peta retak

Peta Yang Retak #3

Sukri datang lagi. Tidak jenuh juga dia membujuk Maisaroh pergi ke Malaysia. Tentu saja tidak di rumah. Dia mengambil kesempatam ketika Maisaroh sedang keluar rumah. Itu membuat Maisaroh bimbang. Mimpi yang hampir terpegang. Jalan telah terbuka. Gapura masa depan terbentang terang. Apalagi Sukri meyakinkan dengan gamblang.

 

“Tanpa sepeser duit, aku bisa mengantarmu ke Malaysia, Roh.” Dia tahu kesulitan Maisaroh tentang itu. Tinggal mengiyakan. Seluruh mimpi tergapai.

 

Tapi Maisaroh ingat Emak. Kesepian-kesepian akan segera menyergap, menguliti ketuaan. Bukan lagi usia yang akan menggerogoti tapi luka sepi. Apa jadinya sepotong kayu yang telah rapuh itu kalau ia pergi?

 

“Aku akan mengurus surat-surat keberangkatanmu kalau kamu setuju.”

“Tanpa ijin Emak?”

 

Dia tertawa. “Ijin sangat gampang dibuat. Jangan  kawatir. Pokoknya kamu setuju dulu. Tika sekarang mungkin sudah sampai. Lihat saja, sebentar lagi dia akan mengirim duit ke bapaknya. Dia bisa membuat keluarganya makin makmur, kamu pun bisa.”

 

Maisaroh menggeleng gamang.

Setelah itu Maisaroh menemui Prapti, menceritakan pertemuannya dengan Sukri dan bertanya, apa bisa pergi ke Malaysia tanpa duit sesen pun?

 

“Bisa.”

“Benarkah?”

Prapti menuturkan cerita yang didengar dari teman-temannya di Malaysia. Mereka berangkat ke tanah harapan tanpa duit. Seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh perantara yang menyanggupi menyalurkan pencari kerja. Konsekuensinya gaji selama tiga bulan tidak diberikan, tapi diambil oleh perantara.

“Segitu mudahnya?”

Tapi ia terus teringat Emak.

 

Semak belukar di tepi kali gemetar bukan oleh angin. Tapi oleh sesuatu di sekitarnya. Gemelisir lirih tertelan desau pokok-pokok bambu yang berhimpit melepas pertemuan. Di baliknya sepasang mata membesar. Liar. Mata hantu. Menjelajah, seolah mau menelan semua yang ada.

 

Di bawah, tidak seberapa jauh, serombongan gadis kampung sedang mandi dan mencuci pakaian. Air kali bening meski tidak begitu bersih. Bebatuan menyisakan tempat di sela jemari kakinya ruang sembunyi bagi ikan-ikan kecil. Riuh rendah tawa menyelinap di antara percakapan yang tiada habis. Suara kain yang dipukulkan ke permukaan batu sesekali melengking menimpali.

 

Sudah jadi kebiasaan orang desa, mandi dan mencuci di kali. Ini dilakukan sepanjang sore, ketika sisa matahari menggantung letih di langit barat. Bagai belibis menemukan padang rawa-rawa, mereka ramai-ramai menuju kali. Kebiasaan yang menjadi kebutuhan. Ritual. Di sana bisa terlontar segala cerita: kegembiraan, kegetiran hidup, sakit hati, bahkan masalah keluarga. Semua mengalir lepas, tanpa beban, menjadi obrolan ringan yang menyenangkan. Mandi menjadi sesuatu yang penting karena muara semua persoalan mengalir di sini. Dia menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup.

 

“Aku sudah ngomong sama Bapak dan Emak, aku ingin keluar negeri. Dan mereka setuju. Aku ingin seperti kamu, Ti,” ujar Sri berdiri. Dililitkannya handuk untuk menutup tubuh. “Enak, bisa membantu orang tua. Bisa memberi kebanggaan.”

 

“Dari pada jadi babu di Jakarta atau Surabaya. Rekoso. Sama-sama rekosonya mending ke Malaysia sekalian. Duitnya lebih gedhe. Lihat saja si Ani sejak dulu kerja di Jakarta cuma begitu-begitu saja. Nggak ada perubahan.”

 

“Ya, sebentar lagi kau juga bisa menyusul Tika.”

“Aku juga akan pergi.”

“Aku sih tinggal berangkat, rek,” Padma tertawa.

“Kau bagaimana, Roh?”

 

Aku tidak mungkin pergi. Melangkah ke tanah harapan, bagiku, tidak semudah kalian. Maisaroh mengangkat bahu. Menjawab, “Aku tidak tahu.”
Prapti melirik sedih.

 

“Kamu akan tinggal selamanya di sini?”

Mungkin. Barangkali memang begitu takdirku. Tidak  akan kemana-mana,  tidak akan melihat apa-apa selain tanah kelahiran.Ya, cuma tanah kelahiran.

 

“Hei Sri, Emakmu sedang menunggu di rumah,” Prapti mengalihkan perhatian. Kasihan Maisaroh.
Sri menepuk kening. “Untung kau ingatkan. Aku harus ke rumah Pak Dhe sore ini.” Mengangkattenggok. Pamit. Melangkah Pulang.

 

Satu persatu pekerjaan mereka selesai. Rini, Lestari menyusul Sri pamit pulang. Remang petang membayang. Batang-batang cahaya menerobos hutan bambu semakin lemah. Bias gelap dan terang labur. Burung-burung kembali meninggalkan rumah kedamaiannya sendiri-sendiri. Senyap.

