peta retak

Peta Yang Retak #6

Turun dari bus, cuping hidung Maisaroh mengembang lebar. Ia menarik udara sedalam-dalamnya, mencoba menghisap bau tanah harapan. Dari sini katanya sudah sedemikian dekat.  Kenapa tidak tercium bau laut?
Debur jantungnya mengencang menghebat. Pada saatnya setiap orang akan menggenggam mimpinya, seperti aku. Meski kenyataan jauh berbeda dengan mimpi. Tapi aku  sedang membalurnya dengan warna-warna kesukaan.

Ia melangkah semangat. Sesaat kemudian tersadar, ia belum tahu mau lewat mana setelah ini. Celingukan sejenak. Barangkali ada yang bisa menolong. Prapti cuma memberi petunjuk, begitu  sampai di loket Pekanbaru banyak  yang  akan menawarimu menyeberang ke KL. Kuala Lumpur. Benar saja. Belum lagi galau menghilang, lima orang lelaki mendekat.

“Nak mana, Dik?”
“Medan?”
“Banda Aceh?”
“Loksumaweh?
“KL?”

Mereka menyerbu dengan logat melayu yang medok. Maisaroh menatap orang yang berbicara paling akhir. Lelaki separuh baya. Usianya hampir empat puluhan. Mata coklat, rambut keriting dengan tahi lalat di dagu. Dia tersenyum pada teman-temannya. Malaysia ke. Diajaknya Maisaroh melintas lapangan parkir, menuju ruang ukuran dua kali tiga bertuliskan ‘Biro Perjalanan’ di pojok terminal, tak jauh dari pintu keluar. Seorang perempuan muda berkaca mata minus duduk di belakang meja. Dia sedang menulis sesuatu. Maisaroh melebarkan mata. Jadwal pemberangkatan bus ke Jawa yang tertempel di situ, lalu sebuah peta kusam Kuala Lumpur. Penuh coretan, terpasang miring, bagian tepinya sudah hilang, entah direngut siapa. Selebihnya tembok penuh tempelan poster berbagai merek obat dan rokok.

Aku mau ke KL, bukan ke Jawa, katanya dalam diri  tidak  yakin.  Saat  itu seorang perempuan muda,  mungkin beberapa tahun di atas usianya, masuk. Langkahnya berdebum. Perempuan di belakang meja mengangkat muka. Tersenyum. Agaknya dia sudah kenal perempuan yang barusan masuk.

“Halidah? Gimana kabar awak? Kok dah balik?” tanyanya dalam logat melayu yang fasih.

Halidah, perempuan itu, meringis. Jawabnya juga dalam bahasa melayu. “Iyalah. Nengok kampung. Kangen. Lagian Bapak sakit. Tapi sekarang dah sihat (sehat). Dah baik. Jadi aku balik lagi ke KL.” Dia mengambil duduk di samping Maisaroh, kemudian menoleh pada lelaki yang sejak tadi diam. “Sudah berapa banyak yang menunggu di tangsi, Bang?”

“Hampir tiga puluhan ditambah kalian  berdua.” Lelaki itu menoleh pada Maisaroh. “Ongkos menyeberang ke KL Rp. 200.000, ditambah ongkos ke Tanjung Balai,” katanya sambil menerangkan route yang akan dilewati.
“Nab, tolong kasih kuitansi pembayaran.” Memerintah pada Zaenab.

“Apa kerjaku di KL?”
“Jangan kawatir. Nanti begitu sampai di KL, ada sendiri yang   mengurus  pekerjaan. Semua  ditanggung  beres.  Awak tinggal ngikut saja.”

“Atas nama siapa kuitansi ini?”
“Saroh. Maisaroh.”
Zainab menuliskan nama Maisaroh di atas kuitansi, menyobek, dan memberikan padanya. Maisaroh meneliti lembar kertas yang memahat namanya. Lembar kertas yang akan mengantar ke tanah harapan. Cuma selembar! Alangkah mudanya?

