecah, dan lantai tanah pasti akan menjadi kubangan lumpur. Seperti sawah.

 

Maisaroh meluruskan punggungnya pada bale bambu. Menyusur dinding gedhek rumah. Lubang bertebaran. Pantas kalau hujan begini dingin. Rumah sudah begini reot.

 

Seekor kunang-kunang melintas kisi-kisi jendela. Maisaroh mengikuti dengan ujung matanya. Kunang-kunang berputar, dan hinggap di bambu. Ia meraih dengan ujung jemari dan meletakkan di atas telapak tangan. Melata. Buku-buku tubuhnya yang mengeluarkan cahaya, membuat tangannya menghijau kekuningan. Kedap-kedip seperti bola lampu otomatis. Kunang-kunang selalu berada dalam terang. Kunang-kunang tidak pernah dalam kegelapan.

 

“Kenapa ya, Mak, kita melarat?” Tanyanya seraya menggoyang telapak tangan.
Emak mengangkat wajah dari pakaian yang sedang dilipatnya. “Ya, karena Bapakmu gila. Kalau saja dia tidak suka judi dan tidak keedanan pada perempuan sundal itu, tentu hidup kita tidak begini. Hidup kita pasti jauh lebih  baik, Nduk.”

 

Cuma karena itu? Dilemparkan kunang-kunang ke atas. Sayapnya mengepak cepat, kunang-kunang mengambang di udara. Nari-menari. Lingkar-melingkar. Menerobos kisi jendela, menuju udara terbuka. Udara kebebasan. Betapa menyenangkan menikmati udara kebebasan. Bisa menjelajah kemana saja kita mau. Ah, seandainya saja bisa memilih rahim sebelum masa kelahiran.

 

“Prapti sekarang kaya, Mak, rumahnya bagus. Tidak kalah dengan rumahnya Bu Karjo,” Maisaroh menatap lurus pada Emak.

 

Emak mengangkat wajah. Tapi tidak bereaksi.

“Katanya, semalam dia pulang.”

Emak masih diam.

“Bawaannya banyak sekali sampai harus menyewa taksi. Benar-benar kaya Prapti.” Diam agak lama. “Mak…, bagaimana kalau Saroh pergi ke luar negeri kayak Prapti?”

 

Wajah Emak mengejang dengan cepat. Kaku.

“Kita tidak bisa hidup begini terus, Mak,” suara Maisaroh lebih mirip rintihan daripada ucapan.

 

Emak menarik napas panjang, suaranya sedikit jengkel, “He, apa kau pikir Emak sudah tidak bisa menghidupimu lagi? Emak memang cuma buruh nyuci, tapi Emak masih sanggup. Emak tidak seperti Bapakmu, Nduk!”

 

“Bukan, bukan begitu, Mak. Saroh, cuma ingin kehidupan kita lebih baik.”

“Tidak!”

“Aku tidak sekuat sampeyan, Mak. Aku nggak bisa nyuci pakaian terus. Kalau aku pergi, kita bisangumpulin duit sedikit-sedikit buat memperbaiki rumah, buat tabungan hari tua sampeyan. Aku tidak ingin sampeyan kerja terus sampai tua. Bukan aku ora trimo, Mak. Aku lego lilo urip kaya ngene iki. Aku ikhlas. Tapi kan, tidak selamanya kita harus hidup seperti ini. Kita harus berubah, Mak.”

 

“Kamu sudah pinter ngomong sekarang, Roh,” potong Emak cepat. “Sudah, tidur sana! Sore-sore begini nglindur, bisa-bisa kesamber demit nanti.”

Maisaroh menatap Emak kecewa. Tanpa semangat ia melangkah masuk ke dalam bilik kamar.

Emak mendesah panjang.

Bantur. Tanah leluhurku. Tempat di mana langit dan laut bersentuhan. Tidak ada sejarah yang mencatat pertumbuhannya. Bahkan peta nasional pun tidak menyisakan ruang bagi sekedar cetakan namanya. Dia dilipatan bumi yang lain. Dia mencatat sejarah pertumbuhannya sendiri.