 

Prapti menoleh pada Maisaroh. “Benar kamu berani sendirian?” Dia juga telah selesai.
Maisaroh memutar kepala.  Nyenyet. Tempat padusan laki-laki juga sudah sepi. Hari sudah hampir gelap memang. Tidak akan ada orang pergi ke kali dalam keadaan seremang ini. Mungkin hanya kelelawar, ular, kodok yang mau melakukan. Mereka binatang malam. Entah kalau ada makhluk lain, makhluk tak kasat mata, yang berdiam di hutan bambu. Mereka berbentuk apa, tidak ada yang tahu. Tapi hari sebentar lagi gelap dan Maisaroh belum selesai. Mendesah panjang dan berkata:

 

“Tanggung, tinggal sedikit lagi. Kau pulanglah dulu. Aku nggak papa, kok.” Meski ia sebenarnya tidak yakin itu.

“Benar kamu berani?”

Maisaroh mengangguk. Prapti mengangkat tenggok pakaian, mencari pijakan pada batu-batu kali yang menonjol, meninggalkan Maisaroh sendirian.

 

Maisaroh meneruskan pekerjaan. Acak dan cepat. Urat-uratnya yang ngilu tak dirasakan. Cucian begini banyak. Kemana sih, Emak? Sudah tahu banyak kerjaan malah tidak pulang-pulang. Seharusnya ini pekerjaan Emak. Tapi ia harus menyelesaikan segera, sebelum perasaan tidak tenang menguasai diri. Begitu selesai, ia menarik napas lega. Ada keinginan untuk mandi. Betapa segar membasahi tubuh yang berkeringat dengan air. Rasa capeknya pasti cepat hilang. Ia tak mampu menahan diri. Dilepasnya pakaian. Saat itu kemerosak terdengar menderu. Semak belukar terguncang hebat. Dedaunan tersibak. Ranting-ranting patah. Dan sosok dengan mata meluap muncul. Maisaroh terhenyak. Ia menyambar pakaian. Berlari. Berlari. Dan berlari. Secepatnya.

 

Brak! Pintu terbanting. Berdebum. Maisaroh menerobos masuk. Emak terlonjak. Melotot tajam.

“Ada apa sih, kok kayak dikejar setan!”

Maisaroh menjatuhkan tenggok. Merapikan  napas. Dadanya turun naik tidak teratur. Pakaiannya masih kedodoran tidak karuan. Ia merasa aman sekarang.

 

“Roh!” kejengkelan Emak memuncak. “Kenapa kau ini? Pulang dari kali nyaris telanjang, kayak wong  edan saja. Bagaimana kalau dilihat orang?”

Masih diam. Tarikan napas mulai teratur. Ketakutan masih menggantung jelas di wajahnya. Bulir-bulir keringat merembes di dahi. Emak meraih bahunya, mengguncang-guncang keras.

 

“Roh, kau kesurupan? Kesurupan setan kali?” Emak mengguncang makin keras. “Aku harus memanggil Pak Tijap sebelum semua terlambat.” Emak panik. Melangkah tergesa ke pintu.

 

“Mak….,” Maisaroh menahan laju Emak.

Gerakan Emak terhenti. “Kau sudah sadar, Roh?”

Maisaroh menubruk Emak, memeluknya erat-erat. Ia benar-benar butuh tempat berlindung. Tempat yang bisa memberinya rasa damai. Hanya Emak satu-satunya yang ia punya. Hanya Emak yang bisa menjaganya. Maisaroh sesenggukan.

 

“Saroh takut, Mak! Kali sangat sepi, tinggal Saroh sendiri. Tiba-tiba Saroh melihat semak belukar di atas kali bergerak-gerak. Lalu muncul bayangan dari sana. Badrun, Mak! Dia mau menangkap Saroh. Saroh takut sekali, Mak.”

Emak mengusap punggung Maisaroh. “Setan penunggu kali menampakkan diri padamu, Roh. Syukur kau selamat.”

 

“Dia Badrun, Mak!”

“Pikiranmu masih kacau. Sebaiknya kamu istirahat sekarang, Roh.” Emak membimbing Maisaroh ke bilik tidur.

“Besok kita ruwatan buat keselamatanmu. Penunggu kali itu sudah lama tidak muncul. Terakhir sekitar sepuluh tahun lalu ketika Rodiah ditemukan mati di sana. Nggak ada yang selamat kalau ketemu dengan penunggu kali. Kamu harus bersyukur.”

 

“Mak …?”

“Dia bisa mendho-mendho jadi siapa saja. Sudah, tenangkan pikiranmu. Cucian biar Emak yang ngurus.” Emak menutup tubuh Maisaroh dengan selimut. Melangkah keluar.

Sebentar kemudian orang-orang kampung ribut. Cerita kemunculan penunggu kali menyebar dengan cepat. Beramai-ramai orang datang untuk melihat keajaiban selamatnya Maisaroh. Dan cerita tentang penunggu kali yang sudah bertahun-tahun terpendam, muncul kembali ke permukaan.

 

Sebatang kali. Ada sebatang kali membelah desa. Lebarnya kurang lebih sepuluh meter tapi volume airnya sangat kecil. Sebagian air yang sangat kecil itu digunakan untuk irigasi. Karena itu hanya sebagian kecil petak-petak tanah yang mendapat air secara teratur. Sisanya tetap kerontang. Rekah-rekah seperti garis jalan dalam peta. Bahwa kali menjadi bagian penting dari kehidupan, tidak ada yang menyangkal. Bekas alur kali yang kering, meski di bawah ada juga air mengalir tentu dari mata air yang berbeda, memanjang sampai ke laut selatan. Saat penghujan, kali sering banjir tapi tidak sampai meluap. Namun dalam periode tertentu terjadi banjir besar. Banjir bandang. Air kali meluap kemana-mana. Menggenangi jalan, bahkan merobohkan rumah. Penduduk setempat percaya, saat itu ular penjelmaan Nyi Roro Kidul sedang lewat untuk kembali ke kerajaan bawah laut. Seorang kakek yang sudah tua mengatakan, mata ular itu sebesar piring makan. Entah benar atau tidak ucapan itu, tidak ada yang tahu.

