peta retak

Peta Yang Retak #4

Yogyakarta, Desember, 1986.

 

Namanya Tio. Ninditio Raharjo. Tidak ada yang tahu apa arti nama itu kecuali bapaknya, lelaki yang membaptiskan keinginan lewat nama itu sendiri. Dan ia tidak pernah menan­yakan. Yang ia tahu, nama itu ditempelkan di punggung begitu ia lahir, seperti stempel dihantamkan di atas kertas putih, yang kemudian tinta-tintanya menjadi beban kemanusian bagi jiwa. Apalah arti sebuah nama. Dengan nama atau  tidak, ia toh tetap manusia. Seandainya segala sesuatu tidak perlu dinamai dan ia boleh memilih takdir hidupnya sendiri. Tentu ia memilih tidak jadi apa-apa. Seperti kertas tanpa coret-moret.

 

Tapi kertas harus ditulisi, dicoret, ditumpahi warna, dan kehidupan harus dijalani. Lakon dan peran harus dipegang karena waktu tidak mandeg. Sementara hidup merupakan serang­kaian pilihan dan pilihan. Jalan-jalan yang kita lewati selalu bercabang. Di cabang-cabang itu kita temukan cabang yang lain, demikian seterusnya. Di mana akhir dari setiap perjalanan? Tidak ada yang tahu. Rasanya setiap orang meraba dalam gelap, membuka mata lebar-lebar, mencari pegangan. Tapi apa yang bisa dilihat dalam keadaan tanpa cahaya?

 

Ia cuma lelaki yang marah terhadap lingkungan. Sejak usia belasan ia telah ada di jalan. Bukannya tidak bahagia. Ia bahagia. Masa lalunya baik-baik saja. Bahkan masa kanak-kanaknya kelewat indah. Ia lahir di ujung paling timur pulau Jawa ini, di pesisir pantai, dari keluarga baik-baik. Sejak napas pertama di dunia, laut sudah menjadi sahabatnya. Ia akrab dengan pasir dan bau udara laut yang berwarna garam. Ia mengenal badai seperti mengenal lenguh kecipak camar yang setiap saat menyapa. Kelak orang tahu sesuatu yang tidak pernah berubah dari laut dalam dirinya adalah warna kulit. Coklat terbakar matahari.

 

Tapi ia tidak memilih jadi pantai. Ia memilih jadi perahu yang tidak pernah berdiam dalam satu dermaga. Kemu­dian bukan lautan yang dilayari tapi daratan. Dermaga pem­berhentiannya adalah kota-kota, desa-desa, dan semua tempat yang bernama. Ia terus memburu sesuatu yang berdebur di dada. Sesuatu yang begitu dekat tapi ia tak tahu namanya. Dan ia tak pernah mencari tahu. Karena tanpa nama pun, dia menggerakkan seluruh energi dalam diri. Dan di jalanan Jogja, tempat di mana ia terpikat bau tanah dan keindahan, ia terdampar selama bertahun-tahun. Debu-debunya ia akrabi. Pojok-pojok kelamnya ia sentuh. Ia telusuri.

 

Sampai suatu pagi yang tidak ia kenali, seorang lelaki membawanya pulang ke rumah kontrakan dengan lebam mematuk-matuk perih. Disemainya napas yang tinggal satu-satu. Lelaki itu bernama Sam. Samudra. Hatinya penuh keluasan seperti namanya. Di dalam dirinya ia menemukan laut. Laut yang telah lama hilang dari dalam jiwa.

 

Dia seorang pelukis. Manusia gelisah yang terus-menerus diburu menemukan kebenaran-kebenaran hati. Lewat goresan dan warna, dijelajahi semesta yang tiada bertepi.

 

Karena kita tidak tahu, di mana akhir setiap perjalanan. Maka kita harus terus berjalan. Jangan pernah berhenti. Aku sama seperti kamu. Hanya ekspresi kita saja yang berbeda, katanya di suatu pagi saat tubuh Tio mulai membaik.

 

Samudra itu angin. Dia datang dan pergi begitu saja tanpa bisa diduga. Kadang-kadang begitu lama dia pergi dan cuma meninggalkan satu kata: pameran. Tapi lebih sering tidak meninggalkan apa-apa. Dari lukisan-lukisan yang ­ia tinggal di kontrakan, Tio mulai menyukai warna yang dilebur di atas kanvas. Ia menemukan cakrawala. Menemukan perahu. Dan tentu saja menemukan laut. Kembali membaui masa lalu. Mulailah ia membuat coretan-coretan di atas kertas yang ditemukan di kontrakan. Meski tidak sempurna tapi tidak terlalu sulit, karena nilai menggambarnya di sekolah dasar tidak buruk-buruk amat.

 

Mungkin hidup harus dimulai dari sini. Tapi siapa yang tahu hari esok?

