peta retak

Peta Yang Retak #8

Dalam perjalanan Maisaroh menyatakan keinginannya untuk mencari pekerjaan pada sopir truk. Sopir menyanggupi mencarikan kerja. Ia tidak begitu saja mempercayai perkataan itu. Sopir cuma tersenyum. Ada banyak perempuan seusia dirinya kerja di sana, katanya menerangkan.

“Apa nama pekerjaan itu?”
Setelah berpikir sejenak, sopir menjawab, “Tidak ada namanya.”
Tidak ada namanya? Apakah ada kerja tak bernama? Maisaroh menatap sopir: Aku tidak mau kerja tak bernama.

Sopir tertawa lepas. Tentu saja segala sesuatu mempunyai nama. Kerja ini pun bernama. “Awak ingin balik ke KL lagi, kan?”

Bagaimana dia tahu?
Pagi sudah terbangun saat melewati bundaran Dumai, truk mengambil arah utara. Tidak sampai satu kilometer, truk berbelok masuk jalan kampung, lima puluh meteran, lalu masuk halaman sebuah rumah yang luas. Rumah permanen, mirip bangunan SD Inpres, hanya sedikit lebih kecil. Di depannya berderet pintu-pintu seperti ruang kelas. Di samping bangunan itu ada rumah induk berlantai dua, mirip bangunan rumah penduduk kebanyakan. Sebuah ruang tamu di depan. Lima enam perempuan duduk-duduk di teras menyambut kedatangan dengan pandangan yang tidak bisa dimengerti. Sopir meloncat turun.

“Mama ada?” tanya sopir, pada perempuan-perempuan itu.
Seorang perempuan bergegas masuk. Ia berteriak memanggil. Tidak lama kemudian, seorang perempuan separuh baya tergopoh-gopoh keluar. Usianya empat puluh tahunan. Wajah bulat oval, rambut keriting, dan tubuh gendut. Benar-benar sebuah komposisi yang tidak menyenangkan. Dia lebih mirip bola berjalan.

“Ada teman baru,” kata sopir truk.
“Dari mana?”
“Tak tahulah aku. Baru saja kena tendang dari KL. Aku menemukan tidak jauh dari Snaboi.”
“Bagus enggak?”
“Dijamin kuat,” sopir truk tersenyum.
Sopir melangkah masuk mengikuti perempuan yang dipanggil Mama. Maisaroh bertukar pandang dengan perempuan-perempuan itu. Mereka masih memandang dengan tatapan yang sama.

Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi mungkin kami bisa menjadi teman yang baik. Dan aku akan tahu apa pekerjaan tak bernama  itu.

Sopir keluar dari dalam, membuka pintu, dan menyuruh Maisaroh turun. “Nanti  Mama akan memberi kamu pekerjaan. Tenang saja.”

Diserahkannya Maisaroh pada perempuan gendut itu. Kemudian sopir naik ke atas truk. Suara mesin segera menderu. Debu-debu beterbangan. Truk segera menghilang di balik tikungan.

Mama tersenyum pada Maisaroh. “Kamu kelihatan capek sekali,” katanya perhatian. Dibawanya Maisaroh ke lantai atas, ditunjukkan kamarnya. “Pakaian yang ada di almari itu boleh dipakai kalau mau.”

Setelah membersihkan tubuh, berganti pakaian dan makan, Maisaroh merebahkan tubuh di tempat tidur. Enak sekali. Otot-ototnya yang tegang, terasa mulai mengendor. Ia  jatuh tertidur. Maisaroh terbangun ketika langit susut cahaya. Melemaskan badan sejenak. Tubuhnya benar-benar terasa segar sekarang. Ia berjalan ke sisi jendela, menyingkap tirai. Lampu-lampu merkuri berpendar seperti seribu kunang-kunang di ladang gelap.

Ia bersijingkat menuju kamar mandi. Berpapasan dengan Mama yang sedang naik ke atas. Perempuan gemuk itu tersenyum.

