peta retak

Peta yang Retak #9

“Lim, mata dah bergerak-gerak. Dia siuman. Fatimah siu­man,” Datuk Yusuf berseru girang.

Salim tergopoh-gopoh mendekat dan memandang takjub pada sosok yang tergolek di atas tempat tidur. Baru saja dokter yang merawatnya pergi, dia sudah terbangun. Dokter mengata­kan, kalau selama satu minggu belum juga sadar, dia harus dibawa ke hospital untuk perawatan lebih intensif. Selama ini Datuk Yusuf bersikeras, Fatimah harus dirawat di rumah. Dia tidak ingin kehilangan Fatimah untuk ketiga kalinya. Dan keajaiban datang setelah lima hari.

“Panggil dokter, Lim,” perintah Datuk Yusuf. Lelaki yang di panggil Salim itu dengan cepat menghilang. “Selamat datang di rumah kembali, Ima.”

Perempuan itu mengerjap-ngerjap. Tubuhnya demikian kaku dan menempel pada tempat tidur. Saat ia menco­ba menggeser tubuh bukan, gerakan yang dihasilkan tapi rasa sakit. Ia meringis. Melihat perubahan wajah di depannya Datuk Yusuf cemas bukan main.

“Ditahan dulu, Ima. Sabar. Salim sedang memanggil dokter.”

Tak lama, Salim masuk diikuti seorang dokter. Dokter memeriksa tubuh Fatimah. Datuk Yusuf menanti dengan harap-harap cemas. Selesai memeriksa Fatimah, dokter menatap Datuk Yusuf.

“Keadaannya normal. Cuma terlalu letih. Fatimah punya daya tahan tubuh luar biasa. Dia hanya butuh istirahat yang panjang untuk memulihkan kesehatannya. Usahakan Datuk memberi makanan yang lunak dulu agar perutnya tidak terke­jut.”

Dokter meninggalkan kamar dengan beberapa nasehat tambahan untuk Datuk Yusuf. Salim mengantar dokter setelah memerintahkan pada pembantu untuk menyiapkan makanan yang lunak buat Fatimah.

“Bapak senang awak dah balik ke rumah, Ima.”

Perempuan itu menatap lemah. Lirih dia bertanya, “Dimana aku?”

“Di rumah. Awak ada di rumah KL. Sudah lima hari awak pingsan. Bapak sudah khawatir. Untung Tuhan melindungi awak. Kini Ima istirahat saja. Badan Ima masih letih.”

…Aku  Saroh,  Maisaroh; katanya lirih. Sakit terus-menerus menusuk bagian bawah perutnya.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan, Ima. Awak belum sihat benar.”

Pembantu masuk membawa makanan. Datuk Yusuf menyuapi sendiri. Dengan sifat kebapakan yang luar biasa, perut Fatimah yang semula menolak berlahan mulai bisa menerima. Selama tergolek di tempat tidur, Datuk Yusuf setiap saat menengok dan menemaninya. Ia terharu dengan kesabaran itu. Sepanjang hidup ia tidak pernah ingin mengenal lelaki yang seharusnya disebut sebagai bapak. Justru ia membenci lelaki itu. Tapi lelaki tua ini lain. (Kelak, sebagai penghormatan yang besar, ia menyebut lelaki tua ini sebagai Bapak.—Satu-satunya Bapak dalam hidup meski dia tidak pernah menikah dengan Emak. Ia tidak perduli).

Seminggu lewat. Tubuhnya makin membaik. Ia memberanikan diri turun dari tempat tidur. Masih agak lemas. Tapi ia segera berhasil menguasai diri dengan berpegangan pada  sisi tempat tidur. Sakit di bagian bawah perut masih terasa menyengat, meski sudah jauh berkurang. Hanya luka batinnya yang tidak hilang. Membekas, membuat goresan yang dalam. Dokter masih datang untuk melihat perkembangan kesehatannya. Pada kedatangannya yang terakhir, Maisaroh ketakutan, ia mundur tanpa disadari saat dokter memeriksa denyut nadinya.

“Awak telah mengalami saat-saat yang buruk,” kata dokter. Maisaroh menatap curiga.

Disingkapnya tirai jendela. Tetaman diselimuti kehangatan matahari sore. Sekuntum Nala mengembang. Melati dan kecipir menikmati udara basah. Hujan belum lagi  habis dan musim bunga belum lagi lewat. Ia menarik napas panjang. Tak pernah dilihatnya taman sepermai ini. Taman di samping kamarnya, mungkin.

Puas berdiri di sisi jendela, ia menghampiri meja rias. Peralatan mahal-mahal yang ada di situ meski kelihatan tidak pernah dipakai. Dilewati saja deretan itu, ia tidak terbiasa memakai. Lagi pula mata melihat apa yang tidak dilihat mata tapi apa yang dipilih hati. Ia meraih foto kecil berbingkai perak. Bola matanya membulat seketika. Dada sesak. Ya Tuhan, mungkinkah Kau ciptakan orang yang sama pada tempat yang berbeda? Jemarinya gemetar menyusur foto, seperti menyusur refleksinya sendiri. Tidak yakin dengan apa yang dilihat, ia mengeser tubuh ke depan cermin. Mematut diri dan foto, bergantian. Tuhan benarkah ini? Di kembalikannya foto. Pikiran mengembarai rimba ketidakmenger­tian. Rangkaian-rangkaian peristiwa berbalik seperti pita seluloide diputar ulang. Memutar kepala, ia mencari sesuatu yang lain. Ditariknya laci. Sebuah foto lama  keluarga melesat masuk mata. Tiga orang duduk berjajar dalam pose yang manis. Seorang lelaki berjanggut tipis. Ia tahu lelaki itu. Di sam­pingnya seorang perempuan dengan mata keteduhan. Dan seorang gadis duduk di antara keduanya: Iakah itu?—Ia mendesah panjang. Apakah mereka bahagia?—Membalik bingkai, Ia berhar­ap menemukan sesuatu. Tak ada angka tahun, tak ada tempat pem­buatan, tak ada sesuatu pun. Ia mencari-cari sesuatu di dalam laci. Sebuah buku atau sebuah surat, barangkali. Di situ pun tidak ada apa-apa. Apakah dia tidak pernah berhu­bungan dengan siapa pun? Dia mendiami kesunyian?

“Awak sudah benar-benar sihat, Ima,” sebuah suara menyapa. Bingkai di tangan Maisaroh merosot karena kejut. Untung ia sigap hingga tidak terbanting ke lantai. Buru-buru ditariknya sudut bibir, tersenyum

Binar mata Datuk Yusuf meluap. Dia mendekat. Bola matanya tersedot pada bingkai di tangan Maisaroh. Kabut melintas cepat. Diambilnya foto itu. “Sayang Emakmu tak bisa menikmati semua kejayaan ini. Tuhan terlalu cepat memanggil Emakmu. Bapak tidak mungkin melupakan kesalahan yang telah Bapak perbuat sehingga Tuhan mengambil Emakmu,” kesedi­han menyelinap dalam suara Datuk Yusuf.

Maisaroh melihat bola mata Datuk Yusuf mengabur. Alangkah berat beban yang ditanggung. Ia gemetar. Ia jadi ingat Emak. Seandainya lelaki yang mengawini Emak orang yang baik, tentu ia bisa bermanja di dadanya yang kokoh dan melindungi. Entah kekuatan apa yang mendorong, ia menubruk Datuk Yusuf. Pipinya menghangat oleh air mata. Bapak, de­sisnya lirih.

“Besok kita ke makam Emakmu. Sudah lama Bapak tidak pergi ke sana,” Datuk Yusuf cepat bisa menguasai diri. Pintu diketuk dari luar. Dia masih menatap Maisaroh dengan kebapakan yang meluap. Diusapnya rambutnya. Pintu diketuk lagi.