“Belum pernah ke Malaysia?” Halidah yang bertanya. Lelaki berambut keriting keluar.       Ia menggeleng.
Halidah mengulurkan tangan, mengajak kenalan. Mereka saling menyebut nama. Halidah melanjutkan kalimatnya, “Santai saja, masuk Malaysia itu cuma begini. Dia menjentik jari kelingkingnya. Semudah awak main ke rumah tetangga. Anggap pergi piknik, tidak perlu dipikir begitu-begitu amat. Kalau ada yang bilang sulit, belum tahu saja dia. Jangan seperti Zaenab, Ke KL sekali, kena tangkap, dan tak ingin balik lagi.” Dia mengejek Zaenab.

Perempuan itu tersenyum getir mendengar reriungan Halidah. “Aku sudah janji pada diriku untuk tidak balik lagi ke KL. Lagipula aku sudah ada penghidupan di sini. Memang tidak segede upah di KL tapi tak apa-apalah.”

Ada sesuatu yang susah payah disembunyikan, dikubur agar tidak mencuat jadi cerita. Halidah tertawa mendengar jawaban Zaenab. Dan keingintahuan Maisaroh tak kesampaian. Zaenab kelihatan begitu terbebani kenangan buram. Mungkin hidup memberinya kemalangan yang jauh lebih besar dari pada aku.

Pukul 4 sore. Matahari mulai rebah. Maisaroh, Halidah, dan dua teman yang datang sesudahnya diangkut sebuah mobil meninggalkan Pekan Baru, menuju Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara. Saat gelap utuh menyelimuti malam, mereka masuk pelataran sebuah rumah kayu 8×5 meter,  200 meter lebih arah utara sungai Kapias. Letaknya sedikit tersembunyi berbatasan dengan hutan bakau dan tidak jauh dari perkebunan kelapa sawit, tapi masih bisa dijangkau.

Turun dari mobil, Maisaroh mengendus bau garam menggenang. Inilah bau laut yang kukenal. Apa sudah demikian dekat? Ia tidak tahu sedang berada di titik mana di daratan maha luas ini. Tapi bahwa mereka dekat dengan laut, ia bisa merasakan karena negeri leluhurnya yang di dalamnya berdiam seribu gunung, juga menyimpan laut.

Si rambut keriting, mengetuk pintu perlahan.
“Karim, buka pintu.”
“Siapa?” terdengar suara dari dalam.
“Hasan. Ada beberapa kawan kita.”
Karim membuka pintu. Suara deritnya seperti mau memecah malam. Tidak ada penerangan di dalam selain dua buah lampu tempel di dinding. Temaram. Kaca semprongnya penuh langes. Tidak pernah dibersihkan. Nyala api tenang. Mereka seperti sedang berjalan masuk perut kegelapan. Puluhan orang lelap di lantai beralaskan tikar pandan dipeluk mimpi. Lima enam orang terbangun, melihat, kasak-kusuk sejenak, lalu merebahkan tubuh lagi. Yang lain cuma merapatkan sarung yang dipakai selimut.

Hasan memberi mereka tikar dan menyuruh tidur. Tapi Halidah yang tampaknya sudah kenal lama dengan Hasan. Protes. Bagaimana bisa tidur kalau perut keroncongan. Maisaroh tersenyum. Halidah benar. Mereka tidak akan bisa tidur kalau perut lapar. Apalagi sejak siang tidak ada sesuatu pun masuk perut. Hasan menoleh pada Karim. “Ada makanan buat menganjal perut?”

“Ada, Bang, sisa makan sore tadi. Edi bawa makanannya ke sini.”
Selesai makan mereka rebahan diri. Maisaroh mengambil tempat di sisi Halidah. Kantuk pun menyerang dengan cepat. Satu dua lelaki terdengar mendengkur. Maisaroh masih mencoba terjaga. Sebelum Halidah jatuh tertidur, dalam keremangan Maisaroh menoleh padanya. Perempuan itu balas menoleh.

“Awak tidak bisa tidur?”
“Kenapa Zaenab tidak ingin kembali ke KL?” bisiknya.
“Kau masih memikirkannya?” dia juga berbisik.
Maisaroh mengiyakan.
“Cerita itu memang menyakitkan,” tutur Halidah. Kalau dia tadi tertawa, itu sekedar gurauan. Tiga tahun lalu Zaenab pergi ke KL dan kerja pada sebuah keluarga di wilayah persekutuan Kuala Lumpur. Tapi keluarga itu gila. Sejak datang, Zaenab langsung diperlakukan sebagai budak. Majikan perempuan suka memukul. Karena tidak tahan, Zaenab melarikan diri dan pulang ke sini. Hasanlah yang kemudian menolongnya dan memberinya pekerjaan di loket itu.

