peta retak

Peta Yang Retak #5

Dan waktu menjadi tak berasa. Kekosongan memba­wa diri terasing di pulau jiwa. Tidak kenal diri. Kadang sering ia sombong dengan jejak yang pernah dibuat. Padahal semakin banyak bepergian, semakin banyak perjalanan, semakin banyak tempat dikenali, semakin sadar, betapa sedikit semesta yang telah dicapai. Lebih menyedihkan lagi, tempat paling asing, tempat paling tidak ia kenali begitu dekat: diri.

 

Seperti seribu kemarau, seribu perjalanan, musnah ditelan badai hujan sehari. Bau tanah basah tertinggal di lubang hidung. Sementara apa yang tersisa dari kemarau?

 

Tapi ditemukan juga celah kesunyian untuk memasuki keterasingan. Ruang kosong. Dinding-dinding kacanya buram dan berdebu. Flek-flek hitam menempel tebal. Tapi masih bisa dilihat sesamar bayang. Tidak mudah dikenali. Kumal, penuh tambal sulam dan menyimpan luka menahun yang tidak pernah kering. Sampai ia sadar, yang berdiri  sedang menatapinya itu: dirinya.

 

Dean menepuk punggung Tio. “Ayolah, jangan bersedih. Kita nikmati saja hidup ini.”
Mata Tio membelah jalanan. Sungai manu­sia meluberi Malioboro.  Hiruk pikuk.  Terompet-terompet meletup menjadi mesin kebisingan. Desibel kekuataannya bisa membuat kepala pening.

 

Ini akhir tahun.

Tengah malam nanti. Saat detik memasukit nol, tahun akan berubah, waktu akan bergeser. Kemana? Bisakah kita merasakan pergeseran waktu? Rasanya tidak ada bedanya. Tidak ada yang mengganjal. Semua lurus-lurus saja. Cuma angka kalender yang diubah. Selebihnya sama seperti hari kemarin. Bagaimana waktu bisa dimaknai kalau kita tak bisa merasakan pergeseran gerak? Bahwa setiap angka tahun bertambah, berkuranglah usia kita. Rasanya setiap orang berdiri di tempat yang sama selama bertahun-tahun. Menunggu senja yang sama.

 

“Ayolah, hidup cuma sekali. Kapan lagi kita bisa menikmati kalau tidak sekarang?”

“Aku lagi  bad mood. Kau pergi saja sendiri.”

“Sudah di sini, Yo. Sudah setengah jalan. Nanggung.” Tio tetap menggeleng.”Oke, aku pergi kalau kau tidak mau,” dia menjauh. Lima langkah belum lagi diselesaikan, dia memutar tubuh. “Hei, kalau kau sudah mengambil keputusan untuk ikut pameran, kasih tahu aku, ya?”

 

“Apa?” dia tengadah, tidak dengar. Bising sekali.

“Kalau kau mau ikut pameran, bilang  aku!”

Tio  mengiyakan saja. Lebih baik pulang sekarang.  Tem­pat-tempat  yang dulu ia akrabi tidak lagi  menawarkan  rasa yang sama. Mungkin karena perasaannya  yang  lain sekatang. Tempat-tempat  itu tidak menawarkan apa-apa lagi selain kekoson­gan.

 

Dari Senisono, dia melintas perempatan Kantor Pos, kemudian menyusur trotoar depan Bank Indonesia. Satu dua keple menyapa. Ia tersenyum. Berbicara satu dua patah kata. Tapi tidak berhenti.

 

Kemudian masa lalu menghadang. Lima kawan lama muncul. Lidahnya terasa pahit mendadak. Sejak tadi ditolaknya ajakan Dean ke Tugu agar tidak bertemu  mereka. Ternyata takdir tidak bisa diajak bicara. Takdir selalu menempatkannya pada posisi tidak menguntungkan. Tergambar sebuah perkela­hian tidak seimbang yang menyebabkan tubuhnya lebam tidak sadarkan diri sebelum ditemukan Sam. Curang! Satu lawan dua dalam keadaan mendem. Kalau satu lawan satu, pasti beda akhirnya. Dan perih mendadak mematuk-matuk tubuhnya lagi.