 

Udara meraup hawa dingin. Sebatang pohon kering membelah bulan. Bayang cecabangan mencapai beranda menyentuh lutut Sam. Tio mengambil duduk di sampingnya. Bersemuka dengan rembu­lan. Asap rokok mengambang. Helai tipis menambah keperakan udara..

 

“Apa yang akan kau lakukan?” suara Sam menyelip. Tio menggeleng. Apa yang bisa dilakukan lelaki yang tidak tahu masa depannya sendiri? Sekali lagi ia menggeleng. “Aku tidak tahu.”

 

“Kau suka melukis?”

“Aku tidak tahu. Cuma iseng saja daripada nggak ada kerjaan. Aku sendiri nggak tahu mau melakukan apa.”

“Kau ingin kembali ke jalan?”

“Aku lebih tidak tahu itu.”

“Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Tapi kalau aku boleh mengajukan saran. Melukis saja. Kulihat kamu ada bakat untuk itu. Tapi mesti banyak belajar lagi. Kompo­sisi yang kau buat harus lebih diperhatikan.”

 

Diam.

“Kalau mau, kamu bisa memakai kanvasku.”

“Aku tidak mengerti apa-apa tentang melukis?”

“Belajar. Kita harus belajar. Aku pun masih belajar. Tidak ada keajaiban. Pencapaian bukan gerimis di musim hujan.. Harus melalui tahapan-tahapan tertentu. Step by step. Tinggal mau atau tidak bersusah payah melalui tahapan itu. Tapi terserah. Hanya kamu yang tahu, apa yang terbaik buat dirimu. Kamu bisa menggambar masa depan sesuai keingi­nanmu.”

 

Menghembuskan asap. “Aku tidak tahu apa yang ter­baik untukku?”

“Mengalir saja. Air selalu menuju muara. Menuju ke laut.”

Ya, mungkin memang harus begitu. Mengalir.

 

Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Di antara karna­val kebisingan dan riuh rendah pekik knalpot membusukkan udara, yang ada hanya diriku. Lalu lintas jantung memadat. Pusaran membentur hampa. Tidak ada  apa-apa. Aku berjarak pada semesta.

 

Entah apa yang kucari di sini?

Seorang lelaki masa lalu melambai. Tio melambai. Membalas. Tapi tidak mendekat. Ada seseuatu mengalir deras lewat urat-urat kaki dan menyeret menjauh. Ia melangkah pergi.

 

Mendorong daun pintu. Kejut menyergap pikiran Tio. Sam sedang melipat sajadah. Lelaki berambut gondrong itu orang yang taat juga rupanya. Wajahnya masih menyimpan butiran air. Terlihat segar.

 

“Kenapa?” dia menoleh.

Aku tidak tahu.

“Kau sholat juga?” tanyaku bodoh.

Di jalan, Tuhan sudah lama mati. Agama cuma milik orang yang baik saja. Orang-orang yang berhati bersih. Orang-orang yang tidak mengenal kekerasan hidup.

 

“Aku sudah lama tidak melakukan seperti yang kau lakukan, Sam.”

“Tidak ada yang memaksamu untuk melakukan ini. Setiap orang menjalani hidup dengan caranya sendiri. Kita punya posisi menawar yang baik terhadap hidup. Kita punya pilihan-pilihan. Kamu mau jadi baik atau buruk tergantung pada dirimu sendiri. Aku hanya sedang menziarahi diriku. Aku juga bukan seorang hamba yang baik dan taat. Aku cuma sedang belajar mendengarkan hati.”

 

Aku tidak mengerti. “Bertahun-tahun aku menjalani hidup dengan caraku sendiri. Aku mendengarkan hati. Tapi hidupku begini-begini saja. Tidak pernah berubah.”

 

“Kamu yakin itu hati?” Sam memasang kanvas pada tripod.

Di manakah hati? Benarkah selama ini ia mengikuti hati? Hati yang mana? Ada berapa banyak hati dalam diri kita? Setiap orang punya keyakinan. Dari mana asal keyakinan? Apakah manusia terdiri dari dua bagian? Dua rongga? Dua ruang kosong yang ketika hidup menggelinding akan terisi dengan sendirinya. Ruang kebaikan dan keburukan. Kemudian keduanya bertarung memperebutkan jiwa.

 

Bertahun-tahun hidup dijalani begitu saja. Tanpa pernah mempertanyakan apa sebenarnya yang sedang dilakukan. Apalagi yang ia cari dalam hidup, sama sekali tidak terlintas. Dan kini ketika kenyataan masa lalu membuatnya tersi­sih. Terasing. Sam, lelaki yang baru beberapa hari dikenali, memaksanya menoleh ke belakang. Menengok cermin hati. Betapa wajahnya bopeng-bopeng tidak karuan. Lusuh.