 

Pada sungai aspal, kurang lebih empat puluh kilo meter arah selatan kota Malang, satu-satunya setapak selebar tiga meter membelah bukit kapur yang mengantar untuk mencapainya. Keadaannya tidak begitu baik. Jalan berlubang-lubang dan penuh tambalan. Wajah kampung juga tidak rata. Berbukit-bukit. Sejauh mata memandang yang paling banyak dijumpai cuma jati. Pohon jati. Pokok-pokok itu menyembul di antara batu-batu kapur dari kedalaman yang tidak terukur. Mungkin dari inti bumi, tempat kekuatan maha dahsyat tersimpan. Dia kurus tapi tetap hidup. Kulitnya coklat retak-retak dengan jemari menuding ke atas, menantang langit.

 

Dimusim penghujan burung-burung bermigrasi dari tempat yang jauh untuk menemukan kesenangan di tempat ini. Seperti petani menemukan sawah, mereka berebut udara pagi yang basah dengan ilalang yang baru tumbuh. Cericitnya mengatasi suara cangkul yang mematuk-matuk tanah yang mulai liat. Mereka bergembira. Pada musim panen, burung-burung berpesta. Mereka merasa ikut berhak atas bulir-bulir padi bernas yang ditanam Pak Tani.

 

Maisaroh rebah di atas rerumputan. Awan gemawan kejar-mengejar di langit. Setangkai bulir padi muda melambai. Ia menariknya perlahan. Menyelipkan di antara gigi depan. Begitu terdengar suara retakan. Ia menghisap cairan kental mirip susu itu. Manis. Dipetiknya bulir lain.

 

“Aku  tahu  awak pasti di sini.”  Sosok  tubuh  berdiri menjulang.

Maisaroh terlonjak kaget. Duduk. Prapti?

“Aku dah cari awak ke rumah, nggak ada. Emak bilang awak pergi, nggak tahu kemana? Aku tahu, awak pasti ke sini. Biasalah tempat lama,” kata Prapti dengan logat melayu yang kental.

 

Tawa Maisaroh meledak.

“Bahasamu lucu.” Dipeluknya  Prapti. Dua sahabat itu lepas melepas kangen. Setelah itu pertanyaan Maisaroh menyerbu bagai butir peluru. Beruntun dan rapat. Ia terengah saat berhenti, gantian Prapti yang tertawa.

 

“Pertanyaan awak begitu banyak, bagaimana aku harus menjawab?” Baru Maisaroh sadar kalau ia begitu ingin tahu. Ia terkikik pelan menyadari kebodohannya.

 

“Aku ingin pergi seperti kamu, Ti. Pergi untuk  memperbaiki hidupku. Bagaimana caranya?”

“Ya, tinggal berangkat saja.”

“Aku serius, rek.”

“Aku juga serius.”

Pasti Prapti bergurau. Tidak mungkin pergi sejauh itu tanpa persiapan sama sekali. Barangkali dia tidak mau berbagi cerita soal ini. Mungkin lain kali.

 

“Ceritakan bagaimana kehidupan di sana?”

“Kehidupan di tanah harapan jelas jauh lebih baik dari di sini. Di sana hidup lebih mudah. Tentu saja orangnya kaya-kaya karena itu mereka mampu membayar pembantu dari negara lain.”

 

Tiba-tiba Maisaroh menyentuh lengan Prapti. Cerita terhenti. “Apa kamu mengajak orang untuk mengantar mencariku?” Prapti menggeleng. “Tentu saja tidak. Untuk apa?”

Mereka memutar kepala hampir bersamaan. Bertepatan dengan itu sosok yang diam-diam memperhatikan mereka membalikkan badan. Sosok bertubuh gempal dan berambut pendek.

 

“Siapa dia?” bisik Prapti.

“Badrun!”

“Untuk apa mengamati kita?”

Maisaroh menggeleng. Lelaki anak orang terkaya di desa ini untuk apa mengikuti Prapti? “Mungkin dia ingin melihat kamu, Ti. Bukankah sudah lama kamu tidak pulang? Apalagi kamu sekarang bertambah cantik.”

Prapti menggeleng. “Kita pulang.”