“Zaenab tidak pernah melaporkan semua itu?”
“Pada siapa?”
Pada  Siapa? Bulu kuduk Maisaroh meremang mendengar kisah menyeramkan itu. Ia terus teringat wajah Zaenab dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sampai pagi Maisaroh tidak bisa memejamkan mata.

Ribut-ribut itu mengganggu benar. Maisaroh menggeliat. Matanya berat nian. Pagi sudah lama terbangun. Ia sudah mulai terbiasa dengan pagi yang asing. Pagi yang tidak biasa. Dengan mata masih setengah terpicing ia mencari Halidah.

“Ada apa?”
“Biasalah, urusan makan.”
“Memangnya jam berapa sekarang?” Halidah memandang Maisaroh dengan senyum dikulum. “Awak tidak bisa tidur semalam?”

Karim memotong. “Jangan berisik! Tenang, tenang! Semua pasti kebagian.” Kemudian dia membagi dalam kelompok terdiri dari empat lima orang. Sebuah nampan bambu besar dialasi daun pisang diletakkan di antara mereka. Setiap kelompok membentuk lingkarannya sendiri. Edi keluar dengan nasi yang masih mengepul dan membagi rata pada tiap kelompok. Lauknya sayur kacang dan tempe yang dimasak seadanya, ditambah ikan asin. Mereka menyerbu tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya.

Maisaroh mau bergabung ikut kelompok terdekat. Tangan Halidah menahan bahunya. “Bersihkan dulu tubuh Awak.” Maisaroh mau protes. Apa ada makan pagi ke-dua? Tentu ia tidak mau kelaparan di sini. Ia tidak mau mengambil resiko bagi perjalanan yang belum bisa diduga. Halidah tersenyum. Dia bisa membaca pikiran Maisaroh. Dituntunnya Maisaroh ke kamar mandi. “Jangan takut kelaparan. Aku yang membuat masakan itu tadi pagi.” Maisaroh menatap masih dengan pertanyaan tapi ia menurut.

Selesai mandi, tubuhnya terasa segar benar. Halidah menyodorkan menu makan pagi setengah siang. Maisaroh berterima kasih. Lahap benar ia makan. Sebentar saja piringnya tandas. Halidah menawari lagi tapi ia menolak.

“Jadi kamu sudah kenal mereka semua?”
“Setiap hari aku lewat sini, bagaimana tidak kenal.”
Maisaroh mengangguk-angguk. Sisa air dalam gelas ditandaskan sekalian.
“Kapan kita akan  berangkat?”
Halidah menerangkan. Sudah jadi kebiasaan menunggu di tangsi 2-3 hari. Biasanya untuk menggenapkan jumlah penumpang yang mau menyeberang atau menunggu keadaan benar-benar aman. Tergantung situasi lapangan juga. Akhir-akhir ini kabarnya Patroli BC (Bea Cukai) sering beroperasi sampai daratan.

Maisaroh mengiyakan saja. Ia tidak mengerti. Baginya yang terpenting sampai di tanah harapan. Selesai. Ia  menoleh lagi pada Halidah. “Selama menunggu, boleh tidak jalan-jalan? Aku ingin melihat laut.”

Laut? Lama Halidah menghujani Maisaroh dengan tatapannya. Vibrasi suaranya mengalun pelan dan menuntun pada sebuah pertanyaan, “Ada apa dengan laut?”

“Di tempatku ada laut. Aku suka laut. Aku juga suka langit. Ketika aku dalam duka cita, aku menatap langit berlama-lama. Di sana aku menemukan kelapangan. Dan ketika putus asa, aku pergi ke laut. Aku melihat ombak yang tiada putus. Ombak tidak pernah diam. Ketika tidak berhasil menghantam karang, ombak mundur ke belakang, tapi bukan untuk menyerah. Ombak akan maju kembali. Begitu seterusnya. Dan aku melihat keindahan menakjubkan di dalam keduanya.”