“Enak ya, tidurnya,” sapanya tersenyum.
Maisaroh tersipu malu.
“Mandi dulu dan ganti pakaian. Pilihlah yang terbagus dan sesuai untuk kamu. Kemudian makan di dapur. Setelah itu kamu bisa mulai kerja.”

“Apa pekerjaanku?”
Dia tersenyum, “Nanti setelah makan kukasih tahu.”
Usai makan, ia kembali ke kamar. Ia bermaksud menemui teman-teman perempuan di bawah tapi tidak enak hati. Ia belum kenal mereka. Ia juga belum kenal perempuan gendut yang disebut Mama itu. Ia tidak terbiasa berakrab-akrab. Dibiarkan saja segala sesuatu mengalir dan perjumpaan-perjumpaan yang akan membuat jadi akrab.

Ia melangkah ke sisi cermin. Rasanya sudah lama tidak melihat wajahnya sendiri. Ia mematut diri. Samar-samar sebuah garis terpahat di wajah. Jemarinya menyusur berlahan. Ia sadar, waktu tidak pernah berputar. Tangan-tangan nasib menahannya bergerak: Karenanya aku terus dibawa. Aku tidak pernah kemana-mana.

Deru mobil terdengar masuk halaman. Tirai berpendar. Menyala. Maisaroh bergeser ke sisi jendela, menyingkap. Dua orang lelaki turun dari mobil disusul suara hingar bingar di bawah. Ramai. Sepertinya mereka sudah saling kenal. Ia menurunkan tirai dan kembali ke cermin. Belum sempurna benar ia mematut diri, sebuah deru lagi terdengar. Dengan cepat ia bergeser lagi ke sisi jendela. Tiga orang lelaki turun dari mobil.

Apa sebenarnya pekerjaan itu? Apa memang benar dia tak bernama?
Maisaroh menggapai handel pintu, ingin mencari jawaban. Ragu. Dilepaskan pegangan pada handel pintu, ia kembali ke cermin. Deru terdengar lagi. Rasa ingin tahunya tak berhasil ditahan, bergegas ia melangkah ke arah pintu. Saat itu terdengar suara dari depan kamar.

“Saya jamin, tuan. Kalau yang ini masih baru. Tidak terlalu cantik memang tapi menarik, bodinya yahud lagi. Tuan tidak akan rugi membayar dengan harga segitu,” itu suara Mama.

“Saya harap ibu tidak mengecewakan seperti yang sudah-sudah,” balas sebuah suara berat.
“Saya jamin, tuan.”
Maisaroh mundur ke belakang. Tangannya mencengkeram sisi meja kuat-kuat. Ya, Tuhan, mereka menjual aku. Jadi ini pekerjaan yang tidak bernama itu. Ia  panik. Disingkapnya tirai, daun jendela didorong keluar. Terali besi ini! Terali besi ini! Ia mendorong sekuat tenaga. Tapi tak seinci pun bergerak. Tepat pada saat itu, handel diputar dari luar. Ya, Tuhan, pintu tidak terkunci. Ia menyesali kebodohan itu. Seorang lelaki brewok berbadan besar masuk. Matanya menyergap kejam. Tersenyum menyeringai. Maisaroh gemetar. Lelaki itu langsung menyerbu. Tak ada kesempatan menghindar. Lengannya terpegang.

“Jangan lari manis.” Bau mulutnya busuk luar biasa.
Ia terpekik keras. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Menindih. Napasnya hampir habis. Ia meronta sejadinya. Lututnya menghantam selangkangan. Lelaki brewok itu terlempar ke belakang. Tapi cuma sejenak. Seperti mati rasa dia menyerbu kembali. Lebih beringas. Penutup dada Maisaroh yang sudah separuh terbuka dirobek-robek. Menyerpih. Lelaki itu menindih dengan napas membadai. Maisaroh meraung sakit. Ia jatuh pingsan karena tidak tahan dengan sakit yang menusuk-nusuk di antara selangkangannya.