Mereka mengambil jalan memutar untuk pulang.

“Mak, Saroh ke Rumah Prapti.”

“Kamu harus membantu Emak menyelesaikan semua pekerjaan ini, Roh.”

“Tidak lama kok, Mak. Tidak sampai malam. Kalau Emak capek, ditinggal saja pekerjaannya. Nanti biar Saroh yang menyelesaikan.” Ia melesat pergi.

 

Mengarungi setapak menuju tanah harapan, seperti berjalan dari rumahnya menuju rumah Prapti. Sebuah rumah beton yang tahan terhadap segala cuaca. Berlapis kehangatan dan terlindungi rasa aman. Pintu dan jendela membuka dunia bagi kenyamanan. Rumah adalah surga kecil harapan. Dan ia sedang menuju ke sana.

 

Begitu mudahkah pergi ke tanah harapan? Alangkah ingin untuk suatu waktu menyusur setapak menuju tanah impian. Memastikan langkah yang membebaskan seluruh hidupnya, seperti burung lepas dari sangkar dan menemukan udara terbuka. Udara kebebasan.

 

“Saroh! Saroh!” Suara dari dalam pagar melengking. Ia membalas dengan lambaian tangan. Tak ada keinginan berhenti. Tapi suara itu memaksa kuat. Ia berbelok. Emaknya Tika tersenyum.

 

“Sini, Roh, masuk sebentar. Kami lagi ada selametan kecil, soalnya besok Tika mau berangkat ke Malaysia.”
Tika ke Malaysia juga? Betapa banyak yang akan pergi? Besok atau lusa, satu-satu persatu teman-temannya pasti pergi. Tinggallah ia satu-satunya yang mendiami tanah kelahiran. Mendiami noktah waktu yang tidak pernah bergerak. Maisaroh menyalami Tika.

 

“Kapan kau menyusul?”

Rasanya tidak ada kemungkinan untuk itu, katanya dalam diri.  Ia tersenyum gamang. Semoga berhasil.

 

Seorang lelaki masuk. Tika menarik lengan Maisaroh mendekat. Maisaroh tak bergerak. Untuk apa? Ia tidak mengenal lelaki itu. Malah lelaki itu sendiri yang menghampiri. Mengulurkan tangan. Tak ada sambutan.

 

“Ini Pak Sukri, Roh.” Tika memperkenalkan lelaki itu. Dia yang menjadi perantara Tika Ke Malaysia. Pak Sukri menambah dengan menyebut nama perusahaan pengerah tenaga kerjanya.

 

“Kamu harus pergi ke Malaysia, Roh. Aku akan membantumu.” Ia mengangguk saja. Tak ada keyakinan itu.
Usai mencicipi makanan, Maisaroh pamit. Menyalami sekali lagi. Semoga berhasil. Suaranya berat dan tersekat di tenggorokan. Ia meneruskan langkah.

 

Memang benar seperti dikatakan orang-orang, rumah Prapti tidak kalah dengan rumah Bu Karjo. Besar dan kokoh. Sebuah tembok tebal bujur sangkar. Di bagian muka dipasang pagar jeruji besi dengan ujung lancip seperti tombak. Persis sebuah kurungan binatang. Inilah rumah yang tahan terhadap segala cuaca. Rumah kedamaian.

 

Ketika Prapti memutuskan pergi ke Malaysia, enam tahun lalu, sebenarnya dia bukan orang yang kekurangan, Dia lahir dari keluarga kecukupan meski tak kaya-kaya amat. Tapi apa yang bisa dilakukan di desa selepas sekolah? Tak ada pekerjaan. Pekerjaan hanya ada di kota. Kalau pun ada cuma bertani tadah hujan, itu pun kalau punya lahan pertanian, kalau tidak ya, nganggur. Masih untung bila lelaki, bisa jadi kernet, buruh bangunan, dan buruh tani. Tapi perempuan, lapangan kerja yang bisa didapat apa? Apalagi kalau mereka sudah makan sekolahan, mana mau bergelut dengan lumpur sawah. Kotor dan bukan tempat kerja yang menyenangkan. Maka ketika para perempuan ramai-ramai pergi ke Malaysia, Prapti ikut serta.

