peta retak

Peta Yang Retak #7

Pupus. Putus tanpa persemaian. Mimpi telah usai. O, betapa giris kenyataan ini.

Di dalam truk terbuka yang membawanya, Maisaroh tengadah. Bebintang beterbangan di sela pekat dedaunan. Meloncat-loncat menjauh, semakin menjauh.

…. Sudah selesai, Mak. Selesai. Tanpa sisa. Angin memainkan anak rambutnya, menempel dingin pada pori-pori kulit. Mereka saling merapat mengurangi gigil. Perempuan itu menoleh, dalam keredupan matanya dia berkata: Maafkan aku.

Maisaroh menatap lurus dan datar.
Maafkan aku. Dia mengulangi.
Menatap lurus. Menembus kepekatan malam. Bola matanya mengabur tak tertahankan. Ia terisak pelan. Mereka terisak bersamaan. Maafkan aku. Maisaroh sibuk menyeka air mata. Apalagi yang tersisa? Kini tinggal mengikut saja kemana hidup akan membawa. Selalu saja ada yang tidak bisa diajak berdamai: Takdir. Dia serupa benang-benang gaib yang ditempelkan di punggung. Dan kita cuma boneka panggung. Kemana pun digerakkan, ikut. Tak ada kekuatan melawan.

Setelah terguncang-guncang agak lama, truk berhenti. Sebuah rumah, sebuah halaman, Pos Patroli barangkali. Papan namanya tak terbaca. Seorang dengan seragam sama keluar. Mereka berbicara sejenak. Maisaroh dan temannya didorong masuk ruangan dengan kasar.

“Siapa nama awak?” Petugas polisi berpipi gempal itu menunjuk teman Maisaroh. Matanya melotot nyaris tergelincir dari kelopaknya. Jelek benar dia.

“Fitri.”
Brak! “Fitri siapa?” telapak tangannya menghantam meja. Suaranya melengking memenuhi ruangan. Jantung Maisaroh melorot ke perut saking kagetnya. Keringat dingin merembes.

“Fitri Mayanih,” suaranya gemetar.
“Awak?” polisi itu melotot pada Maisaroh.
“Saroh. Maisaroh binti Maimunah,” Maisaroh tidak  kalah gemetar.
“Awak berdua tahu apa yang awak lakukan?” bentaknya.
Dua perempuan itu menunduk. Habis semangat yang menyala dalam dada. Habis digerus ketakutan. Seperti arus menyapu sisi sungai. Tipis, tipis, tanpa sisa. Seorang petugas lain mengaduk-aduk isi tas.

“Ini punya awak?” dia menuding padanya.
Nyali Miasaroh menciut. Wajahnya serupa kapas. Ia tidak berani mengangkat kepala.
“Cakap! Ini punya awak kan? Awak nak buat rusuh di Malaysia? Ayo cakap!”
Telapak tangan lelaki itu melayang, menghantam pipinya. Maisaroh terhuyung nyaris terlempar dari tempat duduk. Pipinya terbakar.

“Mau awak gunakan buat apa nih pisau?”
Maisaroh menunduk
“Mau ngacau di sini!”
Tidak ada suara.
“Awak berdua berdiri. Berdiri!” hardiknya tanpa ampun. Dua perempuan itu menggigil mengikuti perintah. “Sekarang lepas semua baju kalian. Lepas! Ayo, lepas! Siapa tahu awak menyimpan sesuatu di balik baju!”

Maisaroh memejamkan mata perih. Ini jauh lebih menyakitkan dari tamparan tangan. Tak sanggup menahan deraan yang begitu hebat, tangisnya ambrol. Rintihannya pelan melambai di tempat kosong. Ketika perintah itu menggelegar sekali lagi. Gemetar Maisaroh dan Fitri melepas pakaian luar.

“Semua!” bentak lelaki berpipi gempal. Tangannya terulur seperti mau merengut kutang Fitri tapi malah meremas. Gadis itu terlonjak kaget. Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Begitu dua perempuan itu telanjang, mereka memelototi seperti mau menelannya bulat-bulat. Selesai pembiadaban mata, mereka disuruh berpakaian. Dua perempuan itu menarik napas lega.

Usai interogasi, dua perempuan itu digiring ke ruang yang lebih besar. Begitu masuk, wajah-wajah dengan tatapan kosong menyambut. Dalam kesedihan yang tidak terucap, ia tahu, mereka senasib dengannya. Dua tiga orang menggeser tubuh, memberi tempat pada mereka. Yang lain acuh saja, bergelut dengan mimpi buruk kegagalan masuk tanah harapan. Sementara yang lain lagi cuma duduk-duduk, mengenang nasibnya sendiri.