 

“Aku mau minta maaf untuk kejadian tidak menyenangkan itu. Pagi-pagi sekali kami mencarimu. Kami menyesal telah meninggalkan kau begitu saja. Tapi kau sudah tidak ada.” Soni menjabat tangan Tio.

 

Semudah itukah? Perih masih terasa. Ia membalikkan tubuh.

Tanti menahan lengannya. “Kita mau ngadain party malam ini, ikut, Yo? Selalu ada yang kurang sejak kau tidak ada.”

 

Tio menyentuh dagu Tanti. Tatapannya menukik di kedala­man mata gadis itu. Apakah itu sebuah ketulusan? Diremasnya kepala Tanti, dilepaskan. Ia melangkah lagi.

 

“Kau tidak memaafkan aku, Yo?”

Tio berhenti. Memutar tubuh sangat cepat. Pukulannya telak menghantam rahang Soni. Lelaki itu terlempar, mengerang. Darah menghambur. Puluhan orang segera merubung menonton kejadian tak terduga itu.
Aku memaafkan kamu.

 

Rumah nyenyet. Sepi.

 

Tio memasang kanvas. Meraba permukaan, menyusur frame. Jemarinya membuat gerakan tanpa bentuk. Mengambil jarak beberapa langkah. Kanvas dalam fokus. Ia memandang lama. Kamudian membuat gerakan kecil, mengambil kuas. Dan terpaku kembali. Hembusan napasn­ya menderu. Dilemparkannya kuas. Rebahan di atas tempat tidur. Matanya menerawang langit-langit kamar. Sen­yap. Lalu ia bangkit, meneliti jajaran buku di dinding. Mencomot satu dan mulai membaca. Tidak lama. Mendengus kesal. Dilemparnya buku, mengambil gitar dan beranjak pergi.

 

Jam dua belas malam lewat. Satu dua pengendara motor lewat dengan knalpot mengacaukan kehenin­gan. Langit bersih. Bulan sabit mengambang di akuarium semesta maha luas. Titik-titik cahaya menyebar seperti keramaian metropolis dilihat dari atas. Angin diam. Udara dingin merapat, menusuk-nusuk sampai dalam tulang.

 

Ndak ke Malioboro?” sambut Pak Man, penjual  angkringan langganan.

Tio menggeleng. Tengadah. Matanya sibuk menjelajah langit.

“Langit bersih, Yo. Kelihatannya hujan tidak akan turun,” katanya lagi, mengikuti pandangan Tio sambil mera­patkan sarung penahan dingin. “Bulan memang membuat udara lebih dingin, ya?” lanjutnya seraya meletakkan segelas jahe panas di hadapan Tio. Dia hapal benar kesukaan Tio.

 

Ia masih menatap langit, seolah ingin menyingkap tirai kegaiban di balik tebaran bintang-bintang. Menjelajah segala kemungkinan.

 

Seorang perempuan muda masuk. Sejenak menatap keasyikan Tio memperhatikan langit. Tas bawaannya yang tidak begitu besar diletakkan di samping Tio.

 

“Apa, Mbak?” tanya Pak Man.

“Teh panas. Teh panas ada, Pak?” dia duduk di atas tikar. Tio menggeser duduknya tanpa mengeluarkan suara. Ia masih tengadah. Perempuan itu mengikuti pan­dangannya. Kelihatannya dia juga suka menatap langit.

 

Pak Man mengangsurkan teh panas. Perempuan muda itu mengangguk, berterima kasih. Teh diaduk, diminum sedi­kit. Dia memeluk lututnya untuk menahan dingin dan kembali menatap langit.

 

Maafkan aku, Mak. Tiba-tiba dia terisak. Bola matanya merebak penuh genangan air.

Tio menoleh dalam ke­jut. “Langit bisa membuatmu menangis?”