“Siapa ke?”

“Salim, Datuk.”

“Masuk,  Lim.”

Daun pintu didorong dari luar. Salim mendekat.

“Ada apa?”

“Kaki tangan kita kena tangkap patroli dekat perbatasan saat membawa pencari kerja melintas, Tuk. Saat ini mereka di lokap Kuching,” lapor Salim.

“Bagaimana bisa terjadi?” Salim menggeleng. Siapa yang telah membongkar jalur yang telah tertata  rapi. “Tohir di mana?”

“Di Kuching, sedang menunggu Datuk.”

Datuk Yusuf mendesah panjang. Selalu saja ada persoalan yang muncul. Kemudian dia menyuruh Salim memesan tiket pesawat ke Kuching saat itu juga. Untuk tiga kursi. Salim maklum itu. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan wajah kecewa. Cuma tersisa satu kursi untuk penerbangan hari ini. Setelah berpikir sejenak, Datuk Yusuf memutuskan  men­gambil kursi terakhir. Salim dan Fatimah menyusul kemudian.

 

Di dunia asing ini, dunia yang tidak pernah terpikirkan ada, apa yang bisa dilakukan? Aku satu dari sekawanan burung hantu yang tersesat di rimba cahaya. Kelopak mata dan bulu-buluku tidak kedap. Cahaya ini, cahaya ini, begitu menyilaukan.

Maisaroh mondar-mandir di dalam kamar. Frame telah memberi pertanyaan besar tentang sebuah kenangan, kenangan yang akan menjadi masa lalunya. Ia membanting tubuh, mendengus galau. Dicobanya memejamkan mata. Tapi ngantuk tidak lahir dari tubuh melainkan dari pikiran. Ia bangkit. Membuka jendela. Meraba dalam gelap, mencari satu bintang di langit. Engkau masih di sana. Ia termangu bersamaan kenangan yang melintas. Etalase ingatan terangkat. Bagaima­na keadaan sampeyan, Emak? Tentu Sampeyan merasa sepi. Maafkan, Saroh. Ia meraba leher. Kalung perak berbandul peluru masih ada di sana. Lelaki yang mungkin tidak akan ditemui lagi di masa datang? Biarlah dia menghuni masa lalu. Tapi ia pasti akan terpahat dan menjadi kenangan yang tak terlupa.

Sesuatu yang paling ditakuti adalah keajaiban. Kini ia menjadi bagian dari keajaiban. Apa yang bisa dilakukan manusia di luar segala sesuatu yang bernama keajaiban?

Tidak mendapat ketenangan seperti yang diharapkan, ia kembali rebahan. Pikiran mengembarai ketak­tentuan.

Pintu diketuk dari luar. Ia belum kembali. Pintu dike­tuk lagi. He. Ia menoleh dan bangkit dengan dada berdebar. Kali ketiga ketukan pintu, ia menarik handel. Wajah Salim muncul.

“Besok, pagi-pagi sekali kita berangkat ke Kuching, Ima. Aku berharap awak mempersiapkan diri.”

Apa yang harus dipersiapkan? Maisaroh mengangguk meski tidak mengerti. Jeda waktu agak lama.. Salim mengingatkan lagi sebelum berbalik. Belum lagi langkah ketiga selesai, dia menoleh  ke belakang.

“Awak tidak ingin berpusing-pusing melihat KL? Terlalu lama di kamar bisa membuat suntuk, Ima.”

Ia menggeleng.

Salim pamit permisi setelah berpesan; “Kalau ada sesuatu yang awak, butuhkan panggil saja aku, Ima.” Dia pergi. Ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Maisar­oh mengangguk. Mendorong daun pintu. Kembali rebahan di tempat tidur. Menatap langit-langit, menerawang. Mendesah panjang, kemudian memiringkan tubuh, menghadap jendela. Gemelesir angin malam menyentuh wajah. Lama-lama terasa dingin. Ia bangkit, menutup jendela dan kembali ke tempat tidur. Pikirannya sama sekali tidak bisa di ajak beristirahat. Sepanjang malam itu akhirnya ia terjaga.

 

Burung besi berbadan kecil itu terdiam, membisu. Sangat dingin. Menyerupai pahatan tak sempurna. Garis-garis tubuh kaku dan bentangan sayap tidak bisa bergerak. Maisaroh masuk, dalam dadanya berdebar. Inilah keajaiban! Tidak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran akan menjalani kehidupan seperti ini karena aku cuma anak seorang babu. Seorang babu nyuci. Saat pesawat menderu meninggalkan landas pacu, darahnya menderu jauh lebih deras. Menembus awang-awang menuju khayangan. Ia merasa takdirnya malayang tinggi mencapai langit.

Pesawat menyentuh landas utama airport Kuching, kurang lebih satu jam kemudian. Sebuah perjalanan yang ter­lampau pendek. Maisaroh tidak menyesali itu.

Tohir menjemput mereka. Lelaki bertubuh kurus, usia tiga puluh tahunan itu, tersenyum pada Maisaroh dan menanya­kan kabar karena lama tidak melihatnya. Maisaroh sedikit gugup menjawab. Tapi Tohir tidak cukup memperhatikan itu karena detik berikutnya dia sudah menoleh pada Salim serta mengatakan bahwa Datuk Yusuf menunggu di rumah kebun karet.

“Bagaimana dengan kaki tangan kita yang kena tangkap?”

“Semalam Datuk Yusuf berhasil mengeluarkan mereka. Tapi mungkin usaha pengiriman tenaga kerja kita harus ditutup.”

Separah itukah?

Kita tidak punya apa-apa lagi.

Kemudian Tohir berceri­ta: Tidak hanya orang-orang yang membawa pelintas batas saja yang kena tangkap. Lebih dari itu, tangsi juga digrebek. Seluruh yang ada di sana dihancurkan dan orang-orangnya diseret ke lokap. Tidak ada yang tersisa di tangsi.

Begitu parah? Itu berarti seluruh perniagaan penger­ah jasa tenaga kerja di Sabah, Serawak, dan suplai ke Malay­sia Barat lumpuh total.—Sejak awal didirikan memang hanya ada satu route masuk bagi calon tenaga kerja; Hanya lewat Tebedu.—Route darat, Pontianak-Entikong-Tebedu ini, dinilai jauh lebih aman dari pada route barat lewat laut. Tidak banyak patroli. Dan yang terpenting, penjaga pos lintas batas bisa diajak kerja sama. Karena itu begitu route ini hancur, seluruh perniagaan pengerah tenaga kerja selesai. Mereka telah membuat pondasi rapuh yang bertumpu hanya pada satu pilar.

“Mungkin ada kaki tangan kita yang membocorkan tempat tangsi persembunyian. Karena polisi yang datang bukan polisi tempatan. Tapi Polisi Federal.”

Salim mendengus kesal, “Kita akan cari orang itu. Aku akan memecahkan kepalanya.”

Maisaroh mendengar kegeraman itu gentar. Wajah Salim membatu bagai arca padas. Jemarinya terkepal. Lelaki ini mungkin sangat keras dan berbahaya.

“Kita ke Tebedu sekarang juga.”

Semula Tohir menolak keinginan Salim. Dia ingin mereka beristirahat dulu di Kuching, setelah itu baru melanjutkan perjalanan. Tapi Salim tetap bersikeras, mereka harus ke Tebedu hari itu juga. Ke Kuching bisa dilakukan setelah semua persoalan selesai. Tampaknya Salim tidak bisa dihalan­gi. Tohir menyerah. Kereta segera diarahkan menuju Tebedu.