 

“Mak?” Prapti masuk dengan nada bertanya.

Emak membawa Prapti masuk kamar. Maisaroh masih terbaring lemas. Tidak ada cahaya di matanya. Prapti memeluk lembut. Sejurus kemudian, isak terdengar dari bibir Maisaroh.

 

“Kau nggak papa, Roh?” Maisaroh menggeleng. Emak senang, Maisaroh sudah bisa diajak bicara. Dia melangkah keluar.

“Kau benar-benar melihatnya?”

Maisaroh menatap sedih. Tidak akan ada yang mempercayainya. Mungkin cuma Prapti sahabatnya. Lalu ia lirih berkata: “Aku yakin bayangan itu bukan hantu. Dia mengintip kita waktu mandi. Setelah nggak ada orang lagi, baru dia turun. Dia Badrun! Tapi Emak tidak mempercayai ceritaku. Emak lebih percaya cerita tentang penunggu kali yang sudah lama tidak muncul.”

 

“Kau yakin Badrun?”

Maisaroh mengangguk.

Prapti menegakkan punggung, menarik napas panjang. Isak Maisaroh terdengar makin pelan. Dua sahabat itu tenggelam dalam pergulatan pikiran masing-masing.

 

“Aku sedih memikirkan hidupku, masa depanku, Ti. Bagaimana mungkin aku kawin dengannya kalau kelakuannya seperti itu.”

 

Prapti menoleh kaget. “Jadi…?” Maisaroh membuka cerita. “Minggu lalu Bu karjo melamar sama Emak agar aku mau jadi mantunya. Aku bingung, Ti. Aku nggak tahu harus bagaimana. Seperti di neraka saja. Emak tidak berani menolak lamaran Bu Karjo. Semua keburukan Badrun yang kuceritakan tidak ditanggapi Emak. Kemelaratan membuat Emak silau dengan harta yang dimiliki Bu Karjo.” Air mata menggenang lagi.

Prapti memeluk lebih kuat. Matanya juga berkaca-kaca. Kalau saja ia bisa berbuat sesuatu, pasti melakukannya.

 

“Aku capek, Ti. Capek sekali. Aku tidak sanggup lagi menerima semua ini. Aku ingin mati saja.”

Prapti merasakan kekosongan itu, “Roh, jangan ngomong seperti itu. Tidak baik. Percayalah, Tuhan pasti akan  menolong kalau kita membutuhkan pertolonganNya.”

 

“Aku pingin mati saja, Ti.”

Prapti memeluk gemetar. Tuhan, bagaimana menjaga jiwa-jiwa yang hampa ini?

“Monggo,  monggo, Bu.” Emak mendorong pintu dari luar. “Sekalian saja, Nak Badrun, nggak papa kok.”

 

Dua bersahabat itu berbarengan menoleh. Seketika wajah Maisaroh lesih. Prapti bisa melihat perubahan. Naluri melindunginya bergerak. Diusapnya wajah Maisaroh hingga terpejam.

 

“Bagaimana keadaan Saroh, Nak Prapti?”

“Maisaroh tidur, Mak. Dia memang harus banyak istirahat untuk menenangkan diri.”

Bu Karjo menyentuh kening Maisaroh. “Syukur Tuhan masih menjagamu, Nduk.” Dia menoleh pada Emak.

“Ruwatan harus dipercepat, Mak. Jangan lusa, besok saja biar tidak kasep. Tentang biaya, biar aku yang tanggung. Emak tidak perlu khawatir tentang itu.”

 

Badrun dua jengkal jauhnya dari tempat tidur. Tidak mengeluarkan suara. Ekspresi wajahnya datar, seperti tidak ada sesuatu pun terjadi.

 

“Badan Maisaroh memanas, Mak. Kelihatannya mulai demam. Dia butuh ketenangan buat istirahat.” Tubuh Maisaroh benar-benar panas. Bergetar.

Bu Karjo menjauh. “Kami keluar dulu, Mak. Saroh memang kelihatannya butuh istirahat.”

 

Selepas kepergian Bu Karjo dan Badrun, tangis Maisaroh langsung pecah. Beban batin yang sejak tadi ditahannya jebol. Prapti memeluk, mengusaap rambutnya.

 

“Sudah, Roh. Kau harus bertahan. Kalau kau hancur, seluruh hidup Emak juga akan hancur. Emak akan merasa sia-sia sepanjang hidupnya. Kau harus kuat, Roh.”

Maisaroh terguncang makin hebat. Tangisnya makin deras.

 

Aku  ingin pergi.

Melintasi kabut ini.

Melintasi sepi.

Menggenggam mimpi.  

Jadi manusia sejati.

Aku ingin pergi.

 

Menatap kesunyian di balik kerudungmalam. Bebintang mengapung. Noktah cahaya kerlip. Jarak ribuan tahun cahaya membuat pendar tersisa kecil saja. Tapi ada satu bintang. Satu bintang di langit dengan cahaya benderang. Apakah dia lebih dekat? Tidak ada yang tahu. Seribu kunang-kunang melintas. Seribu kesepian bergayut. Sepi. Senyap. Lenyap.

 

Sejak ruwatan, syukuran atas keselamatan Maisaroh dilaksanakan. Waktu dan ruang semakin menyempit saja. Telah diciptakan sangkar kawat berduri bagi kebebasan. Dan kini sangkar itu semakin kuat dan kokoh. Adakah tempat untuk berlari? Seandainya saja aku bisa mencapai kemungkinan cahaya? Melayang meninggi menembus ruang hampa. Apakah bintang-bintang kesepian dalam diamnya?

 

Lagu nostalgia yang mengalun dari radio transistor butut, digeser. Langgam Jawa menggantikan. Suaranya penuh distorsi, tak bening lagi. Maisaroh menoleh.