Dia sibuk meredahkan tangis. Tio meneliti dandanannya. Sederhana sekali. Rambut yang sedikit berombak diikat dengan karet gelang. Kulitnya kuning langsat seperti orang kebanyakan. Tapi ada sesuatu yang meletup-letup dalam bola matanya. Sesuatu yang seperti  bara. “Namaku Ninditio Raharjo. Kau bisa memanggilku Tio.” Ia mengulurkan tangan. Tapi cuma dijawab dengan pandangan kosong. “Aku memang bukan orang yang baik. Aku cuma orang yang sedang belajar jadi baik. Aku bisa mengerti sikapmu. Sebagai perempuan pejalan, sikapmu bagus. Memang harus begitu, selalu waspada terhadap siapa pun yang kita temui di jalan. Kalau perlu harus curiga.”

 

Tidak ada suara lagi. Seperti tidak pernah menga­takan sesuatu, ia kembali menekuni langit. Si perempuan kembali mengikuti. Pelan-pelan tubuhnya menahan guncangan dari dalam. Dan isaknya terdengar lagi. Ada begitu banyak beban ditanggung. Matanya basah. Wajahnya basah. Entah kekuatan apa yang meliar dalam diri Tio. Disentuhnya bahu perempuan itu. Ditekan berlahan.

 

Menangislah. Menangis­lah. Jangan ada yang kau tahan. Lepaskan semuanya. Bebaskan dirimu. Kemudian perempuan itu benar-benar menangis. Lepas. Dan berhenti dengan sendirinya.

 

“Bagaimana?”

Dia memandang dengan perasaan yang sulit diterka.

Tio kembali menjelajahi langit.

“Aku Saroh. Maisaroh.” Dia memperkenalkan diri. Tio menoleh. Dalam keremangan malam rambutnya berjuntai menutup sebagian wajah. Hidungnya yang tinggi membuat garis tegas wajahnya yang cenderung persegi semakin tampak. Bau asing menguar, entah dari tubuh atau pakaian. Bau yang dia tidak tahu namanya.

 

“Kamu mau dengar ceritaku tentang langit?” Tio mengangguk takjub. Seperti tidak dipercayai pendengarannya. Tidak menunggu persetujuan, Maisaroh membuka cerita; Langit mengin­gatkanku pada Emak. Pada Simbah. Tapi aku tidak pernah menikmati kebersamaan dengan simbah. Simbah sudah tidak ada ketika aku bayi. Aku hanya mendengar cerita ini dari Emak ketika kami sama-sama menatap langit.

 

Maisaroh menunjuk kubah langit sebelah barat. “Itu  lintang  sore.  Lintang fajar.”

Cerita yang pernah didengar dari bibir Emak kini dituturkan padanya. Tio mendengar dengan hikmat. Ketika cerita berakhir, kembali bahu Maisaroh terguncang isak.

 

“Aku telah melakukan sesuatu yang neko-neko. Aku pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Emak. Aku tidak punya  pili­han lain,” getir sekali suaranya.

 

“Kamu sudah melakukan hal yang benar.”

Maisaroh mengangkat wajah, menyapu raut muka di depannya. Puluhan orang di kampung akan menganggap bodoh tindakannya dan mencaci maki sebagai perempuan yang tak tahu diuntung. Tapi lelaki ini? lelaki yang baru beberapa saat dikenalnya, menerima semua itu sebagai suatu kebenaran yang harus dilakukan? Kenapa dia membenarkannya? Tiba-tiba Mai­saroh merasa harus mengambil jarak. Karena laki-laki yang melakukan pembenaran-pembenaran biasanya mengambil keuntungan.

 

“Malam masih terlalu larut. Bus ke Pekanbaru yang kamu tunggu baru berangkat besok sore.”

“Aku akan menunggu di sini.”

“Kalau mau, kamu bisa menunggu di kontrakanku.”

Mata Maisaroh benar-benar menatap curiga sekarang.