Ketika siuman, selangkangannya terasa sakit bukan main. Tempat tidur diwarnai bercak merah. Darah. Ia sesenggukan. Perasaannya koyak, seperti pakaiannya. Ia menarik selimut, menutup tubuh. Erangan tertahan keluar dari bibirnya untuk setiap gerakan yang coba ia lakukan. Sepanjang hari itu ia cuma menangis dalam kamar.

“Percayalah, sayang. Besok kau akan terbiasa,” hibur Mama sore harinya.
Maisaroh memejamkan mata. Pipinya basah. Batin telah disayat. Luka. Betapa benci ia pada perempuan itu. Ingin dirobek-robeknya wajah gendutnya, diludahi. Tapi kenyataan menyadarkan betapa ia begitu ringkih.

Malamnya seorang laki-laki lain masuk ke kamarnya. Belum hilang luka yang lama, luka baru ditancapkan. Untuk kedua kalinya ia pingsan.

Dini hari, pukul dua lewat, Maisaroh menggeliat karena nyeri di selangkangan tak tertahankan. Ia mencoba bangkit. Sekejap terhuyung dan terjatuh. Otot-ototnya lemas kehilangan tenaga. Tulang belulang patah. Sejenak terdiam, memejamkan mata, menguatkan hati. Kemudian memaksakan diri bangkit. Terhuyung lagi. Untung jemarinya berhasil mengapai tepi meja. Gemetar. Ia melangkah tertatih menuju almari pakaian. Air matanya membanjir. Ia mencoba terus bertahan. Berhasil mencapai almari pakaian, istirahat sejenak, mengumpulkan tenaga. Ditariknya pintu almari, dimasukkan dua potong pakaian dalam tas. Uang yang ditinggalkan lelaki semalam, ditimang-timang sejenak, lalu dimasukkan dalam tas.

Menahan isak, Maisaroh tertatih turun dari lantai atas. Hanya dengan pergi semua luka bisa disembuhkan. Melewati kamar Mama, degup jantungnya terasa mau menjebol dada dan mengalahkan rasa sakit. Perempuan itu lebih menakutkan dari pada rasa sakit karena dia bisa memahat sakit-sakit yang lain. Perempuan setan itu pasti akan membunuhnya kalau tahu ia melarikan diri. Ia menahan napas. Takut hela napasnya didengar.

Tepat di depan pintu kamar, ia berhenti. Pintu tidak tertutup! Ia memutar kepala dengan cemas. Jangan-jangan dia sudah ada di belakangnya. Tapi ia tidak mendengar apa pun. Dibukanya telinga lebar-lebar, menajamkan pendengaran. Diusapnya peluh yang tiba-tiba membanjir. Kemudian ia mendengar tawa terkikik pelan. Mama belum tidur! Kuduk Maisaroh meremang. Bayangan buruk berkelebatan. Sejenak ia ragu dengan keinginannya. Suara Mama terdengar lagi. Tapi kali ini bukan cekikikan tawa melainkan desahan. Memanjang dan berulang-ulang. Perempuan setan itu sedang bercumbu rupanya. Maisaroh meraba, dari mana asal suara itu. Suara itu bukan berasal dari kamar Mama?  ….O, suara itu berasal dari kamar mandi. Kamar mandi ada di bawah tangga, jadi ia sudah melewati tempat itu. Ia menarik napas lega. Keberaniannya tumbuh lagi.

Ia  mendorong daun pintu, menyusup ke dalam, mencari-cari sesuatu. Kotak kecil berisi perhiasan dan bundelan uang yang berhasil ditemukan di bawah tumpukan pakaian dimasukkan ke dalam tas. Dia melangkah keluar.

Satu jam kemudian, di bundaran Dumai, dia mencarter ojek. “Ke penampungan tenaga kerja, Bang. Aku akan bayar berapa saja yang Abang minta,” katanya pada tukang ojek.