Menjelang malam, mereka memasuki areal perkebunan karet. Jalan aspal berganti jalan tanah yang tidak rata. Karena guncangan kereta, Maisaroh terbangun. Di luar temaram, pokok-pokok karet berbaris rapi di kanan-kiri jalan. Lorong-lorongnya yang berujung jelaga seperti setapak menuju lain dunia. Lima belas menit berke­lok-kelok di tengah pokok karet, kareta masuk halaman sebuah rumah panggung. Mereka turun.

Bohlam lampu lima watt berderak-derak di beranda, seper­ti bandul kesunyian. Udara menguning. Tak ada orang di beranda tapi lampu di dalam masih menyala. Maisaroh mencium bau masa lalu. Setiap sudut rumah ini adalah kenan­gan. Apakah di tempat ini segala hal tentang Fatimah bera­wal?

Salim mendorong daun pintu. Datuk Yusuf duduk menghadap jendela terbuka. Tangannya menjepit sebatang rokok. Asap putih satin membentuk jalinan halus dari ujung bibirnya. Dia memutar kepala. Wajahnya yang dibasuh cahaya kekuningan legam menyimpan kesedihan.

“Hancur semua, Lim,” katanya tanpa rasa.

Maisaroh mendekat, menyentuh jemari yang terkulai di lengan kursi. Datuk Yusuf mengusap rambutnya. “Sudah habis semuanya, Ima. Kita tinggal punya Borneo Restoran. Tidak ada yang tersisa dari kebun karet.”

“Kita masih bisa membangun semuanya lagi, Tuk.”

“Kita harus menangkap pengkhianat yang membocorkan tempat tangsi pada patroli.”

Datuk Yusuf mengangkat wajah, “Tidak ada yang berkianat di antara kita. Menurut laporan kaki tangan kita yang lolos dari sergapan patroli, mereka melihat Soleh di sekitar tangsi beberapa hari sebelum penangkapan terjadi. Semua ini kelakuan Haji Abbas. Dia yang membalas kita.”

Salim seperti tidak mempercayai pendengarannya: Jadi Haji Abbas belum melupakan peristiwa beberapa tahun silam? Kegagalan mengambil alih kebun karet agaknya menjadi ganja­lan yang terus menggelisahkan. Keinginan itu baru tercapai setelah dia tahu sebab-sebabnya. Dan baru sekarang pembala­san dilakukan.

“Kita harus membalas Haji Abbas, Tuk.”

“Bukan itu yang aku pikirkan. Tapi pengiriman tenaga kerja. Beberapa proyek pembinaan di KL sudah kontrak untuk memakai tenaga dari kita. Tapi apa yang kita punya sekarang?”

Semua terdiam. Realitas yang terpapar benar adanya. Kontrak tidak dapat dibatalkan. Atau kredebilitas mereka hancur. Angin melesakkan dingin diam-diam. Kicau burung hantu lamat-lamat terdengar dari kegelapan meningkahi kemer­osak angin menyentuh dedaunan.

Salim menghela napas panjang dan berkata: “Sementara…., mungkin kita bisa mengontak Encik Ayub. Dia pasti mau mengisi kekosongan tenaga kita untuk sementara tapi tentu saja dengan prosedur yang kita miliki. Jadi tetap atas nama kita.”

Datuk Yusuf kelihatan berpikir sejenak, kemudian dia menatap Salim dengan harapan yang tiba-tiba muncul. Sebuah ide cemerlang. Itu jalan penyelesaian yang baik. Kelak dari ide itu lahir jaringan broker-broker penyalur tenaga kerja yang beroperasi di darat. Mereka membuat jaring laba-laba yang berhubungkait yang rapi dan sulit dipatahkan.

 

Pagi. Jejak-jejak embun tertinggal di bibir daun. Udara basah. Hati basah. Datuk Yusuf menunduk hikmat di sisi makam Emak. Lipatan kenangan satu-satu menyentuh, menggetarkan membran hati. Maisaroh terduduk di sisinya dengan kesedihan yang berbeda: Ekspresi siluet Emak menatap nyalang. Dan gambar buruk masa depan menyergap. Bagaimana kalau suatu hari nanti, saat ia pulang tidak mendapati Emak? Emak sudah tidur berselimut tanah, padahal belum ada apa pun yang ia berikan pada Emak. Pasti ia akan menyesali itu sepan­jang hidup. Ia terisak karena kekhawatiran itu.

Usai ziarah, Datuk Yusuf mengajaknya membuka lipatan masa lalu. Masa lalu keluarga. Masa lalu Fatimah: Labirin pokok karet mereka susuri. Matahari hangat mengintip  di dedaunan. Tanpa luka, sadap pokok karet rimbun menghijau. Cericit lompat-melompat riang di reranting  mengalirkan pagi yang ritmis.

Datuk Yusuf mengenang awal berdirinya perkebunan karet. Bermula di masa kependudukan. Perkebunan karet belum lagi menjadi milik puak Melayu. Namun beberapa bangsawan mendapat hak untuk mengurus perkebunan. Ketika terjadi perpindahan kekuasaan dari pemerintah pendudukan Inggris. Tanah Semenanjung memperoleh kemerdekaannya, tahun l957, kebun karet mengalami nasionalisasi besar-besaran. Beberapa kerabat kerajaan Malaysia mendapat jatah perkebunan ini. Datuk Yusuf yang tersisihkan mendapat hak lumayan luas di Borneo. Dan Emaklah yang dengan kesabaran matahari menemani Datuk Yusuf pada saat-saat sulit itu. Emak adalah kebun karet yang mengairi ladang-ladang kering kehidupan.

Di pinggir perkebunan, tidak jauh dari hutan raya, tiba-tiba Datuk Yusuf menghalau bahu Maisaroh menjauh. Ia menatap penuh tanya.

“Ada banyak hal tidak baik di sana. Ada banyak ular dan binatang buas. Juga peri yang tidak kasat mata,” Datuk Yusuf menjelaskan. Ia cuma melihat pohon-pohon tua yang tingginya puluhan meter dengan benalu dan cendewan menjuntai-juntai. Ia tidak bertanya lebih lanjut meski ingin. Hanya saja di wajah Datuk Yusuf tergambar kecemasan yang tak tersembunyikan. Ketika Datuk Yusuf menga­jaknya pulang, ia mengikut saja. Hari sudah terang saat itu.

 

Sebelum kembali ke Kuala Lumpur, mereka tinggal bebera­pa hari di Kuching. Maisaroh sedikit terkejut melihat keadaan Borneo Restoran yang memperihatinkan dan tidak ter­urus.

“Ini restoran pertama. Cikal bakal,” Salim menerangkan.

“Kenapa keadaannya begini menyedihkan?”

“Restoran punya Emak. Awal pendirian juga atas ide Emak. Begitu Emak tiada, tidak ada yang mengurus lagi. Restoran ini tidak ditutup juga untuk mengenang Emak.”

“Fatimah?”

Salim mengerjap, menyentuh kedalaman mata Maisaroh, seperti menyelidik. Kemudian desahnya terdengar memanjang, “Aku akan ceritakan padamu keadaan Fatimah sesampainya di KL,” suara Salim terbalut sedih.

Kenapa keadaan Fatimah? Pertanyaan itu terus berden­gung dalam benaknya. Sampai mereka kembali ke KL, ia terus dihantui keingintahuan kenapa Fatimah? Apa rahasia yang tersimpan dari hidupnya?

Tetapi Salim begitu sibuk. Hanya sedikit saja waktu tersisa buat tinggal di rumah. Dia harus menghubungi Encik Ayub untuk menghandel pengiriman tenaga kerja ke beberapa proyek pembinaan di KL. Dan yang lebih penting lagi, sedang memper­baiki infrastruktur: Route lama lewat Tebedu-Entikong tetap dipertahankan, hanya perjanjian dengan polisi penjaga perbatasan diperbarui. Tangsi dipindahkan ke titik terjauh di perkebunan karet. Dan route barat lewat Selat Malaka mulai dirintis. Dihubunginya tekong-tekong laut yang biasa membawa pencari kerja menyeberang. Kemudian sebuah tangsi di bangun di dekat pantai, tidak jauh dari rimba bakau. Kebetulan Borneo Restoran sudah berdiri di Malaka sehingga tempat itu bisa digunakan untuk mengontrol segala yang berhubungan dengan lalu lintas tenaga kerja. Demikian juga Datuk Yusuf.