“Aku tahu kecurigaanmu. Kamu pantas punya praduga macam itu. Aku sudah katakan padamu sejak awal, aku memang bukan orang baik, aku cuma orang yang sedang belajar jadi baik. Aku cuma ingin membantu karena aku juga manusia peja­lan, tidak beda denganmu. Kebetulan aku punya tempat tinggal di sini. Apa salahnya membantu orang lain. Lagi pula angkringan ini sebentar lagi tutup. Berbahaya, malam-malam di luar sendirian.”

 

Apa di dalam rumah benar-benar aman?

“Sebaiknya kamu cari penginapan. Semalam cuma Rp. 25.000,- bahkan ada yang lebih murah dari itu. Jangan me­nunggu di sini.”

 

Maisaroh menatap dalam, seperti sedang menjelajah kedalaman hati Tio dan menerka-nerka apa yang tergurat di sana. Kecurigaan sedikit mengendur. Diperhatikannya Tio yang beranjak membayar minuman. “Sekalian dia,” katanya.

 

Ketika Tio kembali untuk mengambil gitar yang tergeletak di samping Maisaroh, ia berujar, “Terima kasih untuk ceritanya yang indah.” Suaranya begitu tulus.

 

“Kemana?” Entah kekuatan apa yang mendorong bibirnya untuk melontarkan pertanyaan seperti itu.

 

Dalam balutan siluet cahaya bulan, Tio tersenyum getir. “Aku merasa tidak nyaman duduk-duduk dengan orang yang tidak mempercayaiku. Lebih baik aku pulang.”

 

“Maafkan aku.”

“Bukan salahmu. Sudah seharusnya kamu bersikap seperti itu. Berha­ti-hati agar selamat. Aku menghargai sikapmu. Aku hanya merasa tidak nyaman saja.”

 

“Boleh aku menunggu di tempatmu?”… meski aku harus tetap hati-hati.

Bola mata Tio membulat tidak percaya. Senyum terbit di bibirnya. Diserahkan gitar pada Maisaroh, diambi­lalihnya tas Maisaroh. Mereka menembus keremangan.

 

Daun pintu terdorong. Bau aneh,—seperti bau  tubuh Tio—menyergap hidung Maisaroh. Tanpa sadar perempuan itu menyentuh hidungnya yang bagus.

 

“Itu bau cat minyak,” Tio menerangkan tanpa diminta.

Cat minyak? (Kelak dia mengenang bau itu sebagai sesuatu yang terus menempel dalam ingatan dan hidup dalam dirinya.)

 

Maisaroh tidak bertanya lebih lanjut. Ditebarnya pan­dangan menjelajah ruangan. Puluhan lukisan di mana-mana. Tube-tube kehilangan tutup terserakan di lantai, beran­takan. Tio memungguti cat dari lantai.

 

“Kau seorang pelukis?”

Tawa Tio menggema pelan. “Bukan. Aku bukan pelukis. Aku ini cuma seorang pemimpi. Kamu istirahatlah. Tapi tidak ada kamar di sini. Cuma satu kasur, itupun tidak ada dipannya.”

 

Maisaroh bingung menyadari keadaan ruangan itu. Ia jadi menyesali keputusannya untuk menunggu di tempat itu. Tapi tidak mungkin menarik keputusannya lagi. Dili­hatnya Tio mengambil palet. Tio menoleh sebentar dan menyuruhnya istirahat. Bagaimana ia bisa tidur sementara tubuhnya tidak terlindung apa-apa?

 

“Kalau kamu kawatir aku bakal melakukan yang tidak baik padamu, kamu bisa teriak, pintu dan jendela tidak pernah dikunci. Orang-orang kampung sekitar sini pasti dengar teriakanmu dan mereka akan dengan mudah menemukan aku dan memukuli aku.”

 

Tio mulai membuat lengkungan merah di atas kanvas. Warna-warna lain kemudian bermunculan, tumpah ruah. Maisaroh menatapi diam-diam. Ia berusaha tetap terjaga. Tapi lelah yang mendera tak tertahankan. Ia akhirnya tertidur.

 

Pagi. Ia menggeliat. Matahari sudah tinggi. Ya Tuhan, Emak pasti akan memarahinya habis-habisan. Belum pernah ia bangun sesiang ini. Tanpa sadar ia meloncat ban­gun. Ketika melangkah, baru disadari kalau ia tidak sedang berada di rumah. Maisaroh menepuk dahinya. Bodoh.