 

“Kau belum tidur, Roh? Emak menyentuh bahunya dari belakang. Maisaroh menggeleng. Belum ngantuk.

“Tidurlah angin malam tidak baik buat kesehatan.” Tidak terdengar suara menyahut. Maisaroh tenggelam dalam tebaran bintang-bintang. Menerawang menembus langit, menembus tirai kegaiban, mencari sesuatu di kedalaman semesta. Emak mengambil duduk di sampingnya, mengikuti pandangan Maisaroh.

 

“Apik tenan ya, Roh?”suara Emak memecah keheningan.

Maisaroh tidak bersuara. Dan Emak terus berucap, “Dulu, simbahmu juga suka melihat bintang-bintang. Di atas kelapangan yang tidak berbatas itu, kita menemukan kelapangan hati.” Emak menunjuk bintang yang menyala paling terang. “Lihat, itu bintang sore, bintang fajar. Bintang itu muncul paling awal dan tenggelam paling akhir. Ketika bintang-bintang lain belum kelihatan dia sudah membuat langit indah. Dan ketika bintang-bintang lain menghilang, dia masih membuat langit indah.”

 

Kemudian Emak bercerita tentang bintang. Cerita ini didengar dari simbah beberapa tahun yang lalu. Begini cerita  selengkapnya;

 

Puteri sedih sekali. Lembah Seribu Bunga, tempat ia tinggal tidak mengenal matahari selain pendek saja. Dan bila malam keadaannya benar-benar gelap karena bulan tidak setiap saat memperlihatkan wajah. Kesedihan ini semakin terasa saat seorang pangeran bermaksud menguasai Lembah Seribu Bunga dan menyunting dirinya sebagai istri. Pada gunung-gunung menghalangi matahari, pangeran itu mengintai puteri yang rupawan. Bila siang puteri tidak terlalu kawatir dengan pangeran. Tapi bila selimut malam mulai ditebar, ia cemas karena pangeran bisa bergerak sangat cepat dalam kegelapan untuk menguasai tempat tinggalnya.

 

Dalam kesedihan puteri menemui kunang-kunang dan berkata; kunang-kunang maukah kamu menerangi Lembah Seribu Bunga setiap malam dengan cahayamu?

 

“Oh, sayang sekali, Puteri, aku tidak bisa  melakukannya. Aku hanya  kebetulan melintas di tempat ini untuk mencari makan.”

 

“Aku akan menyediakan makan untukmu.”

“O, terima kasih sekali, Puteri, kalau kau mau melakukannya. Tapi aku tidak berani memenuhi permintaanmu karena Pangeran akan membunuhku begitu tahu aku memberikan cahaya tubuhku padamu.”

Puteri sedih mendengar jawaban itu.

 

“Kau sebaiknya menemui bulan.”

Puteri tengadah. Langit tanpa cahaya. Aku tidak mungkin pergi ke sana. Bulan terlalu jauh. Kunang-kunang mengerti kesulitan Puteri. Kemudian katanya, “Sebenarnya aku bisa meminjamimu sayap,  Puteri. Tapi dengan sayapku  kamu  tidak akan  bisa mencapai bulan. Kamu cuma bisa  mencapai  pohon-pohon. Sebaiknya kamu temui burung.” Puteri menemui burung dan mengatakan keinginannya.

 

“Dengan sayapku kamu cuma bisa mencapai gunung-gunung, tidak bisa ke bulan. Sebaiknya kamu menemui angin, saran burung.”

 

Puteri menemui angin. Angin menjawab, “Aku  tidak  bisa mencapai ruang hampa. Aku hanya bisa mencapai ketinggihan di atas gunung-gunung. Kamu sebaiknya menemui Jibril. Barangkali dia bisa meminjamkan sayapnya padamu.”

 

Puteri pun menemui Jibril. “Ya Jibril, aku ingin menemui Bulan untuk menyelamatkan Lembah Seribu Bunga dari keserakahan pangeran. Kami membutuhkan cahaya bulan sepanjang malam untuk melindungi diri.”

 

“Bulan tidak akan melakukan permintaanmu, Puteri.”

“Ya, Jibril, apakah engkau berkehendak atas kehidupan? Atas takdir bulan, sementara aku belum mengajukan pertanyaan apa-apa terhadap Bulan? Aku tidak bisa mencapainya tanpa sayapmu.”

 

Jibril tidak sampai hati melihat keteguhan puteri. Dipinjamkan sepasang sayap padanya. Puteri menerima dengan suka cita. Ia segera terbang. Pada Bulan, diceritakan semua kesedihannya. Dengan wajah murung Bulan menjawab, “Sayang sekali, Puteri. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk muncul setiap malam. Karena matahari yang meminjami aku cahaya cuma memberi lima belas hari dalam sebulan. Itu pun tidak penuh. Sebaiknya kamu menemui matahari dan langsung meminta ijin darinya. Kalau matahari mau, aku akan dengan senang hati memenuhi permintaanmu.”

 

Puteri menemui matahari dan menceritakan kedukaannya. “Aku tidak bisa memberi bulan cahaya setiap hari, Puteri. Karena itu akan mengacaukan semesta. Lembah Seribu Bunga tempat kau tinggal pun akan hancur bila aku melakukan itu. Tidak ada gunanya kulakukan kalau itu akan menghancurkan semua yang telah tertata rapi. Maafkan aku, Puteri. Sebaiknya kamu bertemu Jibril, mungkin dia bisa membantu.”

 

“Aku  sudah  bertemu Jibril. Dia cuma  bisa  meminjamiku sayap.”