Mata Halidah membulat mendengar penuturan Maisaroh. Aku tidak pernah berpikir tentang laut dan langit? Dia berkata kemudian. “Mungkin kita bisa jalan-jalan sebentar.”

“Apa yang lain tidak boleh?” Ia menatap heran.
“Terlalu banyak orang berkeliaran di dekat pantai, berbahaya, bisa menarik perhatian Patroli BC. Itu bisa mengancam keberangkatan kita bersama. Sebaiknya hanya kita saja.”
Hanya kita?

“Aku yang menanggung urusan dengan  mereka.” Halidah menemui Karim sebagai penangung jawab tangsi. Maisaroh mengetuk-ngetuk piring dengan ujung jari. Suara berirama. Lalu piring diputar berlahan. Terakhir ia meletakkan gelas di atasnya, membuat irama yang lebih keras. Dan mengangkatnya, membawa ke tempat penyucian.

Halidah datang dengan senyum. “Kita keluar,” katanya.
Di tempat terbuka, Maisaroh tengadah. Langit membiru. “Bisakah kamu merasakan kelapangannya?”

“Tidak.”
“Tarik napas dalam-dalam, hembuskan kuat-kuat. Jangan hanya dilihat, rasakan, rasakan sesuatu yang mengalir dalam dirimu.  Bisa?”

Halidah menggeleng.
“Kita mungkin harus memulai lebih berlahan.”
Krosak!
Maisaroh meloncat kaget. Seseorang muncul dari rerimbun bakau tidak jauh dari mereka. Seorang perempuan! Wajahnya kotor berdaki, tidak beda dengan pakaiannya. Rambutnya gimbal. Dia tertawa. Kemudian menirukan gaya Maisaroh saat meloncat karena terkejut.

Maisaroh memegang lengan Halidah kawatir. Wong edan!Halidah menarik Maisaroh menjauh. Perempuan itu menunjuk-nunjuk mereka dan berteriak: KL! KL! KL!

“Banyak orang gila di sini, ya?”
“Ada, tapi tidak banyak. Mereka TKI yang frustasi. Tidak berhasil di Malaysia dan beban-beban lain yang menumpuk membuat mereka jadi seperti itu. Mungkin waktu berangkat dulu, berpikir terlalu besar tentang tanah harapan. Ternyata kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Makanya kita tidak perlu  terlalu bernafsu. Santai saja. Kalau  sudah menjadi milik kita, rejeki tidak akan lari dikejar.”

Bertemu laut selalu ada yang ikut bergemuruh dalam hati. Meski  laut  di  sini berbeda dengan laut di tanah leluhurnya. Laut di sini begitu diam. Maisaroh mencium bau airnya, membasuh mukanya.

“Besok kita akan lewat di situ.” Halidah menunjuk rerimbun bakau.
Ia tidak melihat apa-apa.
“Kita akan lewat jalan yang kita lalui tadi, kemudian berbelok di jalan sempit yang terakhir.” Maisaroh memanjangkan leher,  mencari-cari. Ia tidak menemukan apa-apa.

“Jangan mimpi kita akan melalui dermaga besar. Di sini yang ada cuma dermaga kecil. Dermaga kayu.”
Dermaga kayu? Dermaga kayu yang rapuh?

Maghrib, Medio, Januari 1987.

Sebuah perahu pompong, perahu kayu berukuran 16×2 meter lepas dari sungai Kapias di teluk Nibung, Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Perahu menyusur tepian agak merapat. Dedaunan bakau seperti jari jemari kegelapan yang lintang melintang ke arah sungai. Setelah beberapa saat perahu masuk laut lepas di Selat Malaka. Sepi. Tidak ada percakapan mengalir. Hanya deru motor tempel berkekuatan l50. hp, meraung memecah kebekuan pagi. Maisaroh, Halidah, dan tiga puluh dua penumpang lainnya berdesak-desakan dalam perahu. Hening dan penuh harap-harap cemas.