Motor keluaran Jepang itu menderu memecah kesunyian. Maisaroh menempel ketat tukang ojek untuk mengurangi hembusan angin yang keras. Embun turun diam-diam, menyelimuti dedaunan dalam dingin. Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, motor memasuki hutan bakau. (Dari teman-temannya kelak Maisaroh tahu, tempat terpencil dekat muara sungai yang menghadap selat Malaka itu bernama Simpang Cempedak.) Mereka berhenti di depan sebuah rumah papan.

Untung tidak terlambat.
“Abang Mus! Abang Mus!” Tukang ojek menghampiri lelaki yang sedang mengatur belasan calon pencari kerja naik ke atas bot pancung. Dia menoleh. Ternyata bukan Abang Mustofa.

“Abang Mus ada di dalam,” dia menunjuk rumah kayu tempat calon para pencari kerja keluar. Tukang ojek bergegas masuk.

Maisaroh menatap belasan calon pencari kerja yang naik bot pancung tanpa suara. Bot pancung merupakan sebuah perahu kayu kecil, lebih kecil dari pompong, ukurannya sekitar 8×2 meter dengan kekuatan 30 hp. Kapasitas penumpang dua puluhan. Sangat kecil untuk orang sebanyak itu.

Semoga aku bisa bergabung dengan mereka sebelum semua terlambat. Ia menopangkan tubuh di jok motor untuk mengurangi rasa sakit di bawah perutnya yang terus menyiksa. Lima menit kemudian, tukang ojek keluar dari rumah kayu diikuti seorang laki-laki gundul.

“Awak bisa gabung dengan mereka dan berangkat subuh ini,” kata tukang ojek. “Tentang ongkos, awak bisa ngomong sendiri dengan Abang Mustofa.”

Maisaroh mengangguk penuh terima kasih. Beberapa lembar puluhan ribu disusupkan ke kantong baju tukang ojek dan beberapa lembar lain ia tambahkan. “Tolong kalau ada orang mencari perempuan dengan ciri-ciri seperti aku, katakan Abang tidak pernah melihatnya.” Tukang Ojek menatap bingung. Maisaroh menambahkan beberapa lembar lagi “Abang mau janji padaku!” ia memohon.

Berlahan lelaki itu mengangguk, “Abang janji.”
Subuh itu, sebuah bot pancung menyusur tepian sungai kecil, melaju menuju Selat Malaka. Gelap memayung. Mendung bergulung-gulung tebal. Di wajah langit tak tersisa satu bintang pun. Bulu gelombang sebentar-sebentar mencuat berdiri, seperti sedang mengeram. Dan angin beraroma basah bertiup kencang. Agaknya cuaca sedang tidak ramah.

Benar saja. Beberapa jam kemudian, badai hujan mengamuk dahsyat. Ribuan galon jarum air ditumpahkan dari langit. Tirai yang terbentuk sangat keras dan rapat. Lidah air menyambar-nyambar di samping kapal. Bulu-bulu gelombang membesar dengan cepat, siap menghempaskan sepotong kayu di atasnya. Penumpang mulai panik. Mereka basah kuyup.

Mustofa berjuang keras menenangkan penumpang. Tapi keadaan tidak membaik, malah semakin kacau karena air mulai masuk dalam perahu. Dia terbawa juga.

“Semua membantu mengelurkan air dari kapal. Cepat! Cepat! Kalau bot penuh air kita semua akan tenggelam. Cepat! Cepat! Gunakan apa saja. Kadir, berikan mangkuk dan piring pada mereka!” teriaktekong serak melawan deru hujan.

Seluruh penumpang berpacu dengan waktu. Satu dua penumpang melepas pakaian, membenamkan dalam bot dan memeras di luar. Mereka beradu kecepatan dengan curah hujan yang langsung masuk bot.

“Cepat! Cepat! Jangan sampai terlambat. Kita akan mati kalau terlambat.” Mustofa berteriak-teriak menyemangati.

Maisaroh menggigit bibirnya keras-keras menahan sakit. Wajahnya membiru. Tubuhnya kehilangan tenaga. Hanya karena himpitan penumpang lain yang masih membuatnya tetap duduk. Selebihnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merintih dalam hujan.