Maisaroh tertinggal sendiri di pojok kesunyian. Tidak tahan dihimpit kebosanan, ia mulai keluar kamar. Pergi ke dapur, membantu pelayan menyiapkan makanan. Tapi segera saja ia ditolak melakukan kerja-kerja seperti itu. Tidak pantas seorang majikan ikut kerja di dapur. Karena itu ia lebih sering duduk dalam sendiri, mengamati satu dua orang masuk, memesan makanan dan menyantapnya. Cuma satu dua, tidak banyak. Untuk ukuran restoran sebesar itu, jumlah itu tergolong sangat sedikit. Artinya restoran sepi. Datuk Yusuf dan Salim datang dan pergi begitu saja, mereka terlalu sibuk untuk mengurus restoran, apalagi untuk memperhatikan perkem­bangannya.

Seorang pelayan meletakkan gelas minum di depannya. Maisaroh menahan lengannya. Sonya, pelayan itu membungkuk hormat.

“Apa restoran selalu sepi seperti ini?”

Dia mengangguk, “Ya, Cik. Sejak awal restoran berdiri keadaan seperti ini. Sepi. Tak banyak pembeli mampir.”

Maisaroh mengangguk-angguk. Ujung kukunya menguapkan denting begitu menyentuh dinding gelas. Lalu buat apa re­storan ini selain untuk menjaga kenangan? Di kampungnya dulu, warung kelontong Lek Nah yang sekecil itu, ramainya bukan main. Segala sesuatu ada. Sementara di sini, di tempat sebesar ini, tidak ada apa-apa. Hanya kursi-kursi dibalut sepi.

Salim terlihat melangkah masuk restoran. Senyumnya terkembang. Dia melambai pada pelayan dan menarik kursi  di sisi kanan Maisaroh.

“Bapak kemana?”

“Datuk Yusuf sedang menyelesaikan persoalan dengan Encik Ayub. Satu dua jam lagi aku akan menjemputnya pulang. Seluruh persoalan pengiriman tenaga kerja dengan Encik Ayub sudah selesai. Kita sudah bisa mulai berjalan lagi.”

Pelayan membawa minuman Salim. Dia langsung mengangkat dan meneguknya sampai tinggal separuh. Benar-benar haus dia. Dia mengelap mulut dengan telapak tangan.

“Abang Salim ada waktu…..,”

“Ya..ya, aku hampir lupa, Ima. Untung awak mengingat­kan,” dia kelihatan berpikir sejenak. “Bagaimana kalau besok kita cari tempat lain, jangan di sini, awak bisa mendengar semua kisah itu.”

Maisaroh mengangguk: Karena itu sangat berarti bagiku.

 

Menunggu matahari bangun. Menunggu kemungkinan menje­lang. Meraba hari esok. Apa yang bisa diterka dari pagi yang belum lagi lahir? Siluet-siluet yang meremang. Atau bayangan yang kita imajikan sebagai keindahan. Pagi adalah kenyataan. Fatimah juga kenyataan. Permadani hidup yang mau tidak mau harus dimasuki karena separuh kaki telah melampaui ambang.

Maisaroh gelisah sepanjang malam.

Ada apa dengan Fatimah? Kenapa Fatimah? Apa rahasia yang melingkupi dirinya? Di mana dia sekarang? Kenapa tiba-tiba ia ditasbihkan sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenalnya, bahkan tidak pernah terlintas sekali pun dalam kepala walaupun itu sekedar kemiripan wajah? Hanya karena kemiripan wajah? Berapa banyak Tuhan mencetak wajah yang dikatakan sebagai mirip, serupa?

Ia meletakkan frame berlapis perak di atas meja. Menyisir kamar, menghampiri jendela. Didorongnya daun jende­la. Angin berebut masuk, menggenggam dingin, menggores  permukaan wajah. Ia tengadah, mencari satu bintang. Pada keluasaan langit, ada kedamaian, ada kelapangan hati. Lalu ditariknya napas cepat, satu, dua, tiga kali dan menghembuskan keras-keras.

Sunyi mengalir deras.

Ia kembali ke tempat tidur, menatap frame, dan menera­wang, melubangi langit-langit ketidaktahuan. Sampai pagi ia terjaga.

 

Borneo Restoran, 10.05 pagi.

Salim menghampirinya. Maisaroh masuk ke dalam sejenak untuk pamit pada Datuk Yusuf. Lelaki tua itu tersenyum mengiyakan. Lalu ia naik ke kereta yang sudah siap di hala­man restoran.

“Kemana kita?” ia menoleh pada Salim.

“Aku tahu tempat yang nyaman buat bercakap-cakap.” Maisaroh mengikut saja.

Beberapa menit kemudian kereta masuk areal parkir. Pohon ketepeng memayung di sisi-sisinya. Dan sebuah bangunan kuno mirip balok, menjulang. Bergaya Eropa. Jendela-jendelanya berbaris rapi menyambut angin dengan ramah. Pada sebuah teras beton yang ditarik pelat baja ke atas tertempel tulisan National Art Museum. Dari gerbang utama, mereka berbelok ke sisi gedung. Sebuah kantin mungil berdiam di sana. Beberapa orang duduk-duduk pada bangku teras, merokok dan tertawa-tawa. Salim melambai pada mereka. Agaknya ia sudah mengenal tempat itu. Mengambil duduk di pojok ruang, Salim memesan minuman. Maisaroh mengiyakan apa pun minuman yang dipesan Salim.

Seorang lelaki berambut cepak menyapa dan mengulurkan tangan. Salim menyambut uluran tangannya.

“Lama awak tak tampak?” dia bertanya.

Salim tersenyum, “Ada banyak persoalan perniagaan yang harus diselesaikan.” Menoleh, menembus kaca. “Ada pameran?”

“Ya, pameran grafis. Si Johan yang punya.” Dia melirik pada Maisaroh. Salim segera maklum.

“Kenalkan ini Fatimah, semata wayangnya Datuk Yusuf.”

Dia mengulurkan tangan. “Basri.”

Ada sesuatu dalam dirinya yang menolak. Tangannya terhenti di udara sebelum persentuhan. Wajahnya tegang menyimpan ketakutan. Maisaroh menarik tangannya dan berkata lirih, “Aku….Fatimah.”

Mata Basri menatap aneh.

Pelayan mengantar minuman. Basri pamit untuk memesan makanan. Salim meraih gelas, membawanya ke ujung bibir. Maisar­oh menunggu. Sesaat hela napas Salim terdengar sebelum berkata;

“Kisahnya sangat panjang, Ima.”

Aku akan mendengarnya. “Apa kisah itu begitu  menyedih­kan?”

“Begitulah….:”

 

Medio, Mei 1979.

Senja. Matahari rebah. Pokok-pokok karet rebah. Tetu­buhnya telanjang tanpa daun. Urat-urat menonjol kurus dan kering. Cahaya keemasan matahari dengan leluasa menghujam ke tanah. Kemarau membuat pokok-pokok tua itu susah payah bertahan.

Datuk Yusuf terpaku di teras rumah. Wajahnya tersapu asap rokok. Bara di tangannya naik turun seperti kunang-kunang dalam remang. Salim masuk halaman rumah. Beberapa orang dengan alat pembersih gulma berjalan di belakangnya. Mereka langsung menuju ke tempat penyimpanan alat di samping rumah induk Tidak  terdengar percakapan di antara mereka. Salim sendiri naik beranda. Saat itu lampu dinyalakan dari dalam. Wajah mereka menguning.