Maisaroh merasakan degup jantungnya berdebar keras mau menelan deru motor yang meraung memecah kebisuan laut. Tidak bisa dibayangkan hatinya. Melayang di atas buih, meniti gelombang, menyatu dengan angin. Seperti mimpi saja, melaju menuju tanah harapan. Tanah impian.

Cuaca tiba-tiba berubah murung. Wajah langit yang semula cerlang cemerlang mulai tertutup awan tebal. Hitam dan pekat. Laut menunjukkan sifat aslinya yang cepat berubah. Maisaroh mendesah  gelisah begitu tengadah tidak  menemukan secuilpun cahaya bintang. Ini pertanda buruk. Ia jadi teringat Emak dengan seluruh pakaian basah yang menumpuk. Emak berjuang setengah mati melawan musim, melawan hujan. Aku benci hujan. Harapannya yang meledak-ledak  kini  mulai  dibalut kecemasan.

Benar saja. Sesaat kemudian hujan turun bercampur dengan angin. Ribuan jarum air menyerbu pompong. Edi mengambil plastik penutup. Lelaki itu sigap membentangkan plastik di atas penumpang. Empat orang penumpang kebagian memegang ujung-ujungnya. Tapi karena plastik yang tidak seberapa lebar itu koyak-koyak, penuh lubang, tetap saja air menembus masuk. Seluruh penumpang kuyup. Gigil menyusup dalam tulang. Halidah menggigit bibir menahan gemeretak yang mau menyaingi genderang hujan. Maisaroh memeluk lututnya kuat-kuat. Dirapatkan badan pada Halidah. Wajahnya membiru. Jemarinya keriput. Sebentar-sebentar ia melongok langit, berharap bintang segera muncul.

Tengah malam, baru hujan berhenti. Seluruh penumpang menghela napas lega. Satu dua orang lelaki melepas pakaiannya, memeras, dan memakainya lagi. Maisaroh masih sedikit menggigil. Edi, awak kapal yang punya tugas beragam itu, memasak air. Enam mangkok air panas digilirkan pada penumpang,  ditambah sepotong roti yang dibawa dari teluk Nibung.

Saat itu terdengar raung motor mendekat. Edi dan Karim terlonjak. “Patroli!” pekik Karim. Edi meloncat ke palka, mencapai motor tempel, dan memaksa untuk berlari dengan kekuatan penuh. Pompong  kecil itu  oleng oleh kekuatan yang menyentak  tiba-tiba, terseok miring. Penumpang menjerit. Wajah mereka pias, seperti kapas. Karim berjuang menenangkan mereka. Namun pompong sarat penumpang itu tidak juga berlari kencang. Dengan mudah Patroli BC berhasil  mengejar. Karim  yang bertindak sebagai tekong berusaha untuk  tetap bersikap tenang. Dia melambai pada kapal patroli.

“Tak apa-apa. Semua bisa diatur,” dia berusaha meredakan ketegangan penumpang. Lelaki itu melempar tali ke kapal patroli. Meluncur, kemudian menghilang ke dalam kapal. Seluruh penumpang menahan napas. Waktu terasa merambat demikian lambat. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Untuk menggerakkan tubuh saja tak ada keberanian. Semua terkunci dan otot-otot luruh tanpa tenaga. Kalau pompong ditahan, habis sudah harapan untuk mencapai tanah harapan.

Lima menit berikutnya Karim muncul dari perut kapal patroli dan meloncat kembali ke pompong. Kapal BC pelan-pelan menjauh. Karim memerintahkan Edi untuk menghidupkan mesin.

“Kita kena dua ratus ribu,” katanya pelan.
Seluruh  penumpang menghembuskan napas lega.  Urat-urat yang tegang mengendor. Halidah meluruskan punggung pada dinding pompong, melemaskan otot.

Kita akan mencapai tanah harapan, kata Maisaroh  sambil menyeka  bintik-bintik. Ia tengadah ke arah timur, meraba lembayung malam. Ada satu bintang. Satu bintang di langit. Bersinar begitu terang: Tidakkah sampeyan melihatnya, Mak?