 

Maisaroh menyentuh pintu pagar dan mendorongnya perlahan. Setapak berbatu koral mengalasi kaki, diapit hamparan rumput jepang. Sebuah taman. Tetumbuhan perdu menikmati guyuran sinar matahari musim hujan. Mawar dan Kana merekah. Mencapai teras. Melepas sandal. Telapak kaki menyentuh dingin. Lantai berkilat-kilat seperti air. Dan ia menemukan bayangan diri. Terdiam. Luar biasa Prapti sampai lantai rumahnya bisa buat berkaca. Cermin rumahnya saja tidak sebening ini.

 

“Hei, Saroh lama nggak main ke sini?” Emak Prapti muncul dari dalam.

Maisaroh tersipu. Keasyikannya menikmati sekaligus kagum buyar.

“Prapti ada, Mak?”

“Di dalam,” jawab Emak, “Emakmu masih ditempatnya Bu Karjo?” Ia mengiyakan. Emak Prapti tampak heran atas kesabaran Emak. Semua orang tahu betapa perempuan kaya itu suka semena-mena. Maisaroh berjalan masih dengan pikiran tentang perempuan kaya itu.

 

“Sini, Roh,” panggil Yatmi, kakaknya Prapti. “Lagi mbetulin  tape. Nggak tahu kenapa tidak bisa hidup, padahal masih baru, lho.”

 

Diam-diam saja. Duduk di sisi tempat tidur yang masih kelihatan kinyis-kinyis. Empuk tenan. Pasti enak tidur di kasur ini. Tidak seperti di rumah. Keras dan membuat punggung sakit. Kapuk telah bersenyawa dengan udara dingin. Membatu.

 

Di sini, segala sesuatu baru.

“Malah bengong?” Prapti menepuk bahunya. Maisaroh tergagap. Menoleh. Mencari Yatmi. “Membantu Emak di dapur,” Prapti menjelaskan. Sampai Yatmi keluar pun tidak tahu. Merebahkan tubuh.

 

“Kamar kamu bagus.”

“Awak bisalah punya ini kamar kalau ada mau?”

“Aku tidak punya duit untuk pergi ke sana.”

“Tidak butuh duit buat ke Malaysia.”

Maisaroh menoleh sangat cepat. Bagai sebilah pisau matanya membelah wajah Prapti. Benarkah? Prapti pasti bergurau. Tidak mungkin pergi sejauh itu tanpa duit sama sekali.

 

“Awak benar ingin pergi ke sana?”

Maisaroh  mengangguk mantap.

“Tidak kasihan sama Emak awak?”

Tidak ada gerakan. Kepala Maisaroh kaku terjepit udara. Bagaimana dengan Emak kalau ia pergi? Emak pasti kesepian. Kenapa itu tak pernah terpikirkan? “Pikirlah baik-baik sebelum mengambil keputusan. Bisa saja aku membantu bila ingin pergi. Hidup awak tak akan berubah bila tak awak sendiri yang merubahnya. Hidup awak ada di tangan awak, bukan di tangan orang lain.”

Maisaroh menghela napas panjang.

 

Membuka telapak tangan lebar-lebar. Setetes air menggelantung, melepas diri dari bibir genting. Meluncur. Menghambur. Sekali, dua, tiga rentetan. Telapak menjadi basah.

“Emak ada, Roh?” suara menggetar sunyi.

Maisaroh meloncat kaget. Wajahnya memerah. Badrun! Kurang ajar dia, mengejutkan saja. Badrun mengulang pertanyaan lagi, tanpa rasa dosa. Sombong benar. Maisaroh diam saja. Dia mengulang lagi. Ini kali ketiga

 

“Ke warung Lek Nah, utang beras!” jawabnya ketus.

Lelaki itu tersenyum mendengar getas suara Maisaroh. Dia mengambil duduk di samping gadis itu. Maisaroh beringsut menjauh. Tak ada suara.

 

“Roh?”

Sunyi

“Roh!”

Tetap sunyi.

“Roh!?”