“Puluhan lateks di ujung perkebunan, tidak jauh dari hutan raya, hilang dicuri dari mangkuk sadapan, Tuk,” la­pornya mengusik Datuk Yusuf. Lelaki itu tidak mengeluarkan suara. Bola matanya menembus lorong pokok-pokok karet yang meremang, siap masuk mulut kegelapan yang menganga. “Puluhan tanaman pengganti di bagian barat terserang cendawan putih, mungkin tertular dari pokok karet yang sudah dibabat. Daun-daun mudanya menggulung ke atas. Di beberapa tempat lain malah sudah ada yang layu dan menguning.”

Datuk Yusuf menghembuskan asap rokok.

“Harga karet juga semakin buruk saja kelihatannya.”

Getah karet memang tidak seharum dulu lagi. Sejak ditemukan karet sintetis, industri mulai melirik karet temuan baru itu. Akibatnya harga karet alam tidak sebagus dulu. Apalagi pokok-pokok karet sudah terlalu tua. Getah yang dihasilkan sudah tidak banyak. Kualitasnya juga sudah menur­un. Sementara penggantian dengan pokok-pokok baru belum sepe­nuhnya berhasil.

Di bagian barat Negeri Semenanjung, pokok-pokok karet mungkin tersisa sedikit saja. Sebagian besar sudah dibabat habis diganti dengan kelapa sawit. Pohon-pohon sawit itu menyimpan mutiara yang lebih menjanjikan dibanding lateks. Diversifikasi mulai berlangsung diakhir enam puluhan dan akan terus berjalan entah sampai kapan. Perubahan besar-besaran itu tidak hanya menyentuh karet, tapi juga pemili­kan tanah. Satu persatu perkebunan karet rakyat berpindah tangan pada para pemilik modal, kemudian diganti sawit-sawit muda yang luasnya ribuan hektar. Pabrik-pabrik pengolahan pun berkurang sedikit demi sedikit, diganti pabrik pengola­han minyak kelapa sawit. Bisa saja suatu saat nanti perkebu­nan karet hanya tinggal menjadi dongengan.

Datuk Yusuf melemparkan puntung, lalu menyalakan yang baru. Tatapannya beralih ke Salim. “Kaki tangan Haji Abbas baru saja datang. Mereka ada maksud membeli perkebunan karet kita. Emaknya Fatimah juga ditawari mendirikan kedai makan di Kuching. Aku bingung, Lim. Perkebunan karet ini napas hidup kita. Di mana kita akan menggantungkan hidup kalau tidak ada perkebunan lagi?”

Tidak ada sahutan dari bibir Salim.

“Kita ganti saja pokok-pokok karet dengan sawit, Tuk. Lagipula pokok-pokok itu sudah tua dan tidak menghasilkan banyak getah lagi.”

“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi darimana kita dapat wang? Pasti tidak sedikit wang dibutuhkan untuk meng­ganti semua pokok karet dengan sawit.”

Salim membenarkan perkataan Datuk Yusuf. Untuk menggan­ti hampir dua ribu pokok karet pasti butuh ongkos tidak sedikit. Merehab total sebuah perkebunan, sekecil apapun, tetap membutuhkan banyak ongkos. Apalagi masa panen pertama, kalau pohon karet jadi diganti kelapa sawit, butuh waktu agak panjang setelah penanaman pertama. Jeda waktu itu pasti merupakan hari-hari yang sulit kalau mereka cuma mengandalkan kelapa sawit.

Lebih dari itu, pokok-pokok karet adalah sejarah. Lingkaran angka tahun yang terus-menerus bertambah merupakan catatan perjalanan panjang sebuah kehidupan. Cecabangnya yang besar dan kokoh, dipayungi rimbun lebatnya dedaunan, seperti masa muda yang bersemangat dan manis. Harum bau getah mewangi menebar pesona luar biasa. Terhitung sejak zaman pendudukan, sejak perpindahan hak tanah, perkebunan karet menjadi napas hidup.

Waktu melaju tidak dapat dihentikan. Pohon-pohon mulai tua. Kulit-kulit kayu yang tebal pecah-pecah dan keriput. Sayatan-sayatan getah mulai tersendat dan tidak lancar. Getah karet yang semula manis kini terasa pahit. Jika nanti pokok-pokok karet yang sudah renta itu diterjang buldoser penghancur, akarnya dicabut, diratakan, lalu diganti dengan bibit sawit yang segar, tidak ada lagi yang tersisa dari pokok-pokok karet selain kenangan.

 

Gadis kecil itu menempelkan telinga pada pelepah pokok karet seolah mau mendengar aliran darahnya sendiri. Bergeser pada batang yang lain, kembali telinganya merapat. Tak ada suara. Getah mengalir tidak seirama suara tapi seirama gravitasi yang menariknya. Ia beranjak, menghampiri ayunan yang terdiam sendiri. Mendorongnya berlahan. Gerigit karat besi mencicit. Ia menahan salah satu besi penggantung. Mengambil duduk. Membiarkan tubuhnya terayun oleh sisa gerakan yang masih tersimpan. Para buruh perkebunan bersiap mengakhiri aktivitas di depan mangkuk sadap.

“Ima!” Datuk Yusuf memanggil.

Tak ada jawab.

Menghampiri. Menyentuh bahunya. Fatimah terlonjak. Mengangkat wajah.

“Kita berpusing-pusing, Ima. Sore begini jernih.”

Datuk Yusuf menggandeng tangan mungilnya menyusur setapak tanah di antara lorong-lorong panjang pokok karet. Wajah Fatimah biasa saja, tidak menampakkan  keriangan. Datuk Yusuf berkisah tentang hewan-hewan yang dia kenal waktu kecil. Tak ada ekspresi mengalir di wajah Fatimah.

Datuk Yusuf menghampiri sebatang pokok karet. Mengamati luka tisikan sadap. Disentuhnya getah di tepi mangkok penampung, dicium baunya. Ia suka bau getah. Setiap kali aroma getah menyusur rongga pernapasan. Sebuah sensasi mengalir dalam dirinya. Sensasi yang aneh. Ia bergerak pada mangkuk-mangkuk lain. Mencecap bau yang sama. Keasyikan itu terganggu ketika itu rongga telinganya menangkap kerosak dari sisi kanan. Ia menoleh dalam kejut. Sekelebat bayangan ber­gerak dari satu mangkuk ke mangkuk lain. Dipicingkannya mata. Seorang lelaki dengan kantung tergantung di bahu sedang memasukkan getah pada kantong penampung. Sesore ini? Seingatnya tak ada seorang pegawai pun yang disuruh kerja lebih masa. Mereka bekerja rutin mulai pagi sampai jam empat sore. Masa sudah berakhir sekarang. Sudah lama tak ada kerja lebih masa, sejak  produksi karet menurun terus. Sejak itu perkebunan karetnya cuma sekedar jalan. Tidak ada keuntungan. Tapi setidaknya masih bisa menjaga kehidupan keluarga dan pegawainya.

Dia mengendap-endap mendekati lelaki  itu. Karena kurang hati-hati, kakinya tersangkut patahan ranting. Krak! Ranting patah. Lelaki itu mendongak kaget, mengam­bil langkah seribu.

“Pencuri! Pencuri!”