 

“Kalau masih mengantuk, tidur saja,” kata Tio pelan.

Maisaroh menggeleng pelan. Jadi dia duduk di situ semalaman? Ia mendekat, memperhatikan yang dilakukan Tio. Seluruh bidang gambar sudah penuh warna tapi tangannya masih menari lincah di atas kanvas, menyapu tekstur dan bentuk. Warna merah bertebaran ke mana-mana. Bau tubuh Tio yang khas mengelus hidungnya. Aku suka bau tubuhnya. Tatapannya pindah ke tubuh Tio yang kebetulan tidak memakai kaos. Kulitnya coklat terbakar matahari. Otot-otot lengannya menonjol, seperti sedang bercerita begitu banyak lakon yang pernah dijalani. Dadanya bidang memancarkan aroma kejantanan yang luar biasa. Kuduk Maisaroh meremang mem­bayangkan pikiran yang melintas dalam benak. Ia tidak pernah merasa begitu dekat dengan seorang laki-laki.

 

“Kalau mau mandi, di belakang,” kata Tio lagi tanpa menoleh.

“Ya… iya.” Ia tergagap. Untung Tio tidak menga­mati perubahan warna mukanya.

“Nggak ke terminal?”

“Nggak. Aku ke terminal kalau lagi bokek saja. Tadi malam juga tidak ke terminal. Cuma nongkrong di angkrin­gan Pak Man. Lagi suntuk,” dia masih saja menggores di atas kanvas.

 

Melihat Tio begitu serius, Maisaroh tidak ingin meng­ganggu. Dipungutinya cat minyak yang berserakan di lantai. Buku-buku yang berserakan tidak karuan dirapikan. Kanvas-kanvas dirapikan. Seluruh ruangan disentuh. Saat Tio menyelesaikan lukisannya, dia kaget mendapati ruangannya bersih dan rapi. Dia menatap Maisaroh takjub. Terima kasih, cuma itu yang keluar dari bibirnya. Matanya menjelajah manik mata Maisaroh dan menemukan sesuatu yang berkilat-kilat di sana. Dan bintik-bintik keringat di wajah Maisaroh berkilauan seperti embun ditimpa cahaya pagi.

 

Tangan Tio bergerak lembut menghapus butiran bening dari wajah Maisaroh. Raut halus itu dengan cepat berubah warna. Tawa Tio meledak kemudian. Bukan tawa mengejek tapi geli. Maisaroh kebingungan. Wajahnya memerah. Ia tersadar saat Tio membawanya ke depan cermin. Cat minyak basah di tangan Tio tertinggal di wajahnya. Maisaroh tersipu dan lari ke kamar mandi. Sekali lagi dilihatnya wajahnya pada cermin air. Ujung jemari Tio terasa masih tertinggal di sana.

 

Di dalam, rumah tawa Tio masih terdengar samar-samar

 

“Kau benar-benar ingin pergi ke sana?”

“Aku tidak punya pilihan lain,” kata Maisaroh gamang.

Apakah benar ada jalan yang tak bercabang? Sebuah ketidakpunyaan pilihan sebenarnya pilihan juga. Yang membedakan barangkali cuma satu: keberanian. Tak banyak orang yang punya keberanian dalam menghadapi hidup.

 

“Banyak cerita sedih yang pernah kudengar …”

“Aku tahu. Prapti juga ngomong begitu. Tapi kalau mendengar cerita-cerita itu aku tidak akan jadi pergi.” Maisaroh menarik napas panjang. Helaannya terdengar berat. “Tidak akan ada yang mengubah hidupku kalau bukan aku  sen­diri yang mengubahnya. Lagi pula sudah separuh jalan. Aku tidak akan  pulang sebelum berhasil.” Itu keberanian luar biasa dari orang tidak mengenal dunia selain tanah kelahirannya. Seorang petualang muda yang siap menguak semesta baru.