Puteri meninggalkan matahari dengan sedih. Ia  menyesali takdirnya yang tidak bisa berbuat apa-apa dan harus menyerahkan diri pada pangeran. Ia menangis putus asa. Saat itu bintang yang melintas di dekatnya menghentikan laju karena melihat air mata menetes dari pipi puteri. Bintang jatuh cinta melihat paras puteri yang rupawan. Dia menyapa.

 

“O, Puteri yang cantik, kenapa engkau bersedih?”

Puteri mengangkat wajah. Karena bercahaya, semula ia mengira itu kunang-kunang. Tapi bintang menegaskan, ia bukan kunang-kunang. Ia bintang. Akhirnya puteri mengerti, di ruang hampa, selain ada matahari dan bulan, ada juga bintang.

 

“Apakah matahari meminjamimu cahaya?”

Bintang menggeleng. “Cahaya ini muncul dari dalam diriku, dari dalam jiwaku. Tanpa matahari sekali pun aku tetap bersinar. Hanya sering matahari bersinar terlalu terik sehingga mengalahkan cahayaku.”

 

Puteri kemudian menceritakan tentang kesedihannya pada bintang.

“Aku akan dengan senang hati mengabulkan permintaanmu, Puteri. Aku akan memberikan petunjuk arah mata angin. Aku pun akan menawarkan kemerlap cahaya pada kegelapan langit, asal Puteri mau tinggal bersamaku.”

 

“Kalau aku tinggal bersamamu, tidak ada gunanya cahayamu bagi Lembah Seribu Bunga. Wajahku adalah perwujudan seluruh keindahan Lembah Seribu Bunga. Kau bisa memandangku dari ketinggian tempatmu, menikmati diriku, tanpa aku harus ada di dekatmu. Kau juga akan menyelamatkan seluruh rakyat Lembah Seribu Bunga dengan cahayamu.”

 

Bintang sedikit redup. Puteri bernyanyi untuk menghiburnya. Membentangkan bulu-bulu sayapnya yang berkilauan.

 

“Aku tidak bisa tinggal bersamamu karena aku harus mengembalikan sayap ini pada Jibril. Tanpa sayap, aku tak mungkin bertemu kamu. Dan aku tidak akan menyerahkan diriku pada siapa pun. Cukup engkau dengan cahaya tubuhmu yang hangat menjagaku dari kegelapan.”

 

Dengan berat hati bintang melepaskan puteri kembali ke bumi. Karena kecintaannya, bintang menepati janjinya untuk menerangi bumi dengan cahayanya saat bulan dan matahari tidak menampakkan wajah. Sejak saat itulah bintang tidak pernah bergeser dari tempatnya berdiam.

 

Maisaroh takjub mendengar penuturan Emak. Suara itu seperti keluar dari kedalaman masa lalu yang sangat jauh, dari lipatan waktu yang telah purba. Mandapat tatapan tanpa kedip, Emak mendesah panjang. “Ah,  Emak selalu nglantur setiap ingat Simbahmu.”

 

“Simbah bercerita seperti itu?”

Emak mengangguk mantap. “Simbahmu pernah menatapi bintang-bintang itu sepanjang malam. Simbahmu orang yang sangat kuat, Roh. Dia seorang pekerja keras. Meskipun begitu dia tidak pernah mengeluh dengan begitu banyak beban yang ditanggung.  Simbah selalu berkata padaku,  urip  iku  ora perlu neko-neko. Mili wae koyo banyu.

 

Emak tiba-tiba terisak. Maisaroh kaget mendapati perubahan secepat itu. Ia tidak pernah mendapati Emak menangis. Emak begitu tegar meski banyak beban hidup yang ditanggungnya. Tapi gumpalan-gumpalan kisah masa lalu yang dinamai kenangan, begitu saja meruntuhkannya. Dia jadi begitu keropos. Ternyata ada kepedihan yang diam-diam disimpan dan tidak pernah diungkapkan.

Maisaroh  merengkuh Emak berlahan.

 

“Simbahmu terlalu cepat pergi, Roh, sebelum semua  yang dibangunnya sempurna. Apalagi bapakmu yang bajingan itu ikut menghabiskan di meja judi semua yang dibangun Simbah. Sekarang tak ada yang tersisa buat kita. Cuma rumah  reot ini,” Emak menyeka air mata di pipinya.

 

Kesedihan Emak juga kesedihannya. Tidak ada yang bisa melawan takdir hidup. Dia serupa paku yang ditancapkan di punggung sebagai beban bagi jiwa. Sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar mempunyai posisi menawar yang baik. Barangkali hidup ini memang tidak adil. Tapi begitulah kenyataannya.

 

“Sudah malam, Roh. Istirahatlah. Besok Bu Karjo ke sini mau menanyakan lamaran langsung padamu. Pergilah tidur,” perintah Emak.

 

“Emak tidurlah dulu. Saroh masih ingin lihat bintang.”

“Kau akan menerima lamaran itu? Kau bisa mengubah hidup kita tanpa perlu pergi ke Malaysia, Roh. Kau bisa mengembalikan kejayaan simbahmu. Dan yang pasti kita tidak akan kekurangan lagi.” Harapan di dada emak membuncah kembali.

 

“Saroh tidak yakin itu, Mak.”

“Kita banyak berhutang budi sama Bu Karjo. Dia telah membiayai ruwatan kamu. Dia menghidupi kita.”

 

Tapi aku tidak pernah memintanya. “Biar  saja. Asal bukan kita yang mengemis padanya. Dia sendiri yang memberi. Ingat, Mak, kita memang melarat tapi kita tidak akan pernah meminta-minta. Kalau dia memberi duit, itu memang hak kita. Kita sudah bekerja. Kita sudah mencuci semua pakaian keluarganya,” tandasnya tegas.

 

Emak menatap kecewa.

“Aku yakin simbah juga tidak mengajari kita untuk jadi pengemis. Aku seperti mengenal simbah dekat, mungkin lebih dekat dari  sampeyan, Mak. Tidurlah, Mak. Sampeyan capek. Sampeyan lelah ngurus ruwatanku seharian tadi.”