“Apa sih panggil-panggil. Aku tidak budeg, tahu!” semprotnya.

“Kau, mau kawin denganku?”

Huh! Sinting dia. “Kamu ngomong apa!?”

“Maukah kamu kawin denganku?”

“Kamu mimpi apa mau kawin denganku?”

“Aku serius, Roh!”

“Sejak kapan kamu serius dengan gadis-gadis?” Maisaroh meledak. “Tiap hari mereka kaubawa kesana kemari. Kau gombali. Kau cuma mempermainkan mereka.”

 

“Tapi kamu berbeda dengan mereka.”

“Aku malah lebih buruk dari mereka. Aku cuma anak seorang babu nyuci. Babu nyuci di rumahmu. Kau tahu itu, kan?”

 

Tidak ada perubahan. Raut muka Badrun biasa saja. Kaku. Mungkin tidak ada silang sengkerut jaringan darah di balik kulit. Tapi bisa juga wajah itu cuma topeng elastis dari karet, yang begitu ditempel ke wajah, menyatu dengan kulit. Sayangnya dia cuma punya satu topeng.

 

“Ee…, Nak Badrun. Sudah lama?” Emak tergopoh-gopoh masuk halaman. Di tangannya terjinjing tas kresek hitam.

 

“Baru saja,” senyumnya.

“Tumben main ke sini. Ada pesen ya, dari Ibu?” Emak mendorong daun pintu. “Masuk dulu, Nak.” Menoleh pada Maisaroh. “Saroh ini bagaimana? Masak tamu tidak disuruh masuk. Malah diangin-anginin di luar,” lanjutnya menggerutu.

 

“Nggak papa kok, Mak.”

“Ayo masuk dululah. Jangan ngomong-ngomong di luar. Nggak enak dilihat tetangga.”

“Anu…, Mak. Saya cuma sebentar kok. Ibu meminta Emak ke rumah. Kata Ibu, ada yang harus dibicarakan. Penting!” Badrun menyampaikan pesan.

 

“Oh, begitu. Ya, Emak akan segera ke sana,” perempuan itu manggut-manggut.

Maisaroh diam. Membiarkan saja kejengkelan Emak. Ia sibuk meraba langit. Mencari sesuatu di kedalaman kebiruannya. Kalau saja aku punya sayap. Aku akan pergi. Membebaskan diri.

“Oh, Emak, masuk Mak!” senyum Bu Karjo. Dia berkutat lagi dengan tulisannya.

 

Emak menggelesot mendekat. Diam. Menunggu.

Penghormatan pada priyayi jawa adalah karena keturunan, karena  ilmu, dan karena kekayaan. Bibit, bebet, lan bobot. Feodalisme tidak pernah mati. Di mana-mana masih ada. Cuma bentuknya saja yang kadang berbeda. Di desa, wajah feodal yang paling tua dengan mudah bisa ditemui. Dan perempuan gemuk paroh baya itu dihormati karena hal yang ketiga: kekayaan.

 

Emak masih menunggu.

Menyelesaikan tulisan, melepas kaca mata. Bu Karjo menoleh pada Emak.

“Mak….,”

“Inggih, Bu.”

“Begini lho, Mak. Badrun itu kan sudah gedhe. Sudah waktunya berumah tangga. Emak tahu sendiri kelakuannya seperti apa. Kalau sudah punya keinginan, ngeyelnya minta ampun. Pokoknya harus dituruti. Kalau nggak, bisa ngamuk-ngamuk dia. Repot, Mak, duwe anak siji wae.”

 

Terus pripun, Bu.”

Yo kuwi aku lagi bingung. Aku sudah menjodohkan dengan Etik, anaknya Blantik sapi dari desa sebelah tapi Badrun tidak mau. Dia ingin pilihannya sendiri.”

 

Sinten tho, Bu, tiyang estri kang antuk kamulyan niku? Pasti dia bahagia kawin dengan Nak Badrun.”

“Maisaroh, Mak. Maisaroh anakmu.”

Maisaroh? Maisaroh anakku? Emak mendengar tidak percaya. Bola matanya yang tua minta kepastian.

 

“Iya, Maisaroh anakmu.”