 

Pertanyaan yang sudah menggantung di kerongkongan urung meluncur. Sam sudah tenggelam dengan sketnya. Ia mendekat. Mengamati.

“Bagiamana kau mulai melukis?”

“Mulai saja dari hal yang paling dekat dan paling kamu ingat.”

Segitu mudahnya?

 

Tiga belas kali lemparan udara, koin kembali ke telapak tangan. Gambar hewan. Ini koin terakhir. Koin keber­untungan di lipatan angka sial. Tio memberikan koin pada penjual mainan keberuntungan. Aku ingin satu slop  rokok, katanya  dalam diri. Ia mencomot satu, sembarangan. Bergegas membuka. Ya! Tiga belas keberuntungan, teriaknya girang. Dikembalikan kertas  bernomor tiga belas pada  penjual  dan ditariknya satu slop rokok.

 

Ia melangkah pulang dengan tersenyum.

Di warung depan kontrakan, ia berbelok. “Aku punya rokok satu slop, Mbok. Bisa nggak buat ganti hutang-hutangku.” Mbok Har menganguk-angguk. Itu malah lebih. Ditariknya sobekan-sobekan kertas yang menancap di paku. Mengangsurkannya. Tio mengulurkaan satu slop rokoknya pada Mbok Har. “Kalau masih sisa, aku mau makan sekalian, Mbok. Lapar. Sudah seharian perut belum kemasukan makanan.”

 

“Beli rokok di mana?”

Tio tertawa. “Ini hari keberuntunganku. Aku menukar satu slop rokok itu hanya dengan satu koin seratus rupiah.”

 

“Sam kemana? Kok tidak pernah kelihatan?”

Ia menggeleng. Sudah tiga minggu Sam tidak pulang. Dia datang dan pergi begitu saja tanpa bisa diduga. Mbok Har menyodorkan piring nasi. Tio menyerbu penuh nafsu. Waktu terbaik untuk makan adalah saat lapar. Makanan paling tidak enak pun bisa terasa nikmat. Coba saja kalau tidak percaya. Hanya saja sekarang tidak banyak orang yang mau berlapar-lapar kecuali yang benar-benar kelaparan.

 

Seorang bocah lusuh menyentuhkan ujung jemarinya. Ia menoleh dengan mulut penuh. “Apa?” tangannya terulur, meminta. “Kau sudah makan?” si bocah menggeleng. Ia memang­gil Mbok Har, meminta sepiring nasi lagi. “Makanlah.” Mereka makan bersama dalam kesenangan yang tidak terkatakan. Hanya mulut-mulut penuh yang tidak lelah mengunyah.

 

Usia memenuhi perut, Tio menyalakan sebatang rokok. Si bocah masih sibuk dengan makanannya. Lahap benar dia. Mu­ngkin seharian belum makan seperti dirinya. Tak ada duit, apa yang bisa dipakai buat makan. Segala sesuatu harus dibeli sekarang. Sam memang menyuruhnya makan di situ kalau lapar, besok kalau dia pulang akan melunasi semua pada Mbok Har. Tapi siapa yang tahan ngutang setiap hari? Tak baik me­nggantungkan diri terus pada Sam. Seperti menalikan benang rapuh di leher saja.

 

Selesai makan, si bocah menyambar gelas minum Tio. Dua tiga tegukan, gelas tandas.

“Mau lagi?”

Dia menggeleng.

“Rokok?”

Dia menggeleng lagi. Bibirnya komat-kamit mengucapkan terima kasih. Tio menepuk-nepuk kepala si bocah. Belum lagi menca­pai jalan, Tio memanggilnya. Dia menoleh pada Mbok Har. “Berapa sisa duitku?” Mbok Har memberikan beberapa lembar ribuan. Tio menerima dan menggansurkan pada bocah itu. “Pakai­lah.” Si bocah diam. “Pakailah. Ini rejeki kamu hari ini.” Telapak tangannya menggenggam duit itu dan berlalu setelah mengucapkan terima kasih lagi.

 

“Kenapa kau berikan duitmu?” Mbok Har tidak mengerti.

Aku bisa ngamen untuk menjaga hidupku.

 

Sosok bayang jatuh di atas kanvas. Tio menoleh. Seorang laki-laki dengan bandana merah dan anting-anting bulu masuk. Ia tidak kenal lelaki itu.

 

“Sam sudah pulang?”

O, mencari Sam. Baru kali ini ia ketemu teman Sam. Semula ia pikir Sam tidak punya teman. Dia hidup dalam dunianya sendiri. Dia mengembarai kesunyian tanpa batas.

 

“Lumayan juga lukisanmu. Sayang anatominya kurang bagus. Coba kau belajar anatomi. Aku yakin lukisanmu bisa lebih bertenaga. Sudah berapa lama melukis? Goresanmu mirip punya Sam,” komentarnya.