Datuk Yusuf mengejar. Tapi pencuri jauh lebih cepat. Sekejap dia berhasil mencapai tepi perkebunan dan menghilang di balik rerimbun belukar. Datuk Yusuf tersen­gal-sengal. Dadanya terasa mau pecah. Bola matanya menjela­jah semak-semak tempat pencuri menghilang. Patahan pohon perdu tersebar di sekitar situ, diikutinya. Semula setapak tampak samar-samar tapi makin lama terlihat makin jelas. Ia menyu­sur hati-hati. Dibukanya telinga lebar-lebar, menajamkan pendengaran. Siapa tahu ada kerisik yang terbawa angin. Tapi selain semilir, tidak didengarnya suara lain. Dia mendengus kesal saat sepuluh meter kemudian menemui jalan setapak bercabang. Termangu. Namun sekejap ingatan yang lain menyergap.

Fatimah! Seketika dia memutar tubuh, lari ke tempat putri semata wayangnya ditinggalkan. Ya, Tuhan, kosong! Datuk Yusuf panik. Melongok ke lorong-lorong pokok karet. Remang mulai turun. Tak selarit pun bayangan Fatimah keliha­tan. Dia lari kesetanan menyisir tepi perkebunan yang bersebelahan dengan hutan raya. Pohon-pohon dengan tinggi puluhan meter menjulang menyerupai raksasa. Akar-akarnya melilit membentuk gua-gua kegelapan. Di sana tak ada bedanya siang dan malam. Ular berbisa, binatang buas, segala mahkluk liar, dan mahkluk tak kasat mata berdiam di sana.

Kuduk Datuk Yusuf meremang. Pikiran buruk memenuhi kepala. Ia memutar tubuh, kembali ke rumah sambil berteriak-teriak panik. Beberapa buruh perkebunan keluar. Salim mena­tap tidak percaya. Emak Ijah, tergopoh-gopoh keluar dari dalam.

“Bang?”

“Fatimah hilang di tepi perkebunan tak jauh dari hutan raya.”

“He, kalian jangan bengong saja,” Salim menoleh pada mereka. “Ambil lentera!  Cepat! Sisir perkebunan dan tepi hutan. Kita harus temukan Fatimah.”

Puluhan lentera bergerak dalam remang. Setiap celah diperiksa. Lubang-lubang parit tidak luput dari perhatian. Lalu semak belukar yang berbatasan dengan hutan dirambah. Fatimah tetap tidak berhasil ditemukan.

“Kita masuk hutan!” Salim memberi perintah.

Para buruh bertukar pandang. Tidak ada yang pernah masuk ke sana. Salim tidak mau tahu. Mereka harus masuk ke sana untuk menemukan Fatimah. Para buruh sadap tidak punya pilihan lain. Setelah membagi orang menjadi beberapa kelom­pok, mereka masuk hutan raya. Naungan tetangan pepohonan membuat remang petang bertambah pekat. Gelap. Tanah lembek. Udara lembab. Bau busuk dedaunan menusuk cuping hidung. Akar-akar besar lintang-melintang, menghalau langkah. Benalu berpilin panjang menyentuh tanah. Di atasnya, cendawan tumbuh dengan nyaman. Kulit tubuhnya putih. Dan mungkin juga seekor ular berdiam. Tidak ada gerak. Hanya desisan panjang. Dan tiba-tiba seorang di antara mereka  hilang. Karena di dalam gelap tak ada bedanya antara ular dan akar.

Salim bergidik ngeri. Saat pepohonan semakin merapat dan sulit dilalui, ia memutuskan kembali. Tidak mungkin Fatimah melalui tempat itu.

“Kami tak menemukannya, Tuk,” lapor Salim sedih. Matah­ari tergelincir dari horison. Dalam gelap akan semakin  sulit menemukan Fatimah.

Datuk Yusuf menatap hampa. Emak Ijah terisak, menyebut-nyebut nama Fatimah. Pikiran kalut. Semrawut. Salim merasa bersalah tidak berhasil menemukan Fatimah. Dia memahami arti seorang Fatimah bagi Datuk Yusuf. Fatimah adalah masa depan. Dia juga salah satu alasan untuk terus-menerus berjuang memperbaiki kehidupan.

“Kita jual saja tempat ini. Sejak awal aku sudah takut dengan hutan raya. Tapi Abang tidak pernah mendengarku. Kini Abang lihat apa yang terjadi dengan anak kita. Hutan itu telah mengambilnya.” Ijah terus terisak. Dia menyesali keputusan Datuk Yusuf untuk terus bertahan di tempat itu.

Datuk Yusuf mondar-mandir. Sebentar-sebantar matanya nyalang ke arah hutan raya. “Kita harus mencari Fatimah lagi,” katanya kemudian, entah pada siapa.

Kunang-kunang beterbangan lagi. Derap kaki terdengar lagi. Datuk Yusuf membuka mata lebar-lebar dalam gelap, menajamkan pendengaran. Disusurinya jejak-jejak sore yang tertinggal. Dia terbe­lalak. Sebatang pohon tumbang menyangga tubuh mungil. Ber­diam dalam  gelap, tak ada tangis. Apa yang dilakukan Fati­mah di situ? Mendekat, menyentuh bahunya berlahan. Hari semakin gelap, Ima. Sang bocah tergeragap, menangis keras. Tapi bola matanya menyimpan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak terwakili oleh kata-kata. Datuk  Yusuf memeluknya kuat.

“Awak aman bersama Bapak, kita pulang sekarang. Emakmu kawa­tir sekali padamu.”

Datuk Yusuf menggendongnya.

Rumah gempar. Emak suka cita menyambut kepulangan Fatimah.

“Dia berdiam dalam gelap, duduk pada batang penyan­ga. Saat kusentuh bahunya,  tiba-tiba dia menangis. Entah apa yang membuatnya begitu nyaman berdiam dalam kege­lapan?” cerita Datuk pada Emak, Salim, dan para penyadap.

Ijah menciumi, memeluk erat, seperti tidak ingin kehi­langan lagi. “Awak membuat Emak cemas, Ima.”

Fatimah terus menangis.

“Jangan takut, Ima. Awak bersama Emak dan Bapak di sini. Kami akan menjaga awak lebih baik,” Ijah menenangkan.

Setelah perasaan Datuk Yusuf tertata, para penyadap diperintahkan kembali istirahat, banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan esok pagi. Kembali sepi menyelimuti areal perkebunan. Datuk Yusuf melangkah ke beranda. Kele­gaan amat sangat membayang di wajahnya. Dia menyalakan rokok.

Salim menghampiri Datuk Yusuf. Diceritakan kedatangan kaki tangan Haji Abbas saat Datuk Yusuf pergi dengan Fati­mah. Mereka mau membayar berapa saja asal Datuk Yusuf berse­dia melepaskan perkebunan itu.

Datuk Yusuf menarik napas panjang mendengar cerita itu. Barangkali saja perkebunannya merupakan satu-satunya  perke­bunan karet yang tersisa di Tebedu. Yang lain sudah habis dimakan buldoser, diganti berlembar-lembar ringgit. Dan esok dengan cepat disulap menjadi perkebunan kelapa sawit yang ranum. Siapa yang bisa menahan laju waktu? Tinggal menunggu palu nasib diketuk. Esok, lusa, atau lusanya lagi, perkebu­nan karet tinggal akan menjadi kenangan.

Datuk Yusuf menatap Salim tanpa suara. Lelaki itu juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Perkebunan karet mu­ngkin memang telah habis. Lateks tidak wangi lagi. Sudah tiga puluh tahunan. Usia tidak mampu melawan waktu. Getah  telah kering dan tersendat-sendat, seperti tubuh renta tersengal-sengal dijejali gumpalan lunak udara. Apa lagi yang harus dipertahankan?

Datuk Yusuf menoleh pada Salim, “Mungkin kita memang harus menjualnya. Getah karet tidak bisa dihar­apkan lagi.”

Tak ada sahutan.Salim hanya menatap dengan lintasan mata yang tidak terpahami. Kemudian Datuk Yusuf meneruskan bicara. Diceritakannya pencuri yang mengam­bil getah sebelum Fatimah menghilang.