 

Emak tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Sebenarnya dia masih ingin bicara banyak tentang harapan-harapannya, tapi Emak tidak yakin akan didengar Maisaroh. Di kenal betul kekerasan batin anak itu. Emak beranjak dari tempat duduk. Dia memang letih, bahkan sangat letih.

 

“Ngruwatanmuramai nian, Roh,” sambut Prapti begitu Maisaroh masuk halaman. Ia naik ke teras dan mengambil duduk di samping Prapti, menghadap jalan.

 

“Dan sekarang juragan besar itu meminta balas budi atas segala upaya yang pernah dilakukan buat kami,” sinis Maisaroh.

 

“Roh?”

“Ya, dia minta kepastian sekarang.”

“Dan awak pergi ke sini?”

Kalau dia pikir kemiskinanku bisa dibeli, dia tolol. Seekor cacing pun akan menggeliat kalau diinjak. Apa pedulinya. Aku tidak punya urusan sama juragan itu. Maisaroh menoleh pada Prapti. “Kapan kau akan kembali ke Malaysia?”

 

“Awak begitu membenci Badrun.”

Entahlah…

Dulu, di masa kanak-kanak kami bersahabat. Aku, Prapti, Badrun, dan teman-teman sekampung lainnya, di bawah siraman keperakan purnama sidi, di halaman rumah Badrun yang luas, yang belum berpagar seperti sekarang, kami menikmati kanak-kanak yang indah. Main engklek kaji, engklek kapal,dan main gobaksodor, dia menjadi anak panah yang tangkas untuk menjaga rumah dari lawan. Kemudian dengan berlalunya kanak-kanak, kedewasaan memetakan jarak. Membentangkan kanal-kanal yang tak bisa diseberangi. Dia kaya, aku papa. Dia juragan dan aku babu.Sebuah kenyataan yang tak pernah terbayang di masa kanak-kanak. Dan kami tak lagi bersahabat. Aku tak tahu, apa kesadaran akan kekayaan bisa merubah perilaku. Hanya Prapti yang tertinggal, meski kami sebenarnya berbeda, barangkali karena kami sama-sama perempuan.

 

Badrun tak lagi kukenal seperti di masa kanak-kanak. Dia mulai suka mengganggu. Ketika aku membantu Emak di rumahnya, diam-diam dia sering mencuri perhatian. Bila tak ada orang dia menyentuhku, sebuah bentuk penindasan yang selangkah lagi menambah beban batin, di luar kesadaran struktur sosial bahwa kami memang berbeda.

 

Dan aku tidak lagi suka dengannya.

“Kapan kau akan kembali ke Malaysia?”

Prapti menatap lurus ke depan. “Aku belum tahulah. Aku belum menelepon majikanku.”

 

Sepi memanjang.

“Kadang aku rasa tidak ada keinginan balik ke sana. Cukup di sini, di tanah leluhurku saja. Tapi ketika aku menyadari di sini tidak menjanjikan apa-apa, aku selalu berpikir untuk kembali ke sana.”

 

Maisaroh menatap tidak mengerti.

“Tak ada kerja yang enak, Roh. Selalu ada saja yang tidak sesuai dengan diri kita. Apalagi di negeri orang yang punya kebiasaan berbeda. Kita tidak bebas. Kita harus pintar-pintar mengambil hati orang. Kalau tidak, paling banter cuma sebulan saja kamu di sana, setelah itu pulang kampung.”

 

“Aku pingin ikut kamu untuk mengubah hidupku.”

“Emakmu?”

Aku tidak tahu. Ia gamang. Matanya mencari-cari sesuatu di keluasan langit. Kelapangan, kekuatan dari sesuatu yang tidak kasat mata.

 

Sosok tubuh melintas di jalan. Menoleh dan tersenyum. “Ah, kebetulan ketemu kamu di sini, Roh.” dia, Sukri. Masuk halaman, mengambil duduk di depan mereka.”Kamu pasti sudah mendengar dari Prapti, enaknya kerja di luar negeri. Bisa menghasilkan duit banyak. Tentu saja bisa cepat kaya.”

 

“Awak ini bercakap apa tho, Kang?”

“Ti, habis duit berapa kamu waktu berangkat dulu?” Prapti tidak menjawab. “Banyak, bukan? Pasti banyak sekali. Dan kamu dengan mudah bisa mengembalikan. Coba sekarang kau, Roh. Pergi tanpa duit pun masih kebingungan. Kamu tinggal berangkat, Roh. Aku yang akan mengantar. Aku, Sukri. Kemarin Tika. Kemarinnya lagi Rukmi. Minggu ini Sri. Yang lain-lain berikutnya. Tinggal kamu. Apalagi yang mesti ditunggu? Kau tidak mempercayai aku, Roh.”

 

“Aku tidak mempercayai kamu!” Emak sudah berdiri menjulang di belakang Sukri. Matanya mendelik marah. Menarik rambut keriting Sukri keras.”Sekali lagi aku mendengar kamu mempengaruhi Maisaroh, kuhajar kamu. Pergi! Dasar bajingan.”

 

Sukri kaget. Menepis tangan Emak dan menjauh. Dia memaki-maki. “Dasar perempuan tua, mau ditolong malah menolak. Dasar Goblok!” Dia lari.

 

Emak mengumpat-umpat sambil mengacungkan genggamannya dengan marah. “Asu tenan Sukri kae!”

 

“Kita pulang, Roh.” Dia menoleh pada anaknya. “Kamu harus membantu Emak di rumah.” Ia pamit pada Prapti untuk besok kembali main lagi.

 

“Bu Karjo ngomong apa?”