Malam melewati kurva tertinggi. Pakaian penumpang mulai mengering. Angin berkesiur pelan, membuat gerah sedikit berkurang. Maisaroh tengadah ke langit, membiarkan wajahnya diusap malam. Langit bersih. Bintang-bintang menampakkan diri. Tak ada noda di wajah langit.

Menjelang pagi pompong berhasil memasuki perairan Malaysia. Di batas horison, tanah Semenanjung rebah dalam diam, bermalas-malasan menunggu matahari bangun. Beberapa nelayan setempat hilir mudik melakukan aktivitasnya. Edi membungkus mesin dengan goni basah untuk meredam bising.

Inilah tanah harapan. Dada Maisaroh disesaki haru. Bayangan seraut wajah penuh garis-garis ketuaan melintas jauh lebih benderang merentangkan aroma kenangan yang basah. Ia mendesah perlahan. Matanya merebak diganduli air. Ia menahan sekuat hati agar tidak menangis. Tapi butiran bening luruh tidak bisa dicegah.

“Kenapa menangis?” Halidah meremas lengannya. Dia tergesa membersihkan wajahnya: Aku teringat Emak. Betapa sepi dan sedih Emak.

Halidah merengkuh bahu Maisaroh dan menariknya rapat. Tanah Semenanjung membesar bagai bayangan sedang tertidur. Remang. Jelaga dedaunan bergoyang pelan mengikuti kesiur angin.

Karim memerintahkan semua penumpang rebah di lantai kapal.
“Kalau tertangkap, kita semua masuk penjara dan perahu saya dibakar,” katanya tegas.
Seluruh penumpang tertib berbaring di lantai dengan perasaan was-was. Tidak ada yang protes. Kapal diarahkan ke Parit Jawa, sebuah anak sungai yang menjorok dan dipagari rerimbun pepohonan. Pelan-pelan kapal menepi, menyusuri sungai. Di tepi muara, pompong kandas. Edi berulang kali menambah kecepatan, tapi cuma raungan motor saja yang terdengar. Pompong tak bergerak sama sekali.

“Turun! Turun! Yang laki-laki semua ke air. Dorong perahu rame-rame,” teriak Karim dari ujung depan pompong.

Satu persatu penumpang laki-laki meloncat ke dalam air. Berdiri di belakang pompong yang dalamnya sebatas dada.

“Ayo, terus! Terus! Dorong yang kuat!” Karim  memberi aba-aba dari atas. Pompong tidak juga bergeser. Terjebak dasar sungai yang berlumpur.

“Tidak bisa, Bang. Sungai terlalu dangkal,”  teriak Edi yang ikut turun ke air.
“Coba lagi!” Karim tidak mau menyerah. “Ayo dorong pelan-pelan. Terus-terus. Tambah tenaga. Ya, terus! Terus!”

Pompong bergeser perlahan ke depan, tidak lebih dari satu meter. Kemudian pompong benar-benar diam. Sama sekali tak bergerak. Seluruh penumpang perempuan menahan napas. Satu dua orang berdoa dalam hati. Wajah mereka pucat ditikam perasaan was-was.

“Tidak bisa, Bang. Kalau pompong terjebak lumpur, bahaya. Kalau kita paksa juga, nanti bisa ke depan tapi tak bisa balik. Kita mesti keluar dua kali tenaga,” Edi menjelaskan.

Karim menarik napas panjang. Tubuh kekar lelaki berkulit coklat terbakar matahari itu basah oleh keringat. Garis-garis wajahnya membayang jelas. Dia sedang berusaha keras memecahkan persoalan ini. Seluruh penumpang menanti keputusan lelaki itu dengan harap-harap cemas.

“Naik, naik! Semua balik ke pompong. Kita balik ke laut, ambil rute lain,” suara Karim memecah sunyi.

Satu persatu penumpang kembali ke pompong dengan tubuh mulai menggigil kedinginan. Tapi dua belas orang tetap bertahan di air.

“Kami akan terus menyusuri sungai, Bang,” seorang lelaki berambut cepak angkat bicara mewakili teman-temannya. Mereka sudah tak sabar untuk mencapai tanah harapan.

“Kalian bisa kena tangkap Patroli Malaysia,” hardik Karim. “Bila tertangkap dan kalian bercakap sama patroli, kapalku bisa dikejar, dibakar! Habis kita  semua.”