“Kita harus menangkap pencuri itu, Tuk.”

Datuk Yusuf mengangguk. Ya, kita harus menangkapnya.

 

Selepas para pekerja perkebunan menyelesaikan rutinitas mereka, Datuk Yusuf dan Salim menunggu dalam remang, mengin­tai. Benar saja. Tak lama setelah itu, sesosok bayang melon­cat keluar dari belukar di sisi hutan raya. Satu, dua,  tiga mangkuk getah berpindah dalam kantung. Datuk Yusuf dan Salim berpencar. Mengendap-endap. Mendekati pencuri dari arah berbeda. Dalam keremangan yang samar, Datuk Yusuf bisa mengenali raut muka lelaki itu. Lanco, dia lelaki kemarin! Masih ada juga keberanian setelah ketahuan kemarin, geramn­ya. Dirabanya gagang gobang di balik pakaian. Jarak semakin dekat. Dekat. Agaknya pencuri itu tidak sadar sedang  dike­pung. Tapi dugaan mereka keliru. Belum lagi Datuk Yusuf dan Salim menyergap, sebuah suara bariton mendahului.

“Lari!”

Laki-laki itu sadar akan bahaya yang mengancam. Detik itu juga bayangan lain muncul dan menerjang ke arah Salim. Salim terpelanting menghindar. Ternyata bayangan itu tidak benar-benar ingin menyerang. Dia cuma mencari peluang bagi te­mannya agar bisa meloloskan diri. Bersamaan itu sosok-sosok lain berkelebatan di sela pokok-pokok karet. Sebelum Datuk Yusuf dan Salim tersadar dari kebingungan, mereka telah hilang di tepi perkebunan. Datuk Yusuf memaki tidak karuan. Mereka telah terperdaya.

“Kita gagal, Tuk. Saya tidak menyangka mereka sebanyak itu,” sesal Salim.

“Aku akan membunuh mereka kalau kena tangkap.”

Mereka menghilang di balik semak-semak. Ingatan Datuk Yusuf melayang pada setapak yang ditemukan kemarin. Setapak tersembunyi. Ia tidak akan menduga kalau di balik belukar ada setapak yang entah menuju ke mana. Padahal puluhan tahun ia tinggal di perkebunan. Ia yakin para pen­curi itu pasti lewat jalan itu. “Kita ikuti mereka.”

“Menyusur jalan setapak yang Datuk ceritakan itu?”

Mereka menerobos rumpun perdu. Menjumpai setapak yang diinginkan. Di pertigaan, tempat Datuk Yusuf dulu berbalik, mereka mengambil arah kanan karena jalan itu tampak lebih jelas. Jadi pasti lebih sering dilewati. Dugaan itu benar. Setelah dua puluh menit menyusur kelokan tiada ujung, mereka menemukan sebuah rumah papan. Di depannya terhampar tanah luas yang belum ditanami apa-apa. Sebuah buldoser penghancur terdiam di sisi kanan halaman. Mereka merunduk-runduk mendekati rumah. Ilalang setinggi tubuh manusia menjadi pelindung.

Sayup-sayup percakapan terdengar.

“Hampir kena tangkap lagi, Bah. Untung kita sudah siap hingga bisa memperdaya mereka,” kata sebuah suara. “Tidak banyak getah karet yang bisa kami ambil.”

“Tak apa-apa,” itu suara Haji Abbas. “Besok hentikan usaha kalian, biar Datuk Yusuf tidak curiga pada kita. Lusa baru lakukan pekerjaan kalian lagi. Aku ingin perkebunan karet itu jatuh ke tanganku!” tawanya terdengar menggema.

Datuk Yusuf dan Salim menahan geram. Rasanya ingin merobek mulut haji laknat itu. Mencincangnya dan menebarkan potongan-potongan tubuhnya ke seluruh tanah perkebunan.

“Buang getah itu. Kita tidak membutuhkannya,” perintah Haji Abbas.

Geletar marah Datuk Yusuf naik ke ubun-ubun. Tangannya yang basah oleh keringat  menarik gagang gobang. Dia hampir saja menerjang ke dalam rumah kalau Salim tidak menahannya.

“Tidak ada gunanya berbuat begitu, Tuk. Masuk ke sana sama saja bunuh diri. Mereka terlalu  banyak.”

“Aku akan memecahkan kepala Haji laknat itu!”

Salim menyilangkan telun­juk di bibir. Kalau pembicaraan mereka terdengar, habis sudah.

“Kalau sebelum musim hujan tahun ini, perkebunan karet sudah jatuh ke tanganku, Mungkin kita bisa melakukan penana­man bibit secara bersamaan,” sunyi sejenak. “Bagaimana pembersihan bonggol-bonggol sisa perkebunan karet di bagian utara?”

“Belum selesai, Bah.”

“Aduh, itu harus diselesaikan cepat, setelah itu pindah ke bagian timur, kita harus mengejar musim hujan.”

“Kita kekurangan tenaga, Bah. Tenaga yang ada tidak mencukupi.”

“Ambil tenaga lain.”

“Ada penduduk tempatan yang mau kerja.”

“Jangan penduduk tempatan. Bisa bangkrut aku karena harus membayar tunjangan kesehatan dan asuransi yang tinggi. Kita tidak bisa memakai tenaga sini. Wang dalam jumlah besar kusiapkan untuk mengambil alih perkebunan Datuk Yusuf. Jadi dana buat tenaga tidak boleh melebihi anggaran yang ada.”

Sesaat tidak ada suara. Wajah mereka pasti berkerut-merut mencari jalan keluar persoalan itu. Salim menjentikkan telunjuk. Dia tahu jawaban dari persoalan itu. Ditariknya lengan Datuk Yusuf menjauhi rumah. Semula Datuk Yusuf meno­lak dan bertekad menghadapi mereka. Tapi setelah Salim bisa meyakinkan untuk sebuah rencana yang lebih besar. Datuk Yusuf mau meninggalkan tempat itu.

 

Pos lintas batas Tebedu.

Salim mengetuk-ngetuk kaca jendela pelan. Seorang petugas lintas batas menoleh dan tersenyum padanya. Dibukan­ya pintu, dia masuk ke dalam. Mereka tertawa dalam percakapan yang menyenangkan. Datuk Yusuf menunggu di depan. Lelaki itu memperhatikan antrian orang-orang Indonesia yang mau melewa­ti pos perlintasan. Seorang dari mereka menoleh dan melambai pada Datuk Yusuf, seolah mau berkata, aku datang Malaysia. Mau tidak mau dia tersenyum, membalas lambaiannya.

Usai bercakap-cakap, Salim menghampiri Datuk Yusuf. “Kita naik ke atas, Tuk.”

“Apakah semua persoalan akan beres?”

“Aku kenal betul Kepala Lintas Batas Tebedu. Dia bukan orang yang sulit. Dan kesempatan ini akan terlalu sayang kalau dilewatkan begitu saja. Cukup melakukan sesuatu yang sederhana, dia sudah dapat bagian beberapa persen perkepala. Sangat mudah.”

Mereka naik ke lantai dua. Kesibukan di pos perlintasan masih terus berlangsung. Puluhan orang Indonesia berjajar di antrian dengan sabar. Mencapai negeri ringgit memang paling mudah dan paling murah lewat sini, lewat Tebedu-Entikong, perbatasan Indonesia-Malaysia. Tinggal memesan KTP (Kartu Tanda Penduduk) pada oknum setempat, seorang pelintas batas secara otomatis akan mendapat SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Dengan surat ajaib ini seorang pelintas batas masuk ke tanah Serawak dengan santai. Mudah dan tidak berbelit-belit. Pantas kalau tiap hari antrian panjang orang Indonesia terlihat tidak pernah sepi melewati celah bukit gersang ini.