Emak tidak menjawab pertanyaan itu. Bibirnya terkunci. Tapi bahwa Emak menyimpan kemarahan, ia tahu itu. Biarlah, biarlah. Kenyataan memang jauh lebih menyakitkan dari mimpi.

 

“Nanti begitu selesai menggosok, kamu antar langsung pakaiannya ke rumah Bu Karjo. Pakaian sudah kotor semua. Emak ke warung Lek Nah, ngutang minyak sama beras. Kita sudah tidak punya beras sama sekali,” kata Emak.

 

Yang dulu itu sudah dibayar, Mak?

“Ya, ini nanti dibayar, terus ngutang lagi. Emak nggak punya duit. Kalau nggak kayak gini kita nggak bisa hidup.”

 

Maisaroh mendengarkan saja. Hatinya teriris.

“Yang halus nggosoknya,”  pesan  Emak.

Ia mengangguk saja. Tanpa terasa butiran bening membentuk aliran air di pipi. Begitu menyakitkan hidup ini, Tuhan. Agaknya takdir sudah ditasbihkan begini selamanya. Ketakberdayaan mengerat kejam dan menempatkan pada sakit yang tiada habis. Jika tidak ada lagi tempat yang baik bagi kehidupan, kenapa tidak kau ambil saja ruh dari jasad? Toh, tidak ada lagi bedanya hidup dan mati karena tiap gerak cuma punya satu warna. Barangkali kematian menjadi lebih mudah. Kematian  membebaskan dari segala rasa sakit.

 

Bau gosong menguar. Maisaroh terhempas pada kenyataan kembali. Menatap nanar. Oh, Tuhan, pakaian terbakar! Bekas hitam sebesar setrika membuat cetakan jelas. Bagaimana kalau Bu Karjo tahu pakaiannya terbakar? Tentu ini kabar buruk. Oleh ketakutan naluri Maisaroh bergerak. Dilipatnya baju, disembunyikan bagian yang terbakar. Diselesaikan pekerjaan dengan pikiran  kacau. Dan harus dikembalikan segera, kalau sampai Emak tahu pasti akan mendampratnya habis-habisan.

 

Ia menggamit bakul pakaian tergesa menuju rumah Bu Karjo yang tidak terlalu jauh. Hanya seratus meteran arah utara rumahnya, tidak jauh dari kantor kecamatan. Dulu, rumah itu paling bagus di Bantur. Tapi setelah begitu banyak orang pergi keluar negeri dan rumah-rumah bertumbuhan bagai jamur di musim hujan, rumah Bu Karjo tidak lagi menjadi yang terbagus.

 

Maisaroh masuk dengan dada berdebar. Ia jarang sekali masuk rumah besar itu kecuali bersama Emak. Ada perasaan tidak tenang setiap kali masuk ke sana. Seolah ada sesuatu yang selalu mengintai dan siap menerkam.

 

Untung rumah sepi. Kelihatannya tidak ada orang. Sebaiknya memang begitu. Tinggal meletakkan pakaian di ruang tengah, terus pulang. Yang akan terjadi nanti, terjadilah.

 

Usai meletakkan pakaian, ia membalikkan tubuh. Deg! Reflek tubuhnya mundur. Badrun! Kapan dia masuk? Sama sekali tidak terdengar langkah kaki. Keringat dingin membasahi tubuh. Ia teringat peristiwa di kali.

 

“Mau mengembalikan pakaian…., Ibu tidak ada.” Ia terbata.

Badrun tersenyum, ”Ibu sedang narik duit ke rumah Yu Poninten. Ada masalah pengembalian. Yu Poninten tidak mau membayar bunga sesuai kesepakatan.”

 

“Aku pulang saja. Aku cuma disuruh Emak mengantar pakaian.” Maisaroh beringsut mendekati pintu. Badrun bergerak. Tahu-tahu tangannya sudah memegang pergelangan. Maisaroh memekik kaget.

 

“Temani aku nonton video, Roh. Aku sedang muter film. Filmnya bagus, kok. Aku yakin kamu akan suka.”

“Emak nyuruh aku cepat pulang, masih banyak pekerjaan di rumah.” Maisaroh mencari-cari alasan.

“Ayolah, Roh, sebentar saja,” Badrun memperkeras pegangannya.

Maisaroh meringis menahan sakit. “Aku harus pulang.” Ia mengibaskaan tangan, mencoba melepaskan diri. Badrun makin mendekat. Jarak tersisa tinggal beberapa senti saja. Matanya melotot menatapi bintik-bintik keringat di leher Maisaroh. Kemudiaan tatapannya turun ke bawah, mengintip belahan dada yang menyembul di balik pakaian. Napasnya memburu.

 

“Aku harus pulang. Lepaskan tanganku.” Ia meronta.

Badrun menarik tubuh Maisaroh, memeluknya erat. Napasnya membadai menghantam wajah Maisaroh. Bibirnya yang terbuka segera ditutup dengan kasar. Tangan laki-laki itu menjelajah ke mana-mana, meremas, dan masuk ke dalam pakaian. Dan dalam sekali sentak, pakaian Maisaroh robek.

 

Maisaroh histeris. Dadanya sesak kehabisan napas. Ia menendang, menggapai-gapai. Tangannya berhasil menjangkau kalung rantai di leher Bandrun. Ditariknya sepenuh tenaga.

 

Seluruh gerakan Badrun terhenti. Lelaki itu menjerit memegang leher. Menggelepar. Maisaroh lari keluar. Ditutupnya dada yang terbuka dengan sobekan pakaian. Wajahnya basah oleh air mata. Dia berlari, berlari, dan terus berlari.

 

Ditubruknya Prapti. Tangisnya tumpah.