 

“Tidak banyak orang baik di dunia ini.”

Maisaroh terisak perlahan. Kenyataan ini ternyata  jauh lebih menakutkan,  Mak.

“Aku tidak takut pada orang. Aku percaya kalau aku bersikap baik, tidak akan ada orang yang menyakitiku. Aku lebih takut pada kemiskinanku,  kemiskinan kami.  Kamu tidak akan berkata seperti itu  kalau menjalani hidup seperti aku. Aku ingin mengalir saja. Kupas­rahkan seluruh hidupku pada Tuhan. Kalau  aku  harus  mati dalam perjalanan ini, aku ikhlas. Barangkali sudah takdirku. Tapi setidaknya aku sudah melangkah pada sesuatu yang  kuin­ginkan. Sesuatu yang membebaskan jiwaku.”

 

Hati Tio bergetar mendengar ucapan itu. Kekerasan batin seperti itu tidak mungkin dihentikan. Maisaroh lebih punya keberanian daripada dirinya.

 

Sore harinya, Tio mengantar Maisaroh ke terminal bus.

 

“Bang, aku titip adikku ke Pekan Baru,” kata Tio pada kondektur bus.

Kondektur menatap Maisaroh seperti mau menelanjan­gi.

Aku benci tatapan lelaki yang menginginkan diriku. Mai­saroh bergeser, berlindung di balik tubuh Tio. Wajahnya men­yiratkan ketakutan.

 

Tio mendekat kondektur, menarik kerah bajunya. Tangannya yang menggenggam pisau lipat menempel rapat di perut lelaki itu.

 

“Kalau kudengar berita tidak baik tentang adikku. Orang pertama yang kucari kau!  Aku sendiri yang akan mero­bek perutmu,” ancamnya.

 

Kondektur mengangguk takut, “Suruh adikmu  naik,” dia meninggalkan mereka.

Maisaroh menarik napas lega. “Dia tidak akan mengganggu aku lagi kan?”

“Setidaknya dia tidak akan macam-macam sama kamu,” kata Tio datar seperti tidak yakin dengan kata-katanya sendiri. Ditariknya tangan Maisaroh mendekat pintu masuk bus. “Kau betul-betul yakin akan pergi ke sana?” Tio tak dapat menyem­bunyikan kekhawatiran dalam nada suaranya.

 

“Aku tak punya pilihan hidup.”

Tio menghela napas berat. Maisaroh tidak mungkin diha­langi. Ditatapnya bola mata Maisaroh. Maisaroh menentangnya, merasakan kekawatiran di sana. Hanya pada tatapan lelaki itu, ia merasa terlindungi. Telapak tangan Tio memasukkan pisau lipat dalam genggaman Maisaroh.

 

“Gunakan untuk melindungi diri,” Tio mengajari cara menggunakan pisau itu, lalu ditariknya kalung perak berban­dul peluru kecil dari lehernya. “Simpanlah,” katanya lagi serak.

 

Maisaroh tidak mampu mengeluarkan suara. Ia mengangguk kencang. Ditatapnya Tio dengan mata mengabur. Tangan Tio terulur menghapus butiran bening yang berlahan-lahan turun.

 

“Baik-baik menjaga diri, Saroh.”

Tio menghela tubuhnya naik ke dalam bus.  Kemudian berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

 

Kisah masuknya orang Indonesia ke Negeri Semenanjung seperti dongengan. Dongengan di musim bunga. Kupu-kupu melintas seribu pulau, mengarungi lautan, untuk menemukan taman bunga. Mereka selalu bergembira. Pada kantung-kantung bunga yang dilapisi kenyamanan mereka istirahat, mencecap madu dan menikmati matahari yang hangat karena tanah tetas cuma punya kemarau. Tapi setiap saat mereka harus kembali. Menitipkan telur di ketiak dedaunan yang tidak memiliki bunga. Saat metamorfose selesai, kupu-kupu menemukan sayapn­ya yang indah. Dengan cepat kupu-kupu muda belajar mencium bau bunga yang menggenang, aroma mewangi, dan menyadari musim bunga yang indah ada di benua seberang. Kupu-kupu mengepak sayap melintas lautan.