Setengah jam berlalu, Salim dan Datuk Yusuf turun dari lantai dua. Mereka melintas halaman, mencapai lapangan parkir. Beberapa orang terlihat berjalan masuk bus yang akan membawa mereka entah kemana.

“Apakah awak yakin kita akan berhasil. Lim?”

“Percayalah padaku, Tuk.” Salim yakin sekali.

 

Haji Abbas membanting koran jengkel. Laporan Sholeh, kaki tangannya, benar-benar membuat bingung. Bagaimana bisa terjadi, semua pelintas batas dengan tujuan tidak jelas dicekal? Kenapa pos lintas batas mengeluarkan perintah aneh yang justru menghambat proyek diversifikasi besar-besaran perkebunan karet menjadi kelapa sawit? Sebenarnya bukan hanya peraturan itu yang merisaukan Haji Abbas, tapi bibit siap tanam sebelum hujan pertama turun. Semakin lama pem­bersihan tanah, semakin besar ongkos yang harus dikeluarkan.

“Bagaimana dengan bonggol sisa kebun karet, apa pem­bersihannya sudah lebih separuh dari luas lahan?”

“Belum mencapai separuh luas lahan, Bah. Itu pun sudah dikerjakan siang malam.”

Haji Abbas mengusap bintik-bintik yang meleleh di kening. Tuhan, bisa bangkrut aku. Dia menoleh pada Sholeh seperti berharap lelaki itu menemukan jalan keluar bagi persoalan rumit itu. “Kita hanya bisa mencari pekerja penduduk tempatan”

Haji Abbas tidak mengeluarkan suara. Lelaki itu bang­kit, berjalan mengitari meja dengan kalut. Irama kakinya tidak menentu seperti perasaan hatinya. “Bagaimana dengan perkebunan karet Datuk Yusuf? Apa dia sudah mengambil kepu­tusan untuk menjual perkebunannya pada kita?”

“Datuk Yusuf akan memberi keputusan hari ini. Tapi dia tidak mau memberikan keputusan pada saya. Dia ingin menyam­paikan langsung pada Abah. Karena itu Abah diundangnya sore ini ke sana.”

Haji Abbas mengangguk-angguk. Tergurat senyum samar di bibirnya. Sudah seharusnya perkebunan itu menjadi miliknya. Masa kejayaan getah karet sudah usai. Karet sudah jauh menurun di pasaran. Karena itu harus diganti. Lagi pula kalau pabrik pengolahan karet sudah dihancurkan, infrasrukturnya dibabat habis, mau kemana menjual dan mengolah getah karet? Perkebunan itu harus menjadi miliknya.

 

Senja menggantung di langit barat. Sosok Haji Abbas dan Sholeh membesar di kelokan jalan. Salim sedang membujuk Fatimah agar mau main ayunan. Tapi bocah itu tidak memberi reaksi menyenangkan. Dia tetap mematung di terundak rumah dengan mata terpaku pada hutan raya. Melihat kedatangan Haji Abbas, Salim segera meninggalkan Fatimah. Disambutnya Haji Abbas, dipersilahkan masuk.

“Ada persoalan mustahak, Abah, sampai menyempatkan diri kemari.”

“Tidak usah basa-basilah. Datuk tentu tahu maksud kedatanganku. Apa Datuk sudah mengambil keputusan untuk menjual perkebunan karet padaku?” Haji Abbas langsung pada pokok persoalan.

Suasana mati  seketika. Angin berbisik pada dedaunan karet. Suaranya seperti menggeram, timbul tenggelam. Sesaat kesunyian pecah oleh langkah Emak Ijah yang membawa  minuman ke depan dan meletakkan di atas meja. Perempuan itu segera kembali ke dalam dan hampir menabrak Fatimah yang berdiri di ruang belakang mencuri dengar pembicaraan. Emak Ijah mende­lik.

“Apa kita akan pergi dari sini, Mak?” tanyanya mendahu­lui sebelum Emak Ijah menyeret Fatimah menjauh.

“Tidak boleh mencuri dengar pembicaraan orang tua,” Emak Ijah memperingat­kan. Tapi Fatimah acuh dengan peringatan itu. Dengan mata berselimut kabut ia mengulang pertanyaan.

Emak Ijah menangkap nada sedih suara itu. Kemudian dia menggeleng. “Entahlah. Emak tidak tahu.”

“Ima ingin tetap tinggal di sini. Ima senang di sini.”

Emak menyilangkan telunjuk di bibir Fatimah, saat itu terdengar suara Datuk Yusuf dari luar.

“Sekarang keadaan sulit sekali, Abah. Harga karet sudah tidak bisa diselamatkan. Pabrik-pabrik pengolahan karet juga banyak yang tergusur. Seperti di barat pabrik-pabrik pengo­lahan kelapa sawit pasti segera didirikan. Tak ada lagi yang tersisa dari perkebunan karet.” Sejenak Datuk Yusuf menarik napas panjang. Kemudian meneruskan,  “Tapi untuk menjual perkebunan karet yang bertahun-tahun menjaga kehidupan kami, rasanya berat sekali. Sebenarnya aku tidak bermaksud mengha­langi Abah menanami seluruh tanah  Serawak dengan kelapa sawit. Sama sekali tidak, Abah. Tapi aku benar-benar tidak bisa melepas satu-satunya perkebunan yang kumiliki. Aku hanya bisa menyumbang tenaga bagi seluruh usaha besar Abah itu. Aku ada hampir seratus tenaga kerja siap pakai, itu pun kalau Abah mau. Abah bisa menggunakan tenaga mereka. Perkebunanku yang tidak begitu luas biar kuurus sendiri dengan Salim.”

Jelas sekali guratan kekecewaan di wajah Haji Abbas. Tidak pernah terbayangkan dia akan menerima penolakan seper­ti itu. Itu sama sekali di luar dugaannya. Sebelumnya dia berpikir, dalam keadaan yang serba susah Datuk Yusuf akan dengan mudah melepas perkebunannya. Nyatanya yang berkem­bang sekarang di luar jangkauannya.

“Berapa aku harus membayar seluruh pekerjamu!?” kesom­bongannyalah sekarang yang berbicara.

“Terserah Abah saja.”

Haji Abbas terdiam sejenak. Kemudian menyebut angka-angka dalam ringit.

“Terserah Abah saja. Malah kalau Abah mau saya akan membantu mencarikan tenaga kerja lain untuk menyelesaikan perkebunan kelapa sawit seperti yang sudah Abah rencanakan. Saya akan senang sekali kalau bisa membantu, Abah.”

Selepas kesepakatan-kesepakatan yang lain, Haji Abas meninggalkan rumah. Masih dengan kesombongan yang sama, Sholeh mengikut di belakangnya. Datuk Yusuf menepuk bahu Salim. Semua berjalan sesuai yang direncanakan.

Sejak saat itu, Datuk Yusuf bertindak sebagai broker atau tekong darat yang menyalurkan pencari kerja pada perke­bunan yang membutuhkan. Perkebunan karetnya sendiri tidak pernah diusik-usik lagi. Dibiarkan begitu saja. Luka-luka bekas sadapan dibiarkan sembuh dan mangkuk-mangkuk penampung getah dibiarkan kering. Tanpa luka, pokok-pokok karet tumbuh subur. Daunnya rimbun, menghijau.

Di pojok perkebunan, di tepi hutan yang agak tersembun­yi, di tebang beberapa pokok karet. Di situ dibuat tangsi kayu untuk menampung calon-calon tenaga kerja yang baru melintas perbatasan.

Pada akhir tahun 80-an, Datuk Yusuf berhasil menyuplai hampir seluruh tenaga kerja untuk wilayah negara bagian Serawak dan Sabah. Tanpa getah karet, hidupnya jauh lebih makmur kini.