Maisaroh dan Fitri merebahkan tubuh. Menerawang langit dan mengenangkan harapan yang telah hilang. Kosong.

Keesokan harinya, bersama seluruh pencari kerja yang tertangkap, Maisaroh dan Fitri diangkut dengan dua truk terbuka ke pusat tahanan imigrasi Pekan Nenas di negara bagian Johor.

Turun dari truk, seluruh tahanan dibariskan di halaman. Ini pemeriksaan kedua setelah tadi pagi diawal keberangkatan. Udara panas menyengat. Terik membakar ubun-ubun. Maisaroh menyeka keringat yang terus menerus meleleh. Tubuhnya basah. Seorang teman yang tidak tahan dengan panas, meletakkan tasnya di atas kepala sebagai pelindung. Seorang sipir menghardik, menendang dari belakang. Teman itu meringis menahan sakit. Dia berusaha bangun kembali. Melihat kejadian itu Maisaroh menahan keinginannya untuk mengunakan tas sebagai pelindung. Ia tidak ingin bernasib sama.

Ia menahan panas dengan mengalihkan pikiran. Matanya menjelajah komplek penjara yang luas. Melihat keadaan luarnya saja, bisa dibayangkan, betapa tidak menyenangkan tinggal di dalam. Komplek penjara terdiri dari sebuah lapangan utama yang luas, tempat mereka dijemur sekarang. Kemudian bangunan utama berlantai dua, ditambah dua rumah yang lebih kecil dari bangunan utama, mungkin sebuah kantor, beberapa sipir lalu lalang di depan bangunan itu. Gardu pandang di empat penjuru mata angin dengan penjaga-penjaga berwajah bengis yang setiap berapa jam sekali diganti. Dan pagar tembok melingkari komplek tahanan dengan bagian atas kawat berduri dengan aliran listrik tegangan tinggi. Di luar tembok itu masih ada lagi pagar kawat berduri setinggi dua meter, yang memisahkan dari kehidupan ramai.

Sebuah kesunyian yang dikonstruksi rapi.
Usai menggeledah barang tahanan dan mengambili barang yang masih berharga, mereka dibagi seragam penjara. Berwarna gelap lusuh, sudah tidak jelas lagi, dengan nomor dada yang berbeda. Maisaroh mendapat jatah nomor Z 303 dan Fitri mendapat nomor Z 321. Kemudian sipir memisahkan tahanan lelaki dan perempuan. Mereka didorong ke tempat berbeda. Tahanan laki-laki menempati bagian bawah gedung, cuma sedikit saja yang di atas. Sementara yang perempuan menempati lantai dua di sayap kiri. Maisaroh dan Fitri melangkahi beberapa tahanan perempuan yang datang lebih dulu untuk mencari tempat. Mereka acuh saja. Mereka sibuk dengan kesedihannya sendiri. Mereka meletakkan tubuh di sisi tembok, tidak jauh dari kamar mandi. Bau pesing tercium. Pantas tidak ada yang menempati. Mereka bermaksud mencari tempat lain, tapi tidak ada yang lebih longgar dari tempat itu.

Mereka duduk memeluk lutut tanpa suara. Maisaroh tiba-tiba terisak. Wajah Emak berlarian di benaknya. Aku menempati ruang tanpa harapan, Mak. Semua keinginan pada akhirnya bermuara di sini. Apa sampeyan begitu sedih dan kecewa dengan keputusan Saroh hingga semua berakhir seperti ini. Sampeyan tidak ikhlas, Mak.

Ia menyeka air mata. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu nasib bergulir dengan sendirinya. Betapa menyedihkan hidup ketika kita tidak berkehendak apa-apa atas diri. Kau tidak berkuasa atas seluruh yang kau miliki, termasuk tubuhmu sendiri.

Dua perempuan di samping mereka menggeser duduk. Yang sedikit gemuk, berambut pendek bernomor dada Z 108, yang berambut panjang hampir sepinggang, Z 201. Wajah mereka menggambarkan kekosongan yang sama. Dan kebenaran paling mutlak adalah mereka senasib.

“Tertangkap di  mana?” yang bernomor Z 108, bertanya. Belum lagi menjawab perempuan bernomor dada Z 108, itu sudah mengulurkan tangan. “Aku, Atik. Temanku ini Tia. Kami dari Jawa Barat.” Dia memperkenalkan diri.