 

Tio tersenyum. “Sam banyak mengajariku,” jawabnya jujur.

“Belum pulang juga dia?”

Tio menatap pada lelaki itu.

“Memangnya Sam kemana?”

Gantian dia menatap Tio. Dia tidak pernah bercerita padamu kemana dia pergi?

“Tidak.” Tio mengge­leng. Dan bukan haknya untuk bertanya-tanya masalah pribadi Sam. Kalau dia mau bercerita sendiri, beda.

 

“Dia tidak ngomong apa-apa?”

Tio menggeleng. Sam ka­dang-kadang memang sulit dipahami.

“Barangkali dia berhasil…” dia menggantungkan kalimatnya. Dan bola matanya segera bisa menangkap wajah Tio penuh tanya. “Enam bulan lalu Sam pameran di Bentara Budaya Jakarta. Pameran itu sukses. Dia dianggap telah menghadirkan perubahan besar seni rupa kontemporer. Pencarian Sam selama bertahun-tahun agaknya tidak sia-sia. Seorang pemerhati seni rupa merekomendasikannya belajar ke Prancis. Tapi itu kalau jadi. Aku belum tahu kabar selanjutnya.”

 

Sam tidak pernah cerita apa-apa. Dia datang dan pergi seperti biasa. Siapa sangka dia menyimpan sesuatu yang luar biasa. Dia mempunyai ketenangan yang terjaga. Tenang dan diam.

 

Lelaki itu menyalakan rokok, meneliti ruangan sejenak. Kemudian membalikkan tubuh. “Oya, namaku Dean.” Di bawah pintu ia berhenti. “Mau lihat pameran nggak? Sebenarnya aku tadi mau ngajak Sam lihat pamerannya Affandi. Dia paling suka gaya ekspresionismenya Affandi.”
Tio mengambil kaos dari gantungan, menjajari langkah Dean.

 

Barangkali saja segala pertemuan tidak akan begitu berkesan kalau tidak ada perpisahan. Keduanya seperti keping dua sisi mata uang. Berapa panjang pun jarak yang mengantarai keduanya, ketika saatnya tiba pasti akan berte­mu. Sebelah menyebelah. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap pertemuan yang selalu berakhir dengan perpisahan.

 

Tio merasa hari-hari yang membuka dunia akan segera terenggut dengan cepat. Takdir yang merangkai dalam kebersa­maan kikis dimakan waktu. Seandainya manusia berkehendak terhadap waktu? Tapi itu tidak realistis. Biarlah waktu memahat setiap kenangan di lantai hati, membingkainya dengan semua kemanisan. Agar setiap kali bercermin, melihat wajah dalam ruang kesunyian, dia bisa menemukan diri lagi. Tidak akan pernah ada yang sia-sia dalam hidup ini.

 

“Aku titip kamar ini padamu. Yang masih bisa digunakan, manfaatkan. Tolong jaga juga buku-bukuku. Meskipun sebagian besar sudah kau baca, aku ingin kau tetap menjaganya. Siapa tahu suatu saat kamu ingin membuka dan mencermati lembarannya, seperti kamu ingin membuka lembaran masa lalu sebagai tempat bercermin. Cuma itu kekayaan berharga yang kumiliki di samping lukisan-lukisanku.”

 

“Tapi kalau kamu ingin pergi sebelum aku kembali, kuncilah semua pintu, titipkan kuncinya sama Mbok Har. Kita sama-sama tak tahu apa yang akan terjadi pada hari esok. Mengalir sajalah. Pada saatnya setiap orang akan menemukan tempat pemberhentiannya sendiri. Maafkan aku untuk kebersa­maan yang tidak baik. Semoga waktu masih mau mempertemukan kita lagi kelak,” Sam merangkul ketat.

 

Tio membalas tidak kalah kuat. Bola matanya mengabur. Susah payah ia menahan agar air matanya tidak jatuh. “Aku akan mengantarmu sampai bandara.”

 

“Tidak perlu. Itu akan semakin membebani hatimu,” tolak Sam halus. Lelaki itu menaikkan tas ke pundak. Sejenak mengedarkan pandangan menjelajah kamar. Seperti akan dirang­kumnya setiap detil yang ada dan disimpan di sudut terdalam. Dia melangkah pelan-pelan.

 

“Sam…,” panggil Tio ketika hampir mencapai pintu. “Aku masih ada hutang padamu.” Dia meringis.

Sam tersenyum. “Lupakan saja.”

Tio mengangguk berterima kasih. “Hati-hati, Sam.”

“Jaga diri baik-baik, Tio. Jangan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.”

Tio mengangguk. Tubuh Sam segera hilang di balik pintu, menyisakan sunyi yang panjang.