“Tidak, Bang. Kita janji tidak akan buka mulut kalau kena tangkap. Abang Karim terus saja ambil route lain. Kami selesai sampai di sini saja,” mereka bersikeras.

Suasana tegang. Hawa panas terasa merembes kemana-mana. Karim mendengus marah. “Hidupkan mesin. Kita balik.”

Motor tempel menderu-deru berusaha keluar dari jebakan lumpur. Penumpang serasa ditarik-tarik ke belakang. Begitu berhasil keluar, pompong diarahkan langsung ke pelabuhan. Ini rute yang tidak biasa sekaligus berbahaya. Agaknya Karim panik karena dua belas penumpang yang turun di muara sungai tadi. Dia yakin mereka akan tertangkap patroli Malaysia dan menyebabkan kapalnya mudah dilacak. Maka, walau masih jauh dari pantai, dia memaksa penumpangnya untuk turun ke laut.

“Ayo, semua turun di sini. Cepat, cepat! Semua harus mencapai pantai sendiri. Cepat turun semua. Cepat!” perintahnya kasar.

Penumpang panik. Tak ada pilihan lain. Satu persatu penumpang lelaki melompat dalam air, sedang yang perempuan, melepas pakaian luar dan mengemas dalam bungkusan sebelum turun ke air. Air laut setinggi hidung. Beberapa penumpang yang tidak bisa berenang berteriak-teriak minta tolong. Bukan pekerjaan mudah melewati tanah berlumpur apalagi arus air menggoyang pijakan kaki. Segera saja mereka terpecah, mengambil jalan sendiri-sendiri. Perahu semakin menjauh. Tidak peduli lagi pada teriakan mereka.

Dasar laki-laki, bajingan semua! Maunya cari selamat sendiri. Maisaroh menarik seorang teman yang panik dengan mulut sebentar-sebentar menyemburkan air. Ia gemetar oleh kemarahannya. Perempuan di sebelahnya bergerak kacau dengan wajah serupa mayat. Ia merapatkan tubuh dan menariknya menepi. Mereka berjalan sangat lambat. Tertinggal jauh di belakang. Berkali-kali ia memanjangkan leher, mencari Halidah, cuma kepekatan air membentang. Mereka ditelan kegelapan. Maisaroh mulai kepayahan tapi ia terus bertahan tetap bergerak ke depan.

Setengah jam kemudian mereka berhasil mencapai pantai. Maisaroh tidak menemukan penumpang lain. Mereka sudah pergi menyusup di antara rerimbun hutan bakau. Ia bermaksud mengejar mereka. Tapi perempuan yang dipapah menahan lengannya.

“Jangan tinggalkan aku,” desisnya  mengibah.
Dalam gelap Maisaroh menangkap betapa takutnya wajah itu, barangkali seperti wajahnya sendiri. Sesaat ia bimbang. Detik berikutnya ia memutuskan untuk bersama perempuan itu, meski dengan itu berarti ia tidak tahu jalan.

Setelah napas perempuan itu redah, mereka bangkit.
“Kemana kita?” perempuan itu cemas.
Aku tidak tahu. Tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan pegangan dalam gelap. Kita cuma bisa meraba-raba. Perempuan itu menggenggam tangan Maisaroh. Mereka tertatih-tatih menerobos hutan bakau. Berputar-putar tidak tahu arah. Dan berkali-kali terjatuh karena akar pohon yang melintang.

Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, mereka berhasil keluar dari hutan bakau dan menemukan jalan batu selebar tiga meter. Mereka memutuskan mengikuti jalan itu. Di kejauhan, mereka menemukan titik api. Maisaroh menoleh dengan harapan yang berpendar. Semoga orang itu bisa kita mintai pertolongan. Mereka melaju lagi. Tersisa puluhan meter, mereka berteriak-teriak memanggil, minta pertolongan. Kerlap-kerlip berlahan mendekat, mereka mendengar panggilan itu. Dua perempuan itu menghela napas, merasa menemukan jalan terang. Namun belum habis sukacitanya, mereka terlonjak mendapati kenyataan di depannya.
“Patroli Malaysia!”