Hujan tidak juga mereda. Ombak semakin membesar. Penumpang terguncang-guncang histeris. Mustofa memerintahkan Kadir menurunkan kecepatan. Bahaya kalau bot menabrak gelombang, bisa terbalik. Tapi perintah itu fatal. Kecepatan motor tidak hanya turun, mesin malah mati.

“Motor mati, Bang. Mesin kemasukan air!”
“Apa?”
“Motor mati. Tidak bisa hidup lagi!”
Dia merutuk panjang lebar. Mengumpat-ngumpat. Tanpa tenaga pendorong, bot akan semakin sulit dikendalikan. Lima enam penumpang memejamkan mata, berdoa. Ketakutan melabur wajah mereka.

“Terus jaga bot, jangan sampai penuh air.” Tekong meloncat ke belakang, mencoba menghidupkan mesin. Tapi mesin tetap saja ngadat.

Menjelang sore, badai baru benar-benar reda. Cuma tersisa rinai. Larit-larit kuning menerobos celah mendung membentuk tirai cahaya keemasan. Bahaya telah lewat, penumpang bernapas lega. Motor belum bisa diperbaiki. Bot kecil itu telah terseret jauh masuk perairan Malaysia. Negeri Semenanjung membentang dalam garis hitam tipis. Penumpang tidak ada yang berani bersuara. Rokok basah di bibir Mustofa berkali-kali gagal dinyalakan.

“Motor rusak parah, Bang. Harus diservis total.”
“Anjing!” Mustofa membanting rokoknya. Daratan masih terlalu jauh. Dan tidak mungkin bot menepi dengan sendirinya. Untuk diam dan menunggu pertolongan nelayan setempat, sama dengan bunuh diri. Patroli akan dengan mudah menemukan dan menangkap mereka. Tidak ada jalan lain. “Kita harus mendayung menuju pantai,” kata Mustofa kehilangan semangat.

“Pantai masih jauh, Bang.”
“Tidak ada jalan lain. Atau kita akan tertangkap dan masuk penjara.”
Kadir dan dua orang penumpang laki-laki mulai mendayung. Bot merambat lambat. Penumpamg lain diam, menunggu dengan perasaan was-was. Maisaroh menggigil menahan sakit dan dingin. Bibirnya pecah mengeluarkan darah. Rasa perih itu sekarang menempel juga di bibir. Ia memejamkan mata. Menangis dalam diam.

Tiga jam mendayung, bot mendekati garis pantai. Hari sudah jauh malam. Rerimbun hutan bakau menghitam, merunduk-runduk dalam keremangan. Jarak pantai tinggal dua ratus meter lagi.

“Semua penumpang turun di sini. Kita sudah sampai. Kalian bisa lewat parit itu untuk mencapai daratan!” tiba-tiba tekong berteriak. “Ayo, turun! Turun! Turun! Sebentar lagi patroli Malaysia akan lewat. Botku bisa dibakar kalau ketahuan membawa kalian. Ayo, turun! Turun!”

Beberapa penumpang menolak perintah Mustafa. Pantai masih terlalu jauh. Berbahaya berenang ke pantai dalam jarak segitu. Tapi tekong tidak mau tahu. Lelaki itu mulai mengunakan kekerasan untuk menyuruh penumpang meninggalkan kapal. Satu dua penumpang didorong paksa turun ke laut. Penumpang perempuan menjerit-jerit ketakutan.

Maisaroh menangis putus asa. Nyeri di selangkangannya membuat gerakannya terhambat. Sekuat tenaga dicoba terus bertahan.—Para penumpang lain dengan cepat  meninggalkannya sendiri dalam kepungan air.—Sakit, dingin, dan takut bersenyawa menghancurkan dirinya. Ia berjuang mencapai pantai. Belum lagi berhasil mencapai daratan, seluruh tenaganya telah menguap. Ia terjerembab ke tanah. Pingsan.