“Aku Saroh dari Malang.”
“Aku Fitri dari Ponorogo.”
Kemudian dia mengulangi pertanyaannya. Fitri menjelaskan: Mereka tertangkap di luar hutan bakau, tak jauh dari parit Jawa.

“Apa sudah dapat kerja?”
“Boro-boro kerja, kami baru sampai.” Nada suara Fitri terdengar sedih dan penuh penyesalan.

Mereka menganguk-angguk prihatin. Tia kemudian bercerita bagaimana dia bisa tertangkap patroli Malaysia. Awalnya melarikan diri dari majikan karena selama 6 bulan gajinya tidak dibayar. Dia bermaksud mencari majikan lain yang lebih baik. Tapi malang tidak bisa diduga. Dalam usaha mencari majikan baru, tertangkap dan akhirnya dimasukkan di sini.

“Kenapa tidak kaulaporkan majikanmu ke polisi?”
“Selama kamu jadi buruh, tak ada gunanya lapor polisi,” jawab Tia sedih.
Maisaroh mendengar saja cerita itu. Begitu banyak air mata mewarnai jalan menuju tanah harapan. Meski ceritanya berbeda-beda tapi sebenarnya sama: kegagalan. Ternyata ia tidak sendiri dalam kegagalan. Banyak yang bernasib seperti dirinya. Pikiran itu membuat ia sedikit terhibur. Bebannya jadi terasa sedikit ringan. Barangkali saja masih ada kesempatan kedua. Ya, barangkali saja. Siapa bisa menduga hari esok?

Karena lelah, pelan-pelan ia menggelosor ke lantai. Direngkuhnya tas sebagai alas kepala. Tubuhnya terasa lebih enak sekarang. Aliran darahnya lancar mengalir. Saat menggeser kepala, terasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia memasukkan tangan, mencari-cari dalam tas dan menariknya keluar. Bola matanya membulat. Kalung perak berbandul peluru! Jadi mereka tidak mengambilnya? Pasti kalung itu tersembunyi di balik lipatan tas hingga tidak terjangkau petugas yang menggeledah. Padahal ia melewati dua kali pemeriksaan? Ajaib! Tanpa sadar Maisaroh menimang-nimang kalung itu. Tio. Ninditio Raharjo. Bayangan lelaki berambut panjang bermain dalam benaknya.

“Hei, kalung kamu bagus. Tadi tidak diambil sipir penjara?” Atik menyentuh kalung itu. Maisaroh menjelaskan, mungkin kalung itu tadi tersenbunyi dilipatan tas hingga tak terjangkau sipir

“Beli di mana?” Fitri ikut menyentuh kalung itu.
Maisaroh menggeleng. “Nggak beli. Cuma dikasih.”
“Seorang laki-laki?” tebak Atik.
Wajah Maisaroh memanas. Ia tersipu. Bayangan lelaki itu melintas lagi.
“Cakep dong dia,” goda Fitri.
Maisaroh kebingungan menjawab. Wajahnya benar-benar merah. Tapi ia suka getaran halus yang merambat, mengaliri pembuluh darah dan menumbuhkan perasaan yang aneh. Rasa yang ia tidak tahu namanya.

Ketiganya tertawa. Mairasoh makin belingsatan. Ia berharap debaran itu berlangsung lebih lama lagi. Meski harapan itu kosong. Tapi setidaknya mereka bisa tertawa lepas walau dibalut kesedihan. Tawa pertama yang didengar Maisaroh.

Hari-hari hanya menawarkan kebosanan. Setelah semua cerita habis, apalagi yang bisa dikisahkan? Akhirnya cuma diam. Setiap orang bermain-main dengan pikirannya sendiri. Merangkai angan tentang surga yang bernama kebebasan, yang barangkali ada di luar sana. Di sini cuma menunggu takdir yang tak jua bergerak.

“Jam berapa?” Atik menoleh sambil tiduran. Tak ada sahutan. Siapa yang perduli dengan jam: tiga, empat atau lima, tidak ada bedanya. Tapi bukan itu maksud pertanyaan Atik.—Kemarin-kemarin tak ada yang memahami, sekarang semua sudah terbiasa.— Maksudnya, kapan waktu makan pagi setengah siangnya? Tidak ada yang pasti di dalam penjara. Kapan kita akan diadili? Berapa lama kita akan tinggal? Kapan kita akan dikeluarkan? Semua cuma dugaan-dugaan. Prasangka. Mungkin besok. lusa, minggu depan. bulan depan, tahun depan. Yang pasti cuma satu: kami makan sehari dua kali. Pertama, siang, kira-kira pukul dua belas. Kedua, menjelang malam. Hanya itu yang pasti dan bisa ditunggu.