Duh Gusti, mimpi apa ini? Maisaroh akan kawin dengan Nak Badrun, anak orang terkaya di desa ini? Benarkah? Maisaroh akan mengangkat hidupnya? Perasaan Emak campur baur tidak karuan.

 

“Mak …”

“Inggih…inggih, Bu,” Emak gugup.

“Tanyakan pada Maisaroh, apa dia mau kawin sama Badrun?”

Emak mengangguk kencang. Sekencang debar suka cita yang terasa mau menjebol dada. Sepanjang jalan pulang Emak tersenyum-senyum sendiri dan lirih bersenandung. Sesuatu yang telah bertahun-tahun dilupakan. Betapa aneh hidup ini. Emak melewati jalan tanah ringan. Perasaannya meluap. Jaritnya berkibar karena langkah kaki yang kebas. Berita gembira ini harus segera dikabarkan pada Maisaroh.

 

Di teras rumah, Sukri sedang bercakap-cakap dengan Maisaroh. Melihat Emak masuk halaman, lelaki itu tersenyum menyambut.

 

“Kebetulan Emak telah pulang. Saya barusan berbincang-bincang dengan Maisaroh. Dia setuju untuk pergi ke Malaysia seperti teman-temannya yang lain. Dan saya menyanggupi untuk jadi perantaranya. Tinggal bagaimana….”

 

“Tidak!” binar gembira telah berubah kemarahan.  “Maisaroh tidak akan pergi kemana-mana. Dia akan tetap tinggal bersamaku.”

 

“Ini baik untuk hidup Maisaroh, Mak.”

“Tidak! Aku katakan, tidak! Pulanglah kau, Sukri. Jangan kau racuni pikiran Maisaroh dengan kemauanmu. Apa pun yang akan terjadi, Maisaroh akan tetap tinggal bersamaku.”

 

Sukri belum surut juga. Matanya masih mencoba memberi penjelasan pada Emak.

“Pergilah, pergi!” suara Emak menggelegar. Marah benar dia. “Aku tidak mau mendengar semua omong kosongmu di sini. Pergi cepat! Pergi!”

 

Emak merengut lengan Maisaroh. Menarik masuk. Pintu terbanting.

“Kamu harus menemani Emak, Roh. Kamu tidak boleh pergi, kemana pun. Hanya kamu satu-satunya milik Emak yang tersisa.”

 

Maisaroh memeluk Emak. Memejamkan mata. Sebutir bening luruh di pipinya.

Malam harinya, setelah semua tenang, Emak mengajak bicara Maisaroh. Perasaan senang yang sejak tadi siang ditahan, muntah seperti air bah menjebol bendungan. Binar-binar bahagia melingkupi wajah Emak yang mulai kelihatan menua.

 

Maisaroh tidak memberi reaksi apapun. Wajahnya datar. Ia cuma menarik napas panjang.

 

“Kamu tidak senang, Roh, akan diambil menantu Bu Karjo? Kamu bisa mengangkat kehidupan Emak. Kita bisa membangun rumah yang telah reot ini. Kamu dan Emak akan berhenti jadi buruh nyuci.”

 

Pelan Maisaroh meraih bahu Emak, memeluknya kuat. Matanya berkaca-kaca. Butiran bening merembes turun. Ia sesenggukan. Tubuh yang bertahun-tahun bertahan dalam badai, betapa ringkihnya sekarang. Tidak lebih dari serpih kapas yang mengikut kemana pun angin pergi. Bongkahan-bongkahan kesabaran telah lapuk. Berkarat. Impian adalah ambang kesadaran. Betapa letih sampeyan, Mak.

 

“Kamu mau, Roh?”

“Emak yakin akan berhenti jadi buruh nyuci?”

“Tentu saja. Emak kan, jadi besanan sama Bu Karjo. Pasti Bu Karjo mencari orang lain untuk mencuci pakaian keluarganya. Dan Emak tinggal santai-santai saja di rumah.”

 

Maisaroh iba. “Sampeyan mengigau, Mak. Sampeyan letih. Sebaiknya Emak istirahat sekarang,”

 

“Jadi kau terima lamaran Bu Karjo?”