 

Mereka bermigrasi ke tanah harapan, seperti kita.

Berawal pada masa Portugis dongengan ini dimulai. Manusia-manusia pengembara, mereka umumnya berprofesi: peda­gang, nelayan, hulubalang raja, atau cuma sekedar petua­lang. Memulai pelayaran dari pesisir pantai utara Jawa. Kebanyakan mereka memang berasal dari pesisir pantai utara Jawa  Tengah dan Jawa Timur seperti Tuban, Gresik, Demak, Pekalongan, dan daerah-daerah lain. Meski tidak semashur pelaut Bugis dengan kapal Pinisinya, mereka menantang badai, membela gelombang. Kaum pengembara ini berhasil mencapai tanah Semenanjung dan mendirikan pemukiman di sana.

 

Baru pada tahun 1882 orang Indonesia mulai terorganisir masuk ke Semenanjung Malaysia. Mereka didatangkan untuk mengisi kekurangan buruh Cina di perkebunan-perkebunan tembakau. Proses ini berlangsung lama sampai saat terjadinya perang dunia kedua. Ketika keadaan Indonesia sangat sulit dengan adanya kerja paksa, dengan berkelompok atau sukarela orang-orang Indonesia pergi ke Malaysia untuk bekerja dengan sistem kontrak. Mereka berpindah-pindah dari satu majikan ke majikan yang lain. Kemudian terjadilah sistem tebus.  Mereka yang  berhasil  menebus diri kebanyakan  tidak  kembali  ke Indonesia  tapi  membangun  perkampungan  sendiri  berdasar daerah asal.

 

Pada tahun 1975, ratusan ribu orang Indonesia  menyerbu Tanah  Semenanjung. Mereka lebih dikenal  sebagai  emigrasi gelombang pertama. Gelombang pertama ini pada awalnya  lebih bersifat  politis dari upaya pemerintah Malaysia untuk  men­gimbangi dominasi puak Cina yang bisa  mengancam  ketahanan  politik puak Melayu. Karena itu  selain pekerja yang bekerja di sektor perdagangan, dan jasa, Pemerintah  Malaysia  juga mendatangkan ratusan guru dan dosen.  Lahirnya  Universitas Kebangsaan Malaysia berkat dukungan dosen-dosen itu. Setelah kedatangan gelombang terdidik atau gelombang pertama dinilai berhasil, kebanyakan orang-orang Indonesia tidak kembali  ke tanah air. Mereka menetap di Malaysia.

 

Gelombang kedua terjadi pada tahun 1980-an.  Kedatangan orang  Indonesia bukan lagi dari golongan terdidik. Gelom­bang kedua datang dengan tujuan mengisi kekurangan buruh  di perkebunan kelapa sawit setelah Malaysia melaksanakan diver­sifikasi  besar-besaran perkebunan karet menjadi perkebunan kelapa sawit.

 

Tahun 1990-an, gelombang ketiga terjadi. Kembali ratusan ribu orang Indonesia menyerbu Malaysia. Mereka masuk di banyak sektor kehidupan, mulai dari pembantu rumah tang­ga, kuli bangunan, sampai berdesakan-desakan menjadi  buruh perkebunan yang sudah penuh. Mereka datang sonder keahlian. Modal dengkul. Over tenaga kerja ini merisaukan pemerintah Malaysia. Di samping timbulnya banyak persoalan ekonomi, sosial, dan keamanan. Persoalan yang lebih besar adalah pemerintah Malaysia sedang berupaya melakukan industrialisasi sektor pertanian dengan mensyarat­kan tenaga ahli. Karena itu ratusan ribu tenaga tidak  siap pakai harus dibuang. Pada gelombang ketiga ini muncul isti­lah pendatang haram bagi orang Indonesia yang masuk  secara gelap. Tapi mereka tidak pernah berhenti.

 

Mereka beremigrasi setiap saat. Menggimpikan taman bunga di tanah harapan.

Mereka tidak mengenal musim.