 

“Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa pakaianmu sobek-sobek begini?” Prapti mendekap Maisaroh, membawanya masuk rumah. Emak Prapti tergopoh-gopoh muncul dari dalam. “Cepat ambilkan pakaian, Mi!” perintahnya pada Yatmi. “Keneng apa, Nduk, kok nganti kaya ngene iki,

 

Prapti menghapus keringat, menghapus air mata yang membasahi wajah Maisaroh.

Gek  ndang,  Mi! Terus panggilkan Emaknya Maisaroh!” teriak Emak.

“Mak…!” Maisaroh menahan. “Emakku jangan dipanggil. Emak tidak akan mempercayaiku.”

 

“Keneng apa?”

Dengan terisak-isak, Maisaroh menuturkan kejadian yang baru saja menimpanya. Diceritakan juga kejadian di pinggir kali yang dianggap Emak pertemuan dengan penunggu kali sehingga perlu mengadakan ruwatan sebagai rasa syukur atas keselamatan Maisaroh.

 

“Badrun, bajingan tenan arek iku!” Emak memaki geram.

“Kita laporkan polisi saja?” usul Yatmi.

“Jangan, Yu!” Ratap Maisaroh. Tangannya mencengkeran lengan Yatmi. “Mereka tidak akan mempercayai aku.”

 

“Terus, masak akan kita biarkan saja begini terus. Badrun keparat itu akan semakin menjadi-jadi di kampung ini,” Yatmi juga tidak kalah geram.

 

Senyap. Isak Maisaroh yang terdengar satu-satu. Emak, Prapti, dan Yatmi tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri. Tapi mereka membenarkan Maisaroh. Setelah ruwatan yang diikuti seluruh warga kampung, mereka tidak akan mempercayai cerita yang datang berikutnya. Mereka akan menganggap sekedar lelucon yang mengada-ada. Bagaimanapun warga kampung lebih mempercayai mitos penunggu kali daripada kebenaran yang akan disampaikan Maisaroh.

 

Aku letih sekali, Mak. Letih dan lelah. Aku pingin mati saja. Aku sudah tidak kuat lagi hidup seperti ini. Aku pingin mati.

 

Ia benar-benar patah. Ranting kering itu kehilangan cahaya hidup. Melayang kemana saja, mengembara bukan atas keinginannya sendiri.

 

“Aku pingin mati saja.”

Aja ngomong kaya ngono, Nduk. Ora apik. Sing sabar wae. Yen awake dhewe sabar, kabeh mau bakal ana piwalese.”

 

“Aku capek, Mak. Capek sekali.”

Prapti mendekap Maisaroh makin kuat. Dadanya tersayat seribu sembilu. “Jangan ngomong seperti itu, Roh, tidak baik.” Air mata merembes di pipi Prapti. Dia ikut terisak.

 

“Aku ikut kamu saja, Ti. Aku ikut kemana pun kamu pergi. Aku sudah tidak kuat tinggal di sini. Dia akan terus mengejar aku sebelum aku mati. Aku takut, Ti. Aku ikut kamu saja.”

 

Diam-diam Emak menyeka air di sudut matanya, demikian juga Yatmi. Perempuan setengah baya itu mengerti benar yang dirasakan Maisaroh; takut, benci, dan marah. Semua jadi satu.

 

“Kalau kau tidak mau pergi, pinjami aku duit, Ti. Aku akan pergi sendiri. Pinjami aku duit, Ti,” Maisaroh terus berkata-kata. Meratap.

 

Prapti mengangkat wajah. Tatapannya membentur wajah Emak. Ibu beranak itu bicara dalam diam.

 

“Pinjami aku duit, Ti,” Maisaroh mengguncang bahu Prapti.

Prapti memegang lengan Emak.

“Tenangkan Maisaroh. Beri dia duit,” kata Emak gamang. Setelah itu Emak mengusap wajah sendiri, seolah berhasil melepaskan diri dari beban berat.

 

“Mak?” Yatmi memegang bahu Emak tidak mempercayai yang baru saja didengar.

“Semoga itu bisa mengakhiri semua kesedihan dan penderitaan Maisaroh,” jawab Emak seperti sedang berdoa.

Dengan meminjam beberapa potong pakaian Prapti dan memasukkannya ke tas yang juga dipinjam darinya, Maisaroh menyelesaikan persiapannya. Barang yang dibawanya tak banyak, cuma beberapa potong pakaian ganti. Yang penting bukan pakaian tapi keberanian, begitu Prapti berulang kali memberi semangat.

 

Maisaroh memeluk Emak. “Mak, tolong pamitkan aku pada Emakku. Aku pingin memberi kehidupan yang lebih baik suatu saat nanti. Tapi kalau aku mati di sana, barangkali itu sudah takdirku. Biarkan Emak iklas padaku. Pamitkan aku, Mak. Emak pasti kesepian tinggal di rumah sendirian.”

 

Emak mengangguk. Air matanya menghambur kemana-mana. “Hati-hati, Roh. Yang sabar di sana. Percayalah, Gusti Allah pasti menolong orang yang sabar.”

 

“Yu, doakan aku. Aku titip Emak pada sampeyan. Sering-sering tengoklah biar Emak tidak kesepian.” Maisaroh memeluk Yatmi.

 

Perempuan itu mengangguk dengan dada sesak.  Dibalasnya pelukan Maisaroh erat.

Tanpa menoleh lagi Maisaroh melangkah di sisi Prapti. Mereka mengambil jalan belakang agar tidak ketemu orang-orang kampung. Prapti cuma mengantar Maisaroh sampai pangkalan ojek di luar kampung. Setelah memberi tahu kota-kota mana yang harus dilalui, mereka berpelukan erat. Maisaroh duduk di belakang tukang ojek sambil menahan isak. Pelan-pelan motor merangkak dan meninggalkan Prapti sebagai bayangan kecil. Menuju tanah harapan. Melintas seribu benua. Mengarungi samudra lepas. Apa warna masa depanku?