“Istirahatlah, Mak.”

“Kau terima?”

Tidak ada keajaiban dari langit. Aku cuma anak seorang baburenta. Babu yang sudah sangat letih menahan gerusan waktu.

 

“Roh!” tuntut Emak.

Ini akan melukai sampeyan, Mak. Ia takut Emak remuk. Tapi mata penuh tuntutan itu mendesak-desak tidak bisa ditahan. Akhirnya Maisaroh memulai dengan lirih.

 

“Apa Emak tidak ingat, bagaimana Bu Karjo memperlakukan kita? Kita dianggapnya tidak lebih dari budak, Mak. Cucian tidak kering dan setrikaan tidak halus sedikit saja, kita habis dicaci maki. Apa Bu Karjo tidak pernah melihat langit? Hari hujan terus. Bukan salah kita Mak, kalau pekerjaan itu tidak beres. Lalu bagaimana kalau kita masuk menjadi anggota keluarganya? Kita masuk tanpa membawa apa-apa, Mak. Kita cuma punya tubuh. Apakah mereka tidak semakin sewenang-wenang pada kita?” Maisaroh berhenti sejenak. Dihimpunnya segenap kekuatan.

 

“Saroh tidak akan kawin dengan Badrun, Mak. Kita memang melarat, cuma buruh nyuci, tapi kita masih punya harga diri. Dan Saroh tidak akan menggadaikan harga diri kita demi harta. Saroh tidak akan melakukan itu. Saroh tidak ingin Emak semakin menderita.”

 

“Bu Karjo tidak seburuk itu, Roh.”

“Siapa bisa menduga hati orang, Mak. Sementara keseharian yang kita terima penindasan. Kalau akhir-akhir ini dia baik, itu karena Bu Karjo ada maksud tertentu,” tandasnya

 

“Roh…,” Emak meradang. Binar bola matanya meredup.

Semoga  tidak patah sampeyan, Mak. “Istirahatlah, Mak. Sampeyan capek,” Maisaroh menuntun Emak ke kamar. Setelah menutup tubuh Emak dengan selimut, ia beranjak keluar. Gumpalan mendung menutup wajah langit. Bau tanah basah sudah menyebar kemana-mana. Mungkin sebentar lagi hujan turun.

Sudah menjadi kebiasaan Emak masuk rumah Bu Karjo lewat pintu belakang. Tapi kali ini terasa ada sesuatu yang lain. Semacam perasaan was-was. Perasaan takut bertemu Bu Karjo. Karena itu Emak masuk diam-diam saja. Diletakkan pakaian bersih yang sudah disetrika rapi di atas meja. Kemudian piring-piring kotor yang berserakan, dibawa ke dapur, dicuci bersih. Ia berharap bisa segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang. Namun tepat saat Emak menyelesaikan semua pekerjaan, Bu Karjo muncul dari pintu. Emak jadi sedikit gugup.

 

“Bagaimana, Mak?” tanya Bu Karjo langsung.

Meski pertanyaan itu sudah diduga, tapi tak urung tetap saja membuat wajah Emak memucat. Bingung mau menjawab bagaimana. Separoh mulutnya terbuka tapi tak ada derit yang keluar. Agaknya Bu Karjo memahami kesulitan Emak. Perempuan kelebihan lemak itu tersenyum.

 

“Bujuklah Maisaroh, Mak. Tahu sendiri kan, bagaimana kelakuan Badrun kalau sudah punya keinginan? Padahal, sebenarnya dia juga sudah dijodohkan dengan Etik. Tapi dia cuma pingin Maisaroh. Kalau tidak dengan Maisaroh lebih baik tidak, begitu katanya.”

Emak mendengar saja.

“Pokoknya semua saya serahkan sama sampeyan. Bujuklah Maisaroh supaya mau kawin sama Badrun. Dia bisa minulyo di sini. Atau dia mau cari yang lebih kaya dari Badrun?” tatap Bu Karjo.

“Mboten, Bu,” Emak mulai berkeringat.

“Pokoknya bujuk dia, Mak.”

Emak mengangguk. Gamang.