Lia mendadak bangkit duduk. “Seandainya besok kita ditendang balik ke Indonesia, apa yang akan kalian lakukan?”

“Pulang  ke  rumah. Tidak enak kerja di Malaysia lagi,” jawaban Atik.
“Kalau aku sih, pingin balik lagi ke sini. Cari kerja lagi. Untuk apa pulang kalau tidak bawa duit? Malu. Aku sudah habis banyak untuk sampai ke sini. Masak pulang tidak bawa apa-apa.”

Maisaroh memandang Fitri. Aku sependapat dengannya. Aku akan balik lagi ke KL. Lia sendiri juga ingin Balik ke KL. Lagi pula apa yang akan dikerjakan di kampung.—Ya, kalau pekerjaan sih, sebenarnya ada, tapi duitnya tidak segedhe di sini.—Dan semua yang ingin balik ke KL membenarkan itu.

“Kalau aku sih, mending di rumah. Enak, tidak ada yang memerintah.” Atik membela diri.

“Kalau kamu sih, nanti kurus karena kerja terus,” yang lain hanya tersenyum. “Aku pikir, sudah biasalah, ini resiko kerja, ada yang berhasil, ada yang tidak,” lanjut Fitri.

Maisaroh membenarkan: Ini resiko kerja. Tidak ada yang tidak mempunyai resiko sama sekali dalam hidup. Setiap segala sesuatu selalu diikuti konsekuensi-konsekuensi tertentu. Di beberapa bagian penjara terdengar percakapan lain. Tidak begitu keras. Lirih saja. Suara-suara itu juga dalam kungkungan ketakberdayaan.

Maisaroh memasukkan tangan dalam tas, menarik pelan-pelan kalung perak berbandul peluru dalam genggamannya. Ia menemukan sebayangan seorang lelaki dan pertemuan menjadi slide film yang diputar ulang. Semua seperti baru saja terjadi. Ia ingat bau tubuhnya yang aneh menyengat. Tanpa terasa ia meraba cuping hidung dan mengelus pipi. Bekas cat minyak itu membekas dalam hati. Ia tersenyum sendiri mengingat perjumpaan yang mendebarkan itu.

Derit memecah sepi. Daun pintu terkuak. Puluhan orang dilempar masuk. Mau ditaruh di mana lagi mereka, blok sudah sesak. Tapi sipir acuh saja. Setelah mendorong semuanya masuk, dia menutup pintu tanpa bicara. Hanya perasaan senasib yang membuat tahanan lain bergeser, memberi tampat.

Di dekat Maisaroh kebagian satu teman baru lagi. Ia mengajak tersenyum. Kuyu benar wajahnya, seolah dunia sudah runtuh. Pasti baru sekali masuk Tanah Semenanjung. Aku dulu mestinya juga seperti itu. Ia mengajaknya bercakap.

Sore, setelah seminggu mendekam di kamp imigrasi Pekan Nenas para tahanan dibariskan di halaman penjara. Didata satu persatu, lalu dinaikkan ke atas truk. Jumlahnya tidak kurang dari sepuluh truk. Menurut kabar yang beredar di antara teman-teman sepenjara, mereka akan ditendang balik ke Indonesia. Kalau cerita itu benar, betapa menyenangkan kembali pada kebebasan. Kembali pada harapan baru. Satu persatu tahanan naik ke atas truk dengan ribut, tidak peduli hardikan sipir penjara. Kabar tentang kebebasan yang santer beredar, jauh lebih menyenangkan dari pada rasa takut. Tidak jadi soal mau dibawa kemana. Yang penting bebas.

Ternyata kabar itu benar. Mereka dibawa ke pelabuhan. Bau selat Malaka menggenang. Maisaroh mengenalinya seperti saat ia mencium dan membasuh mukanya untuk pertama kali. Di bawah timpahan sinar matahari, kulit makhluk cair raksasa itu berkilauan. Begitu diam. Begitu tenang.

Sebuah kapal sayur menunggu di dermaga. Dengan tertib tahanan naik ke atas. Meski kapal itu sebenarnya disediakan cuma-cuma tapi beberapa awak kapal meminta imbalan sesuatu yang berharga dari penumpang. Satu dua orang yang masih memiliki uang atau benda berharga diberikan dengan berat hati. Tapi sebagian besar tidak memberi apa-apa. Sipir penjara telah menguras habis semua yang dimiliki tahanan.

Kapal pelan-pelan menjauh dari dermaga. Maisaroh menatap tanah harapan semakin lama, semakin  mengecil, hingga tertinggal garis tipis saja.

Dua belas jam lebih terombang-ambing di tengah laut, pelabuhan Snaboi di pantai timur Sumatera mulai terlihat. Kegelapan mulai mengering. Baru pukul dua dini hari. Embun bersenyawa dengan angin melarutkan dingin. Dedaunan kehitaman merunduk menahan beku. Para penumpang merapatkan pakaian.

Saat kapal merapat ke dermaga, beberapa penumpang perempuan menolak turun. Keadaan masih terlalu gelap. Mereka ingin menunggu di atas kapal sampai hari terang. Tapi awak kapal tidak mau mendengar itu, didorongnya perempuan-perempuan itu meninggalkan kapal dengan paksa. Mereka meloncat ke dermaga dengan berat hati. Setelah celingukan sejenak, beberapa perempuan mengikuti laki-laki yang menghilang dengan cepat dalam kegelapan.

Maisaroh menoleh pada Fitri. “Kemana  kita?”
Pertanyaannya hilang ditelan angin. Pelabuhan sepi. Kapal sayur sudah bertolak meninggalkan dermaga. Di bawah kepekatan pepohonan, ternyata keadaan lebih menakutkan daripada di laut lepas. Untuk ikut rombongan, rasanya tidak mungkin, ia tidak tahu kemana mereka pergi. Akhirnya mereka memutuskan mengikuti jalan meninggalkan pelabuhan.

Sebuah truk yang melintas menghentikan laju.
“Kemana?” tanya sopir.
Maisaroh dan Fitri bersitatap kebingungan.
“Naik saja ke atas.”
Fitri memegang tangan Maisaroh mengajak ikut truk: Aku tidak tahu mau kemana mereka?

Sekali lagi sopir memerintahkan naik ke atas. “Ada dua orang teman di atas,” sopir menjelaskan. Maisaroh menoleh pada Fitri dan menyuruh dia ikut truk. Fitri menatap tidak mengerti. Maisaroh tidak bisa menjelaskan alasannya. Sekali lagi ia melihat wajah sopir, dan ia meyakinkan diri, ia tidak suka wajah sopir itu. Senyumnya tidak biasa. Senyum yang tidak bersahabat.

“Kamu berani sendirian?”
Maisaroh mengangguk ragu.
Fitri dengan berat hati meninggalkan Maisaroh. Mereka berpelukan sebelum berpisah. “Hati-hati,” katanya.

Truk menghilang ditelan kegelapan. Maisaroh benar-benar merasakan kesenyapan yang sempurna. Rerimbunan pohon yang memagari jalan bergerak-gerak, seolah akan menerkam. Ia memilih melangkah tepat di tengah jalan, agar kalau ada sesuatu yang bergerak, dengan cepat ia bisa bersikap. Sepi sekali. Nyenyet. Berkali-kali ia menengok ke atas, berharap bintang tetap bersinar pada tempatnya dan menemani menerangi kegelapan.

Aku putri Lembah Seribu Bunga. Aku melawan kegelapan yang melingkupi diri. Tapi apa yang bisa diraba dalam gelap. Aku Putri Lembah Seribu Bunga. Aku mencoba mengakrabi kegelapan yang melingkupiku.

Maisaroh mendesah gelisah. Betapa sulit kalau tidak tahu tujuan yang akan diambil. Ia buta meski dapat melihat. Tuli meski dapat mendengar. Tapi ia tidak mungkin kembali ke tanah kelahiran sebelum berhasil. Tanggung. Sudah setengah jalan. Tidak mungkin surut ke belakang. Apa kata orang-orang kampung kalau ia kembali tanpa membawa apa-apa. Lagi pula setelah kejadian itu, rasanya tidak akan ada lagi tempat di kampung untuknya. Dunia sudah tertutup kecuali ia mau menyerah. Emak pasti akan senang kalau ia pulang. Tapi  hidup tidak akan berubah.

Ketika sebuah truk lagi menghentikan laju di sampaingnya, Maisaroh bertanya, “Kemana?”

Wajah sopir itu terlihat ramah. “Dumai,” jawabnya.
Ia dengar kota itu lebih ramai dari pelabuhan tempat mendarat tadi, pasti ada harapan di sana. Maisaroh naik ke atas truk: Aku ingin kerja.